Seperti itulah kira-kira iklan layanan masyarakat yang pernah saya dengar di salah satu radio ternama. Merasa tua kah Anda? Yuk liburan!

Duh. Allah menciptakan teman disekitarmu untuk apa coba? Untuk menemanimu yang kesepian Jons! Beruntunglah saya memiliki teman yang mau diajak jalan. Lebih tepatnya saya sih yang menemani, karena dia berasal dari Muba Palembang. Ceritanya ia ingin bersilaturrahim kepada temannya di Malang Jawa Timur dan Buleknya di Kebumen Jawa Tengah.

 

1. Ciputat-Jombang, 21-22 Febuari 2016

Saat senja, diambil ketika di ruang restorasi kereta

Saat senja, diambil ketika di ruang restorasi kereta via http://enjahelbantani.blogspot.co.id

"Everything is must be prepared well"

Pagi yang mendebarkan, waktu terus berputar. Kaki ini masih menempel di bumi Ciputat, mecium aroma khasnya, menikmati gaungan kebisingan kendaraan yang berjejer memadati jalanan. Memang benar, segala sesuatu harus dipersiapkan sebaik mungkin. Sekitar 2 jam lagi, kereta yang saya dan Nuril naiki akan berangkat. Niat mengeluarkan uang seminimal mungkin menjadi pertimbangan kami kalau harus naik mobil biru ber AC, alias taksi menuju stasiun pasar senen. Alhasil setelah survei harga motor online, akhirnya kami menyerah. Lebih memilih transportasi sejuta umat, yakni kopaja. Barang yang kami bawa tidak banyak, hanya satu tas ransel dan tas selempang. Setelah menaiki angkot menuju pasar jumat, kami turun tepat dihadapan bus kopaja yang sedang nge-tem. 

"Aduhh nge-tem njah, gimana nih? Pasti lama. Naik taksi aja apa? Takut nggak kekejar keretanya."

"Iya, boleh ril. Tapi mahal pasti, gagal nanti ngehematnya"

"Pesen ojek aja tah?"

"Iya wes, ojek aja."

Selang beberapa menit, tiba-tiba kopaja yang berada didepan kami mulai jalan secara perlahan. Aku dan Nuril sangat terkejut melihat bis putih hijau tersebut jalan. Tanpa ba bi bu, kami langsung menyebrangi jalan yang terlihat lumayan padat oleh kendaraan. Layaknya film action, aku menepuk-nepuki bis kopaja dari jarak sekitar 8 meter, namun bis kopaja tersebut tetap melaju. Seolah tak melihat lambaian tangan kami. Tiba-tiba ada seorang pengamen yang masuk kedalam bis, akhirnya bis berhenti untuk beberapa detik. Waktu yang sangat cukup untuk kami berlari mencapai pintu belakang bus tersebut. Seolah tak menghiraukan lagi kendaraan yang berada dibelakang tubuh ini. Happ! Syukurlah kami berdua dapat masuk kedalam bis yang ternyata sudah hampir terisi penuh. Sangat berbeda suasananya ketika kita melihatnya pertama kali. 

Tepat setengah jam sebelum kereta berangkat, akhirnya kita sampai di stasiun pasar senen. Terlihat antrian panjang para penumpang yang sedang mencetak tiket kereta. Aku segera memasuki antrian, berusaha menyingkat waktu yang tersisa. Kemudian kami memasuki gerbong 8 kereta api tanpa membawa logistik sama sekali. Yess! ancaman untuk membeli makanan warteg harga selangit. Seandaninya dipersiapkan sebelumnya, ya nggak Ril? 

Tepat pukul 10.30, kereta api gaya baru malam meninggalkan stasiun pasar senen. Wow amazing! entah memang mesin kereta ini sudah disetting berangkat sesuai dengan jadwal di tiket atau memang kedisiplinan bapak masinis? Gausah dipikir, nikmati saja perjalanan ini. Melewati hijaunya sawah saat senja disertai rintik hujan, it's romantic! 

Kursi-kursi terisi penuh, berbagai ras manusia dengan tujuannya masing-masing. Tak ada pekerjaan yang lebih afdhol dilakukan selain tidur. Mata mulai lelah menikmati ukiran indah novel hujan bang darwis, kepala yang ingin selalu bersandar jika mata ini ingin terlelap sempurna. Sengaja aku meminta izin kepada Nuril untuk bersandar dipundaknya. Sebagai pancinganku untuk berada pada posisi yang nyaman. Kereta terus melaju cepat, sesekali berhenti sejenak di stasiun yang dilewati. Menurunkan penumpang dan menaiki penumpang lagi dari daerah tersebut. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, ini berarti butuh sekitar waktu 60 menit untuk sampai di tanah para santri, para pejuang NU. Yapp! Jombang.

Aku menoleh ke samping, memandangi Nuril yang sudah tidur dengan lelapnya. Berulang kali tangan ini menutup mulut yang tak hentinya menguap. Menahan kantuk, demi tak terulanginya kembali kejadian semester lalu. "Hampir keblabasan stasiun". Berbagai pekerjaan yang memungkinkan aku lakukan, dari sekedar membaca novel, mendengarkan musik hingga makan makanan ringan demi membuat kelopak mata ini terangkat, walau mata ini sudah tercipta sayu.

Finally! Touch down Jombang! Traveling dimulai! Bismillah.

2. Pacet, Mojokerto 23 Febuari 2016

Foto bersama dede didepan pintu masuk 7th MBF

Foto bersama dede didepan pintu masuk 7th MBF via http://enjahelbantani.blogspot.co.id

Berniat untuk menyambangi adik tercinta yang kebetulan mondok di MBI Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, sekalian mengenang masa-masa mbi book fair 2 tahun silam. Pagi-pagi kami sudah bersiap-siap  melaksanakan niatan yang memang sudah aku pasang jauh-jauh hari. Jalanan menuju desa kembangbelor tersebut sudah cukup jauh berbeda ketika zamanku dulu. Kini jalanan mulus dengan coran layaknya jalanan tol ibukota (alay). Tak ada yang berbeda dari pemandangan yang tersaji disepanjang jalan menuju pondok milik KH. Asep Saifuddin tersebut. Tetap hijau, menyegarkan mata yang memandanginya.

Sesampainya di pondok, sambutan hangat dari dede yang tersenyum lebar di samping jendela kaca mobil. Tangannya menempel di kaca jendela, menutupi kedua sisi matanya. Seakan menerawang orang-orang yang berada dalam mobil. Segera kubuka pintu mobil, udara dingin pacet seketika mengelayuti tubuh ini. Kemudian tak lama, mungkin sekitar setengah jam aku dengannya berbincang di gazebo. Memberikan nasehat layaknya orangtua kepada anaknya. Lagi-lagi ia menangis, entah sampai kapan kebiasaan ini hilang. Ohh dede, sing betah dipondoknya. Mondok itu asyik! believe it!

Pertemuan singkat hari itu kami akhiri dengan berfoto bersama didepan gerbang asrama putri yang kebetulan sedang ramai dengan ornamen MBF. Yeay!

3. Malang, 24-26 Febuari 2016

Dari kiri (Rif'a-Arin-Rika-me-Nadia-Ijje)

Dari kiri (Rif'a-Arin-Rika-me-Nadia-Ijje) via http://enjahelbantani.blogspot.co.id

Kurang lebih seperti diatas suasana tempat nongkrong satu ini, aduhh masih kebayang ademnya seperti apa. Seandaninya ada di Jakarta hahaa. Sepertinya teman-teman di Malang tidak pernah merasa stress, wong setiap hari ngelihat yang hijau-hijau. Harga makanan dan minuman disana cukup terjangkau bagi saya, minuman es cokelat dengan berbagai varian dapat dibeli dengan harga Rp.10.000, gelas yang digunakam lumayan besar. Jadi cukuplah untuk mengenyangkan perut ini. Sambil menikmati sajian yang kami pesan, seperti biasa perbincangan yang mengundang tawa pun dimulai. Penggunaan bahasa jawa yang khas seperti semenjak di pondok mengingatkan kembali masa ketika di desa kembang belor tersebut. Terima kasih teman-teman, sudah mengajakku kesini. It's amazing place, I love it.

4. Alun-alun Batu

Sepulang dari Mie galau saya masih dijak main ke alun-alun kota Malang. Tidak ada hal begitu menarik, hanya memandangi deretan muda-mudi yang sedang memadu kasih. Nasibmu mbloo, hahaa. Namun di bagian tengah alun-alun terdapat air mancur yang menjulang tinggi disertai dengan warna lampu yang tak bosan dipandang mata. Layaknya mesin yang sudah disetting kapan ia menyemburkan air, kapan dia berhenti. Air mancur ini ada jadwalnya ternyata, tak selama sehari penuh dinyalakan. Batas kalau malam sampai sekitar jam 10. Intinya waktu-waktu yang digunakan itu ketika alun-alun ramai dikunjungi orang, saya lupa detailnya. Pokoknya ada 3 sesi air mancur menyala.

Malam berikutnya, destinasi terakhir di Malang. Rencana sebelumnya sih paralayang, but because of rain, its cancel. Akhirnya alun-alun batu yang menjadi alternatif, memang sebelumnya saya pengen banget bisa naik bianglala yang berada di alun-alun batu. Tak lebih dari setengah jam aku dan arin telah sampai, meskipun sempat nyasar hahaa. 2 kali naik bianglala cukup membuat urat senyumku melonjak-lonjak. Kapan bisa naik ini bareng kekasih halal? hahaa. Setelah itu kami mencicipi ketan paling legendaris, ngantrinya lumayan panjang. Banyak banget varian rasanya. Wajib coba pokoknya! Saya nyoba dengan toping nangka ditemani wedang jahe biar badan nggak kedinginan.

5. Yogyakarta, 28-1 Maret 2016

Icon nomor wahid di jl malioboro

Icon nomor wahid di jl malioboro via http://enjahelbantani.blogspot.co.id

Dua hari full di Malang, sudah lebih dari cukup. Next Journey is Jogja!
Masih bersama teman traveller paling pokoknya! Nuril, kita berangkat sekitar pukul 8 pagi dari Jombang menuju terminal Lempuyangan Yogyakarta. Sebenernya yang punya hajat kesini si Nuril, saya mah hanya menemani. Bersama sepupunya, Rini kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kami pergi menggunakan trans jogja. Pengalaman pertama pakai kendaraan umum satu ini di Jogja. Dengan tiket seharga Rp. 3.800 sampailah kami di jalan paling tersohor di Jogja. Yapp! Jalan Malioboro. Bagi kalian yang suka shoping, ini tempat recomended banget.

Perjalanan terakhir yaitu Kebumen, dengan menggunakan bis kami menuju kesana. Tujuan ke Kebumen tak lain demi menjalin tali silaturahim Nuril bersama buleknya. Terima kasih Ya Allah, mengakhiri journeyku kali ini dengan mengingatkanku kembali untuk selalu bersyukur atas segala nikmatmu. Di rumah ini aku lebih belajar arti suatu kesederhanaan, mungkin ini belum ada artinya apa-apa. Masih banyak orang yang jauh lebih susah dari ini. Terakhir terima kasih buat Nuril sudah menjadi best partner travellerku selama seminggu. Jangan kapok main ke rumahku yaa hehee.

6. Kebumen, bersyukurlah

Kediaman embahnya Nuril

Kediaman embahnya Nuril via http://enjahelbantani.blogspot.co.id

Perjalanan terakhir yaitu Kebumen, dengan menggunakan bis kami menuju kesana. Tujuan ke Kebumen tak lain demi menjalin tali silaturahim Nuril bersama buleknya. Terima kasih Ya Allah, mengakhiri perjalananku kali ini dengan mengingatkanku kembali untuk selalu bersyukur atas segala nikmatmu. Di rumah ini aku lebih belajar arti suatu kesederhanaan, mungkin ini belum ada artinya apa-apa. Masih banyak orang yang jauh lebih susah dari ini. Terakhir terima kasih buat Nuril sudah menjadi best partner travellerku selama seminggu. Jangan kapok main ke rumahku yaa.