Tanggal 14 Februari bukan hari yang biasa. Di hari itu, banyak orang merayakan Hari Valentine, terutama buat yang sudah punya pacar atau suami/istri. Khusus untuk itu, mereka menunjukkan cinta kepada orang terkasih dengan cara yang lebih ekspresif dibandingkan hari-hari biasanya. Ada pemberian coklat, bunga, boneka atau kado-kado lainnya. Tak lupa juga, ajakan untuk makan malam romantis dengan cahaya lilin atau yang lebih keren disebut candle-light dinner.

Di ruang publik, Hari Valentine ikut dirayakan. Dekorasi bertema hati dan berwarna pink memenuhi pusat perbelanjaan, restoran atau taman-taman. Beberapa toko bahkan sengaja bikin promo khusus Hari Valentine dengan bagi-bagi diskon untuk barang-barang tertentu.

Di sisi lain, banyak juga orang di Indonesia yang bilang kalau Hari Valentine itu gak perlu terlalu heboh dimeriahkan karena itu bukan budaya bangsa Indonesia. Ya, memang benar bahwa Hari Valentine asal muasalnya adalah dari Eropa. Lalu tahukah kalian kalau bangsa kita justru punya budaya yang jauh lebih romantis daripada Hari Valentine?

Tidak berlebihan kalau Bangsa Indonesia disebut punya budaya yang paling romantis di dunia. Kok bisa? Berikut ini lima alasannya.

1. Menari untuk memaknai cinta

Tari Serampang Dua Belas via http://medanlook.blogspot.co.id

Salah satu bagian penting dari kehidupan orang Indonesia adalah menari. Kita menari dalam berbagai acara, mulai dari syukuran kelahiran bayi, pernikahan, menyambut tamu, sampai perayaan pasca panen. Di antara itu, ada banyak tarian dari berbagai daerah di Indonesia yang latar belakang penciptaannya atau gerakan-gerakannya memiliki makna tentang cinta, misalnya:

a. Tari Serampang Dua Belas (populer di daerah-daerah dengan budaya melayu di Sumatera).

Tari ini mengisahkan asmara seorang pemuda dan gadis pujaannya. Gerakan-gerakan pada tarian ini adalah gambaran pertemuan mereka hingga keduanya menjalin cinta dan akhirnya menikah.

b. Gerakan Lalayaan pada Tari Maengket (Sulawesi Utara)

Tari Maengket terbagi jadi beberapa jenis gerakan. Masing-masing gerakan mengandung makna dan tujuan yang berbeda-beda. Salah satunya adalah gerakan Lalayaan yang menggambarkan perjalanan cinta para bujang gadis Minahasa.

c. Tari Karonsih (Jawa Timur)

Tarian yang umumnya ditampilkan di acara pernikahan Jawa ini bercerita tentang kisah cinta dan juga kerinduan Dewi Sekartaji yang sedang ditinggalkan oleh suaminya Panji Asmara Bangun.

2. Menyanyi ketika sedang dilanda asmara

Advertisement

Nona Manis Siapa Yang Punya? via https://benyaminlakitan.com

Ada puluhan lagu daerah di Indonesia yang kaya akan lirik romantis. Lagu-lagu itu dinyanyikan untuk orang yang dicintainya dalam berbagai suasana, baik sedih maupun senang. Beberapa lagu sudah sangat populer se-Indonesia dan bahkan dinyanyikan oleh grup paduan suara di perlombaan berskala internasional. Tiga lagu ini adalah contohnya:

a. Potong Bebek Angsa (Nusa Tenggara Timur)

Lagu yang terkenal di kalangan muda-mudi ini adalah bentuk ajakan kepada sang pujaan hati untuk berdansa. Ciyyee….

b. Anging Mamiri (Sulawesi Selatan) dan Bubuy Bulan (Jawa Barat)

Dua lagu dari dua daerah yang letaknya terpisah jauh ini punya kesamaan makna pada liriknya yaitu penyampaian rindu pada orang terkasih.

c. Nona Manis Siapa Yang Punya (Maluku)

Orang Indonesia itu jago memuji dan merayu sampai klepek-klepek. Salah satu rayuan dahsyatnya bisa terlihat pada lagu pergaulan ini.

3. Adat pernikahan di Indonesia sangat romantis

Pagar Pengantin via http://mahligai-indonesia.com

Tidak ada acara pernikahan di dunia ini yang tidak romantis. Tapi di Indonesia, pernikahan yang menggunakan adat daerah pasangan pengantin, punya sisi romantis yang unik dan bahkan katanya, jauh lebih mengena di hati. Inilah beberapa di antaranya:

a. Dahar Klimah atau Dulangan (Jawa)

Salah satu bagian dari resepsi pernikahan adat Jawa ini, mempelai pengantin saling menyuapi. Suap-suapan nasi dengan mesra itu dilakukan sebanyak tiga kali. Ini adalah kiasan perpaduan kasih sayang kedua pasangan yang akan saling mengisi dalam kehidupan rumah tangga nantinya.

b. Kawin Culik (Suku Sasak, Nusa Tenggara Barat)

Untuk meminang perempuan pujaan, seorang laki-laki di Suku Sasak harus menjalankan tantangan yaitu menculik calon mempelai perempuan dari kamar di rumahnya. Tapi bukan sembarangan menculik lho! Karena ini adalah satu-satunya perbuatan penculikan yang diperbolehkan adat, maka ada aturan permainan yang telah diatur oleh adat dan disepakati kedua mempelai. Tradisi yang sudah turun-temurun dari zaman dulu ini adalah bukti pengorbanan cinta dan sekaligus menjadi tanda kesungguhan laki-laki dalam mengajak kekasihnya menikah. 

c. Pagar Pengantin (Sumatera Selatan)

Dalam salah satu tahapan upacara pernikahan adat Palembang, Sumatera Selatan, pengantin wanita akan menari dengan diiringi oleh penari lain yang berjumlah empat hingga enam orang. Tari ini disaksikan oleh mempelai pria yang berdiri di luar lingkaran tarian. Hal ini menggambarkan bahwa mempelai wanita siap memasuki kehidupan rumah tangga, sedangkan mempelai pria sebagai kepala keluarga akan membimbing dan melindunginya. So sweet!

4. Orang Indonesia punya banyak simbol cinta

Setia seperti roti buaya via https://kateringbetawi.wordpress.com

Para perempuan mendadak jadi ceria dan tersipu-sipu karena diberi bunga mawar merah atau cokelat oleh pasangannya. Dua barang ini sudah kondang jadi simbol perasaan cinta seseorang kepada kekasihnya. Di Indonesia, ada banyak simbol cinta lainnya yang berakar dari kearifan lokal dan kaya akan nilai filosofis, di antaranya:

a. Roti Buaya (Betawi)

Ini adalah perlambang kesetiaan pada satu pasangan dalam menjalani pasang surut kehidupan. Roti ini terinspirasi dari kisah tentang buaya jantan yang hanya memiliki satu pasangan betina dalam hidupnya. Buaya itu konon memang anti poligami.

b. Batik bermotif Truntum (Jawa Tengah)

Motif truntum mempunyai bentuk gambar bunga abstrak seperti kuntum bunga atau taburan bintang. Motif ini diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana, seorang permaisuri Sri Sunan Pakubuwana III dari Surakarta, Jawa Tengah. Makna dari motif ini adalah sebagai ungkapan perasaan cinta yang tulus dan mendalam kepada pasangan hidup.

5. Melimpahnya cerita rakyat tentang percintaan

Beauty and the Beast of Indonesia via http://dongengceritarakyat.com

Hampir semua orang Indonesia kenal kisah yang menjadi cerita rakyat, setidaknya di daerah tempat tinggalnya. Beberapa kisah adalah peristiwa nyata berbasis fakta sejarah yang terjadi di masa lalu. Sebagian besar adalah legenda yang menjadi buah bibir di masyarakat dan telah turun-temurun diceritakan sejak generasi-generasi sebelumnya.

Kisah percintaan adalah hal yang sangat banyak ditemui di cerita rakyat orang Indonesia. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

a. Loro Djonggrang dan Bandung Bondowoso

Kisah kasih tak sampai Bandung Bondowoso pada Loro Djonggrang yang cantik jelita. Loro Djonggrang mengajukan permintaan untuk dipenuhi sebagai syarat Bandung Bondowoso memperistrinya. Permintaan itu hampir saja berhasil diwujudkan, apabila tidak digagalkan dengan dramatis oleh Loro Djonggrang. Di akhir cerita, sang puteri diubah oleh Bandung Bondowoso menjadi patung untuk melengkapi seribu candi yang belum rampung dibangun.

b. Jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan

Perjalanan cinta Jaka Tarub, seorang pemuda desa biasa yang kasmaran pada bidadari berparas ayu dari kahyangan. Jaka Tarub mencuri selendang bidadari bernama Dewi Nawang Wulan yang sedang mandi di Danau Toyawening. Sang dewi tidak bisa pulang ke kahyangan dan tinggal di bumi. Jaka Tarub pun berhasil mempersunting Dewi Nawang Wulan dan keduanya punya anak bernama Nawangsih. Kisah cinta keduanya berakhir setelah sang dewi menemukan selendangnya yang disembunyikan oleh suaminya di lumbung padi. Jaka Tarub harus patah hati karena kemudian ditinggal pergi Dewi Nawang Wulan yang kembali ke kahyangan.

c. Lutung Kasarung dan Putri Purbasari

Banyak orang menyebut ini adalah cerita “Beauty and the Beast”-nya Indonesia. Pangeran tampan yang gagah harus menerima kenyataan dihukum menjadi berwujud lutung (kera dengan bulu lebat berwarna hitam legam dan berekor panjang) dan dibuang ke bumi karena telah melakukan kesalahan di kahyangan. Di hutan, Lutung bertemu dengan Putri Purbasari yang sedang diasingkan dari istana oleh kakaknya yang jahat. Berkat ketulusan dan cinta sejati Putri Purbasari dan Lutung, maka si lutung terbebas dari hukuman. Keduanya hidup bahagia selamanya di istana.