Hal yang membuat saya sedikit takjub adalah tulisa-tulisan yang mengambil tema percintaan, nelangsanya nasib jomlo (bukan ‘jomblo’), pacaran, persiapan pernikahan, pernikahan, apsangan ideal dan sanak famili mereka semua selalu mendapat perhatian yang bagus dari Netizen.

Prediksi saya, mungkin karena kebanyakan pengguna Netizen adalah mereka yang masih berusia produktif, dan usia itu saya asumsikan sebagai usia 20 – 40an, maka tema-tema tulisan yang bernapaskan (napas, bukan ‘nafas’) cinta akan mudah penjadi primadona.

Yang namanya urusan hati, menurut saya adalah urusan paling pribadi yang bisa dimiliki manusia. Sifatnya begitu intim dan personal. Ini juga yang bisa jadi menjentik banyakanya orang yang lebih nyaman memabca tulisan orang asing di dunia maya, katimbang (katimbang, bukan ‘ketimbang’) ngobrol langsung dengan sahabat atau keluarga. Entahlah.

Solusi praktis menghadapi pergelokan batin semacam itu selain menyumpal pikiran dengan aneka referensi tulisan galau, adalah melakukan aksi.

Tentu saja (menurut saya) yang paling ideal adalah menjajal metode Ta’aruf.

Dari situ, yang menjadi momok adalah takut untuk memulai. Kita sudah terlalu penuh dijejali dengan konsep dan pengetahuan (entah baik atau buruk) mengenai Ta’aruf. Tanpa ada kemauan dan kesempatan untuk berdiri dan segera beraksi.

 

1. Membuka diri adalah hal pertama yang perlu dilakukan. Tidak lagi membiarkan hati terpenjara dalam gundah dan sesal dari apapun yang pernah terjadi.

Untuk dapat memulai sesuatu, niat merupakan hal kunci yang bukan hanya perlu ditanamkan, tapi juga diyakini dalam-dalam maknanya. Saya yakin, setiap orang punya cerita masa lalu. Saya juga yakin cerita-cerita itu berisikan kegembiraan dan kesedihan. Larut dan terbelenggu dalam memori bukan hal yang salah dan bisa disalahkan. Adalah hal bijak untuk menjadikan itu semua sebagai pengingat.

Memulai Ta’aruf dengan membuka diri dan melihat dengan pandangan lebih luas membuat perasaan lebih tenang dan lapang. Seperti halnya memulai sesuatu dari awal, memberikan hati untuk meringankan bebannya. Karena ini adlaah sebuah langkah baik, adalah hal yang baik untuk menyiapkan tempat, pikiran, visi, dan tujuan yang baik juga untuk hasil yang paling baik.

Masuk akal, toh?

2. Ta’aruf membuka proses perkenalan dengan anggun, tidak tergesa-gesa, adil, dan terukur.

udeh, mulai aja ta'arufnya :)

udeh, mulai aja ta'arufnya :) via https://zanfadli.wordpress.com

Saya sedih saat ada orang yang menyamakan langkah pertama ta’aruf dengan melamar pekerjaan. Bukan karena saya tidak setuju dengan komentar itu, tapi menurut saya hal itu bukan sesuatu yang pantas dicibirkan. Apa salahnya berkenalan dengan saling bertukar CV?

Saya memang bukan ahli Ta’aruf. Saya tahu sedikit sekali tentang proses ini. Tapi dari pengetahuan saya yang sedikit itu, saya tahu, Ta’aruf menawarkan prosedur yang ideal. Salah satunya dengan saling membaca dan mendalami CV atau personal resume.

Ini adalah langkah yang adil dan terukur. Adil karena satu sama lain punya kesempatan yang sama untuk saling bercerita mengenai diri mereka masing-masing, dengan cara sendiri-sendiri. Terukur karena saya yakin, tulisan bisa menjadi parameter yang relevan untuk mengenal seseorang.

3. Saling mendalami pribadi tanpa sangsi menyalahi hukum ukhrawi.

karena emnikah menyempurnakan agama

karena emnikah menyempurnakan agama via https://zanfadli.wordpress.com

Selanjutnya, hal yang juga penting dalam proses Ta’aruf adalah mengenal pribadi calon pasangan lebih. Dalam. Terserah kalau ada yang bilang ini sama saja dengan pacaran. Toh, pada praktiknya akan terasa beda. Karena kita telah memulainya dengan anggun, hal berikutnya ini saya yakin akan dijalani juga dengan baik, sesuai aturan ukhrawi (akhirat; baca: syariat).

Usai saling mengenal latar belakang secara umum. Usia, pendidikan, keluarga, pengalaman kerja, dan sebagai-bagainya. Para calon pasangan akan mengukur diri lebih dalam. Memantaskan diri dan menyelami pengetahuan satu sama lain.

Saling bertukar pertanyaan merupakan langkah yang ideal. Mencoba menyentuh cara ia berpikir, cara ia menyelesaikan masalah, cara ia melihat sebuah isu. Itu semua dilakukan dengan saling bertukar pertanyaan. Saling menguji pengetahuan. Langkah kedua ini sarat dengan unsur fairness.

Kamu bisa menanyakan bagaimana lingkungan sekitarnya? Apa kriteria isteri/suami ideal? Apa pendapatnya tentang perjuangan rakyat Palestina? Bagaimana pendapatnya tentang pasangan yang keduanya bekerja? Apa yang akan ia lakukan jika menemukan pasangannya kelak lebih memilih perintah orangtua? Bagaimana pendapatnya mengenai Poligami?

Demi Tuhan! Ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang bisa kalian ajukan kepada calon pasangan. Tanpa harus saling gombal menanyakan “sudah makan belum?” atau duduk berdampingan di taman yang sepi.

4. Karena pertemuan pertama (dan selanjutnya) harus dilakukan dengan baik-baik untuk akhir yang paling baik.

manis bangeeettttt!!

manis bangeeettttt!! via https://zanfadli.wordpress.com

Adalah dusta jika saya bilang Ta’aruf tidak memerlukan sesi pertemuan satu sama lain. Tentu saja yang namanya ketertarikan fisik menjadi hal penting dalam sebuah hubungan. Begitu juga dalam proses Ta’aruf.

Yang membuat pertemuan dalam konsep ini terasa lebih spesial adalah adanya rasa deg-degan. Ada perasaan penasaran karena sudah saling mengetahui pribadi satu sama lain. Ada koridor-koridor yang dengan ikhlas harus tetap ditegakkan. Pertemuan yang jauh dari khalwat (berdua-duaan bukan mahram (mahram, bukan ‘muhrim’) di tempat yang sepi).

Pada saat inilah kita membutuhkan mereka yang sama-sama kita percaya kehadirannya. Di sinilah peran para perantara, murabbi, mak comlang, penyelia, apapun istilahnya. Lebih baik lagi jika saat pertemuan pertama, turut hadir juga wali dari Si Perempuan ;)

Karena pertemuan-pertemuan yang terjalin setelah proses perkenalan ditujukan untuk verifikasi. Melakukan kroscek tentang hal-hal yang dirasa perlu didengar langsung dari Si Calon Pasangan. Bukan untuk bermesra-mesraan.

Selain memastikan kehadiran mereka yang sama-sama kita percaya, menentukan lokasi pertemuan dan cara bertemu juga menurut saya adalah hal penting.

Kalau bisa ketemu di tempat umum yang nyaman, terbuka, dan terang, ngapain susah-susah cari tempat yang mojok, gelap, dan kedap suara? Kalau bisa sama-sama mandiri dan langsung ketemu di tempat janjian, buat apa repot-repot jemput sana-sini? :)

5. Hidup adalah pilihan. Cara kita mengutarakan pilihan menujukkan siapa diri kita yang sebenarnya. Ini adalah saatnya menentukan pilihan.

Secara kasat mata, prosedur yang dilakukan nampak singkat dan ringkas, ya? Memang! Nggak ada drama dan romantisme berlebih dalam proses Ta’aruf. Semuanya dilakukan sesuai porsi.

Selanjutnya adalah sama-sama membetikan keputusan. Untuk meneruskan proses ini ke tahap pertemuan keluarga lalu lanjut prosesi khitbah, atau sebaliknya.

Alhamdulillah kalau keduanya sama-sama menemukan kecocokan dan ketertarikan. Tapi, yang namanya ikhtiar, manusia hanya diperkenankan untuk berusaha, toh?

Skenarionya hanya dua. Lanjut atau Berhenti. Dua pilihan ini juga idealnya dilakukan dnegan cara yang penuh hormat.

Dengan sama-sama terus menjalin hubungan silaturahim (bukan ‘silaturahmi’). Kalau memang Tuhan menakdirkan pasangan yang berbeda, IA akan menunjukkan cara paling baik untuk mengakhiri proses Ta’aruf. Kemudian membuka jalan yang paling pantas untuk kita.