Saat usia telah genap untuk menikah, persiapan fisik tidak kalah penting selain juga persiapan mental.

Akhirnya, setelah memantapkan niat di usia ini untuk tidak sama sekali melihat laki-laki lain, untuk kemudian merasakan cinta hanya kepada dia, calon imammu, maka kamu siap untuk menikah.

Semua ini hanya dengan izin-Nya, sehingga kamu tidak lagi merasakan debaran jantung pada siapapun lagi selain hanya kepada dia, calon imammu di masa depan nanti. Semoga Allah memantapkan niatan muliamu ini.

Semua proses yang terjadi dalam perjalanan kehidupan sampai detik ini tentu membuatmu bahagia sekali. Kamu hanya bisa bersyukur pernah memiliki pengalaman cinta-cintaan, sahabatan, adik-kakakan, atau apapun itu sebutannya. Karena Allah telah izinkan rasa cinta bercokol dalam hatimu pada siapapun selama ini, rasa cinta itu fitrah dan wajar, namun tentulah kamu hanya akan meraih ridho-Nya dengan menikah.

Atas semua penantianmu selama ini, sembari menanti dia kamu terus berkembang sebagai perempuan dewasa yang matang terlebih dahulu. Setelah semua proses memantaskan diri selama ini akhirnya kamu lebih memahami makna cinta yang sebenarnya. Bahwa ketika kita berprasangka baik pada Allah untuk apapun yang sudah dan akan terjadi dalam hidup ini, maka yang datang hanyalah balasan kebaikan.

Allah telah menskenariokan semuanya, dan Allah pula yang menggenggam hati hamba-Nya. Semoga hanya karena Allah sebagai pondasi awal kamu jatuh cinta pada dia, seorang laki-laki yang serius akan memegang komitmen seumur hidup padamu ini.

Apa yang harus kamu lakukan nanti? Berganti status dari seorang jomblowati menjadi istri itu pasti banyak banget perubahannya kan? Apa yang harus dilakukan?

Diantaranya berikut ini:

 

1. Jangan Berharap Terlalu Muluk-muluk

Yang mengikat itu akad, bukansekedar puisi, bunga apalagi coklat!

Yang mengikat itu akad, bukansekedar puisi, bunga apalagi coklat! via http://www.rumahtaaruf.com

Karena sekarang kan sekarang belum menikah, belum punya apa-apa, jadi jangan terlalu muluk-muluk kita mengharapkan kelak punya rumah dengan halaman luas yang bisa dipakai buat nanam sayuran sama bunga, berharap sudah tersedia banyak mobil di garasi, dll. 

Hati-hati, hal ini bisa menjadi bibit timbulnya percekcokan, lho. Jalani saja dulu secara sederhana, apa adanya, cinta memang tak bisa dimakan, tapi rezeki orang yang sudah menikah itu kelak akan mengalir seperti air, percaya deh sama janji-Nya!

Sebagai seorang istri, jelas saja kita boleh mempunyai impian ingin punya ini, punya itu, tetapi jangan jadikan impian kita menjadi suatu hal yang harus ada saat menikah. langsung ada begitu saja.

Bersabarlah, sebab menikah bukan berarti pindah ke “dunia lain”. Duniamu tetap sama saja, hanya saja sekarang ada hak-hak serta kewajiban baru yang harus dipenuhi olehmu.

2. Tidak Perlu Memaksakan Untuk Menjadi Yang Terbaik Di Segala Hal

Romantis itu aku sama kamu, cukup!

Romantis itu aku sama kamu, cukup! via https://poskostudio86.files.wordpress.com

Terkadang kita berusaha terlalu keras untuk menyenangkan semua orang. Apalagi untuk suami. Juga keluarga besar yang tentu sudah semakin bertambah anggotanya.

Namun berusaha membuktikan diri bisa menjadi ibu rumah tangga yang sempurna di mata suami, sembari berharap tetap menjadi sosok istri yang bisa menyenangkan semua orang itu tidaklah mudah..

Memang kalau bisa begitu adalah hal yang sangat bagus. Tentu saja itu adalah impian semua perempuan. Namun, apapun yang kadarnya berlebihan, pasti ada side-effect-nya. Misalnya saja stress. Kalau kita sebagai istri dan ibu dari anak-anak saking inginnya selalu tampak baik kemudian dipendam semua amarah-kekesalan maka pastilah kelak akan stress, jika sudah demikian mereka pula yang akan ikut terkena dampaknya.

Berusahalah untuk terus menjadi yang terbaik, sebab itu sangat disarankan. Tetapi jika memang sudah mencoba dengan maksimal dan gagal dalam menjadi terbaik di segala hal, maka tidak ada salahnya memilih salah satu. Jangan gengsi cuma jadi ibu rumah tangga yang totalitas ngurus anak-anak saja, meskipun kemudian di mata keluarga besar, tetangga atau teman-teman kita tidak sebaik yang mereka inginkan.

3. Utarakanlah Perasaan Yang Sebenarnya

Utarakanlah apa yang kau rasa!

Utarakanlah apa yang kau rasa! via http://vemale.com

“Kamu kenapa?” Tanya suami.

“Ngga papa.” Jawab kita sambil cemberut.

Dear kamu calon istri yang katanya kepengen jadi sholehah seutuhnya, suamimu itu bukanlah mind reader. Memendam perasaan dapat menyebabkan stress loh. Stress yang berwujud dalam bentuk omelan dan berbagai perilaku buruk lainnya justru akan memperburuk keadaan antara kamu dan sang suami tercinta..

Dengan cemberut justru menimbulkan aura negatif di depan suami. Maka sejak saat ini berlatihlah untuk berbicara asertif. Asertif adalah sikap jujur terhadap diri sendiri, menyatakan apa yang dirasakan, tanpa merugikan orang lain.

Katakanlah apapun yang membuat kita merasa tidak nyaman dengan cara yang baik. Bersikap asertif merupakan win win solution: kita dapat menyatakan perasaan yang sebenarnya dan suami pun menjadi paham atas ketidaknyamanan kita atas suatu hal.

Okey?

4. Berikan Suami Ruang Pribadi

me time bisa jadi our time

me time bisa jadi our time via http://vemale.com

Suami tetaplah manusia yang butuh Me Time. Hanya karena kita menikah dengannya bukan berarti ia tidak lagi membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Coba beri suami waktu untuk sesekali bergaul dengan teman-temannya atau melakukan hobinya.

Di saat suami melakukan me time-nya, kita juga dapat melakukan me time untuk diri kita sendiri toh? Membaca buku kesukaan, mendengarkan lagu favorit atau bahkan mempercantik diri dengan pergi ke salon..

5. Jangan Mencoba Untuk Menjadi “ibunya”.

Cintai mertua sama dengan cintai suami juga!

Cintai mertua sama dengan cintai suami juga! via http://makassar.tribunnews.com

Yang namanya lelaki tentulah tidak serapi perempuan dalam mengurus seisi rumah. Ada tipikal laki-laki yang (terkesan) sangat cuek: tidak tahu cara menjaga rumah agar tetap bersih, kemudian menggantung handuk di kamar mandi begitu saja, menaruh baju kotor tidak di tempatnya, dan berbagai kebiasaan “tidak seharusnya” itu karena memang sudah menjadi kebiasaan selagi membujang, dan karena terbiasa mengandalkan Ibunya yang terbiasa ada untuk mengomelinya.

Jika kita ingin mengubah kebiasaan buruk suami, lakukanlah secara bertahap. Omelan-omelan terhadap segala hal buruk yang dilakukannya bisa jadi membuatnya “gerah” berada di sekitar kita.

Syukur-syukur kalau sang suami bisa mengerti, nah kalau tidak? Makanya kudu belajar taktik dari sang mertua juga bersabar akan tahapan dalam berumah tangga ya Dear..