Tulisan ini terinspirasi dari curhatan seorang teman yang sudah 15 tahun menikah. Namun belum juga dikaruniai buah hati

Memang benar masalah tidak akan pernah ada habisnya dalam kehidupan kita. Saat kuliah, ditanya kapan wisuda? Setelah Wisuda, ditanya kapan dapan kerja? Setelah mendapatkan pekerjaan, ditanya kapan Menikah? Setelah menikah, ditanya kapan punya anak? Setelah punya anak masih ditanya kapan menimang cucu? Itulah siklus kehidupan kita yang tidak pernah ada habisnya.

 

1. Pertanyaan Kapan Hamil itu Menyakitkan Bagiku

Salah satu tujuan pernikahan adalah untuk bisa mendapatkan keturunan sebagai penerus generasi kita. Bersykurlah mereka yang baru satu bulan menikah sang istri langsung "isi". Bersabarlah bagi perempuan yang sudah sekian tahun bahkan belasan tahun menikah belum juga memiliki momongan. Lantas haruskan kalian mencapku "mandul"?

Awalnya pertanyaan kapan hamil merupakan suatu hal yang tidak perlu aku tanggapi. Lama kelamaan, aku dibuat risih olehnya. Bukannya aku dan suami tidak ingin memiliki anak. Tuhan mengatakan kami harus bersabar.

2. Kalian Tidak Pernah Tau Usaha Apa yang Sudah Kami Lakukan

Test Kesuburan

Test Kesuburan via https://www.google.co.id

Memang kalian hanya tau kulit luarnya saja. Namun kalian tidak pernah tau usaha apa yang sudah kami lakukan. Terapi apa yang sudah kami jalankan untuk bisa mendapatkan kehadiran seorang buah hati.

Bagimu yang bisa langsung hamil mungkin mudah untuk mengatakan kalimat "Kapan hamil?". Tahukah kamu bagaimana rasa kecewa yang aku rasakan disaat ada 2 garis merah pada test pack? Setelah satu bulan kemudian aku keguguran? Tahukah kamu bagaimana susahnya membangun rasa percaya diri untuk meyakinkan diri kalau saya bisa mendapatkan keturunan?

3. Jangan Permalukan Aku pada Acara Keluarga

Family Gathering

Family Gathering via https://www.google.co.id

Aku ingin berusaha untuk sabar menerima pertanyaan kapan hamil dari orang luar. Namun jangan permalukan aku pada acara keluarga yang seharusnya diisi oleh kecerian dan kebahagian harus kalian nodai dengan pertanyaan yang sama setiap kali kita berkumpul

Si Nita baru satu bulan nikah udah isi. Kamu kapan menyusul?

Sekali lagi, hamil bukan perkara pacu lari. Siapa yang paling kencang maka ia pemenangnya. Tatapan mata kalian yang tertuju padaku seolah mengindikasikan aku bukanlah perempuan yang subur,  tidak bisa memberikan keturunan. Memang dimata kalian hanya sekedar pertanyaan iseng belaka. Namun, pertanyaan itu yang membuatku rapuh.

4. Doa Kalian Lebih Kami Butuhkan dibanding Pertanyaan Kapan Hamil

Berdoalah untuk kebahagian kami

Berdoalah untuk kebahagian kami via https://www.google.co.id

Tidak banyak yang aku minta dari kalian. Daripada bertanya kapan dan kapan yang semakin hari membuatku terpukul, lebih baik doakan saja. Supaya Tuhan segera mengirimkan buah hati untuk bisa hadir dalam kehidupan kami.

Aku tidak ingin silahturahmi kita yang selama ini terbina dengan baik harus rusak oleh pertanyaan-pertanyaan kalian terkait kapan hamil.

Jika kalian tetap memaksa, maka kami hanya bisa bersabar dan tetap berserah diri.

5. Anak Itu Tidak Harus dari Rahimku

Jika kami telah berusaha dan berdoa semampu kami. Hitung tahun hingga belasan tahun, Tuhan tidak juga menghadirkan buah hati kedalam rahimku. Mungkin ini cara Tuhan untuk mengatakan bahwa ada anak kecil di luar sana yang membutuhkan hangatnya pelukkanku.

Memang aku akan mendapatkan banyak kecaman dan hujatan untuk memilih anak angkat dalam hidup kami. Ini keputusanku dan suami. Kami bahagia.