Tuhan menciptakan apa-apa di dunia ini agar manusia mengambil pelajaran daripadanya. Agar mampu memaknai kehidupan dari apa-apa yang kita temui, apa-apa yang kita rasa, dan apa-apa yang menimpa kita. Kemudian kita menafsirkan filosofi dan jadi bijaksana dalam mengambil alih implementasinya dalam kehidupan, sebagai bentuk kesyukuran kita kepada Tuhan yang telah melimpahkan akal untuk berpikir.

Dalam hidup, setiap orang pasti ingin menjadi bintang (red: juara). Namun sudahkah kita mampu memaknai filosofi bintang yang Tuhan ciptakan di langit kita?

Janganlah mengira para pemenang dikarenakan tertakdir untu menang. Masalah takdir tidak memberi peran apapun. Mereka bukan pengkhayal, yang berharap terbaik hanya dengan menanti tanpa aksi. Mereka adalah pejuang, yang selalu bangkit mengejar impiannya dan memperjuangkan hingga kemenangan mereka genggam.

Ini tentang hidup. Ada kalanya kita harus berlari sekencang mungkin mengejar impian. Namun ada saat-saat dimana kita pun harus berhenti sejenak. Pun terkadang kita memang diharuskan mundur barang satu atau dua langkah. Apakah kita kalah saat itu? Oh, tentu tidak!

Bagaimana tidak? Karena mundur dimanfaatkan sang bintang untuk mempersiapkan langkah selanjutnya dengan lebih maksimal. Maka, inilah sebuah proses. Maka, inilah yang ternikmat dalam perjalanan. Inilah yang akan menyejarahkan bahagia.

Mari sejenak berguru pada alam. Belajar dari sesuatu yang nampak begitu kecil dan tidak berharga, bintang. Menjadi pemburu bintang.

 

1. Memaknai sebenar-benarnya kesetiaan.

Tetaplah setia pada Tuhanmu

Tetaplah setia pada Tuhanmu via https://anismila.blogdetik.com

Pada sang bintang kita belajar. Tentang arti sebuah kesetiaan. Cahayanya tak pernah lelah berbinar, meski seringkali tercampakkan. Mungkin kadang kala, ia tak nampak dari bumi kita berpijak. Namun bukan berarti ia tiada. Ia masih saja setia menemani langit malam. Hadirnya itu selalu. Ia tak jengah bersinar, meski cahayanya terampas oleh bias sang rembulan.

2. Menyibukkan diri dalam kebermanfaat.

saling menggenggam menuju jalan Tuhan

saling menggenggam menuju jalan Tuhan via https://www.voa-islam.com

Dari sang bintang kita mendapat pelajaran. Tentang sebuah kebermanfaatan. Betapa murahnya kita selama ini.  Sudahkah kita menjadi setitik bintang? Yang hadirnya selalu, tetapi balasan baik tak selalu ia dapati. Sanggupkah kita menjadi sang bintang? Yang sedia diabaikan, disingkirkan, atau dilupakan. Bersama jutaan gemintang, berbinar menerangi cakrawala. Mereka tak pernah berebut. Namun mereka sama-sama mempersembahkan cahaya terbaiknya pada bumi. Meski setelah ia keluarkan segala kuasanya menerangi bumi, ia akan jatuh dan tiada lagi. Ia tak pernah pamrih. 

3. Melipatgandakan kelapangan hati

Karena sang bintang, kita pantas introspeksi diri. Tentang arti sebuah kebesaran dan keikhlasan hati. Terlenakah kita bila cukup menjadi sang rembulan? Yang hanya ingin selalu dipuji manusia. Akan tetapi tiada sadar, ia tak mampu memberi kehangatan. Ya, sedang sang bintang, beri sejuta manfaat meski tak terlihat.

4. Menggelorakan semangat

Untuk sang bintang, kita harus terus belajar. Tentang arti kegigihan. Terus berjuang, sinari bumi. Memang terkadang ia nampak redup atau bahkan tiada. Namun ia tak pernah menyerah berada di langit. Ia terus pancarkan cahayanya.

5. Menikmati proses di dunia antara.

Perjalanan memang tak mudah

Perjalanan memang tak mudah via https://www.instagram.com

Oleh sang bintang, kita mengerti tentang sebuah proses perjalanan. Hingga di suatu kala, ia hadir sebagai bintang yang paling terang. Memang betul, segalanya butuh proses. Ya. Layaknya sang bintang, ia terus memantaskan diri mencapai tujuan utamanya. Perlahan ia tapaki langit dengan kegagahan. Awalnya ia nampak tiada, lalu meredup, hingga ia mampu tampakkan keindahan.