Hei, ini bukan kali pertama aku mengganggumu dengan kata-kata yang muncul dalam layar smartphonemu,kan? Apa kamu masih ingat saat pertama kali aku mengganggumu? Atau saat ini, sudah berapa kali aku mengganggumu?

Apakah kamu bosan dan kesal ketika mendengar nada pesan di smartphonemu berbunyi dan ternyata yang terlihat adalah pesan dariku? Sebelumnya maaf atas gangguan-gangguan yang selama ini kubuat. Melalui tulisan ini, aku akan mengakhiri gangguan-gangguan itu.

Alasannya adalah karena aku telah lelah menjadi seseorang yang menyukaimu tapi hanya bisa terdiam dan bersembunyi. Semoga saja kau tak rindu denganku ketika aku tak lagi mengganggumu.

1. Gangguan Pertama, Awal Perkenalan Kit

Serendipity via https://www.google.co.id

Gangguan pertamaku padamu aku menyebutnya serendipity. Ya, perkenalan kita awalnya tak sengaja. Aku yang terbiasa melihatmu berjalan di depan kelasku dan hanya bisa menatap punggungmu yang menjauh dari tatapanku. Aku selalu berharap untuk bisa mengenalmu. Dan ternyata, Tuhan menjawab doaku.

Tanpa sengaja aku menemukan bukumu yang rusak. Awalnya aku acuh terhadap buku itu dan tak sengaja menendangnya. Kemudian aku memungut buku itu dan melihat siapakah pemilik buku tersebut. Betapa terkejutnya aku ketika melihat inisial namamu tertulis di dalam buku itu. Di dalam pikiranku, apakah mungkin itu milikmu? Karena dengan inisial yang ada, mungkin saja kalau itu bukan kamu. Namun, berbekal nyali kuat, aku menghubungimu melalui pesan Facebook dan menjelaskan apa yang terjadi. Berharap kau cepat membalasnya, karena pada saat itu kau sedang online.

Tetapi kenyataannya sampai 2 hari pesan tersebut terkirim, aku tak pernah mendapatkan balasannya. Sungguh, aku menyesal mengirim pesan tersebut kepadamu. Betapa jahat dan kejamnya dirimu, padahal aku hanya ingin membantu, batinku dalam hati tatkala melihat pesanku belum dibalas. Tak kusangka, kamu menyuruh temanmu untuk meminta nomor ponselku. Aku heran, kenapa kamu tak memintanya langsung dariku atau kenapa kamu tak membalas saja lewat Facebook? Setelah itu, aku menunggumu menghubungiku, tapi ternyata kau tak juga menghubungimu.

Advertisement

Memang benar jika menunggu adalah hal paling menyebalkan. Karena itu aku tak peduli lagi untuk menunggumu. Keesokan harinya, terdapat sebuah pesan baru dari nomor asing muncul di layar handphoneku. Yippie, itu kamu. Dan ternyata buku yang aku temukan memang bukumu. Benar-benar melelahkan untuk bisa kenal denganmu. Kau tahu tidak bahwa butuh waktu seminggu agar kamu balik menghubungiku.

2. Gangguan Kedua, Mulai Terasa Akrab

Kita berjanji untuk saling bertemu. Apakah kamu tahu bagaimana perasaanku saat itu ketika kita akan bertemu? Rasanya seperti ada kupu-kupu di dalam perutku. Jika jantung ini portable, mungkin saja jantungku akan terlepas dari rongga dada ini. Bagaimana dengan perasaanmu?

Pasti kau menganggapnya biasa, seperti pertemuan kakak dan adik kelas yang mengembalikan buku yang dipinjam. Walaupun begitu, aku tak melupakan senyuman pertama yang tergambar dalam wajahmu. Itu merupakan hal pertama yang aku alami dalam hidupku yakni mendapatkan senyuman pagi paling indah. Selepas itu, kita layaknya kakak dan adik kelas yang lain, bertegur sapa dan saling mengirimi kabar walaupun tak setiap saat. Kau juga sering meminjam buku padaku karena pada saat itu kau sedang mempersiapkan berbagai ujian kelulusan.

Aku merasakan kita semakin akrab. Apakah kau juga merasakan hal yang sama? Gangguanku padamu semakin bertambah, aku dengan PDnya memintamu untuk mendengarkan curhatku. Kamu tak menolaknya dan bahkan memberiku penyelesaian ketika aku mempunyai masalah. Kamu harus tahu bahwa kamu adalah lelaki pertama yang mendengar curahan hatiku dan seseorang yang aku percaya selain ayahku. Tak peduli bagaimana reaksimu saat kau membaca ini.

Ini adalah pengakuanku kepadamu. Sampai saat ini, apa yang pernah kau katakan padaku masih terngiang jelas. Terima kasih atas waktu dan kata yang sempat kau berikan padaku. Aku lelah terus menerus memberikan kode untukmu.

3. Bersembunyi itu Melelahkan, Sesekali Temukanlah Aku.

Ketika itu, saat kau semakin dekat dengan waktu ujianmu, aku mundur secara perlahan agar tak menganggumu. Kita semakin jarang memberi kabar tapi tak pernah lupa bertegur sapa. Musola yang ada di depan kelasku serta lapangan olahraga menjadi saksi bisu tatkala aku tak mendengar kabarmu.

Aku memerhatikanmu dari jauh. Aku tak pernah khawatir tentang kesehatanmu. Hanya dengan melihat sepeda motormu yang terparkir di halaman parkir sekolah sudah membuatku tenang. Itu berarti kau baik dan sehat. Simple kan? Lain halnya ketika aku tak menemukan sepedamu terparkir disana, pikiranku kacau, jika seperti itu aku akan langsung pergi ke perpustakaan sekolah dan mencari dirimu.

Ya, kelasmu berada di belakang perpustakaan sekolah kita. Melihat kau bergurau dan tersenyum dengan teman sekelasmu menandakan sudah cukup bagiku untuk mengkhawatirkanmu. Hei, kau tahu jika selama ini yang mengamatimu di balik jendela perpustakaan sekolah kita itu adalah aku, kamu tahu tidak?

Aku yakin pasti tidak. Itu karena aku selalu bersembunyi ketika kau mulai menyadari bahwa kau sedang diamati. Kau tahu bagaimana rasanya bersembunyi selama ini? Melelahkan. Apakah kamu merasa terganggu ketika kamu menyadari bahwa kamu sedang diamati tetapi kamu tidak menemukan seseorang yang mengamatimu? Kalau begitu cobalah untuk menemukanku. Kau tahu dimana aku, bukan?

4. Aku Lelah Bersembunyi, Aku Menyerah

Setelah sekian lama aku bersembunyi dan tak kunjung ditemukan. Aku mulai berpikir apakah ini saatnya untuk aku keluar dari tempat persembunyianku ataukah aku tetap terdiam disini sendiri sampai kau benar-benar menemukanku. Jawabanku menyerah saja. Ada belaian kasih sayang nyata di luar tempat persembunyianku yang ternyata sudah menungguku lama.

Siapa dia? Seorang teman lama yang semasa kita bersekolah, dia sosok yang sangat familiar sekali bagiku. Kita memang tidak pernah mengobrol sangat dekat ditemani segelas milkshake cappucino dan cone es krim rasa strawberry di cafe pinggir kota, tapi ketika aku mengobrol denganmu melalui layanan pesan singkat beberapa waktu lalu, aku merasa seolah-olah kita sudah dekat.

Apakah perasaanku ini terlalu aku anggap spesial atau apa karena kita memang teman lama berkomunikasi kembali? Keputusanku untuk menyerah seperti didukung oleh semesta. Selang beberapa minggu, aku mendengar kau sedang berkencan dengan kakak kelasku yang sekarang satu jurusan di tempatmu kuliah. Hari ini aku tak pernah menangis lagi karena menunggu punggungmu berbalik menuju arahku, ada punggung lain yang siap memberi sandaran dan dengan tangan kekarnya siap membelai lembut kepalaku ketika aku dirundung mood yang tidak karuan walaupun dia melakukannya jauh di tempat perantauannya sekarang.

5. Menyerah Pilihan Terbaik Untuk Saat Ini

Membuat keputusan menyerah mungkin akan terasa menyakitkan. Sedangkan menunggu sesuatu yang tidak pasti sama saja. Untuk saat ini, melelahkan atau tidak seakan telah terbayar oleh kehadiran dia. Sekarang keputusan apakah kamu dengan sabar menunggu atau menyerah, coba tanya dari dalam hati dan lihatlah sekitarmu. Siapa tahu ada seseorang yang telah menunggumu disaat kamu menunggu orang lain.