Slogan ‘Yogya Istimewa’ memang selalu memanggil-manggil setiap orang untuk datang berkunjung ke kotanya. Bagaimana tidak, kota ini memang layak untuk disebut istimewa, mulai dari budaya, wisata, kuliner sampai ke masyarakatnya yang beranekaragam. Kota Gudeg ini harus dijadikan sebagai salah satu destinasi yang wajib dikunjungi. Tapi jangan terkaget-kaget dengan beberapa hal di bawah ini ya.

1. Budaya Arah Mata Angin

Arah mata angin sebagai penunjuk jalan via http://templeetzrimon.org

Hal pertama ini membuat kita cukup terkaget-kaget saat pertama kali menginjakkan kaki di Jogja. Apalagi kalau bukan arah mata angin. Masyarakat Jogja menggunakan arah mata angin sebagai penunjuk jalan, jadi bukan kiri ataupun kanan. Jangan kaget jika kamu mendapati dialog seperti ini nanti:

Kamu : Mas, permisi mau tanya, toko X di sebelah mana ya?

Mas : Arah timur, nanti pertigaan belok ke utara, terus lurus ke barat mbak

Kamu : "__"

Advertisement

Pusing? Iya, cukup pusing untuk orang yang baru beberapa hari disana.  Butuh waktu yang cukup lama untuk beradaptasi dengan bentuk arah penunjuk jalan ini. Penggunaan arah mata angin sebagai penunjuk jalan dipengaruhi oleh tempat yang sangat identik di kota Jogja yaitu Keraton dan Malioboro. Keraton dan Malioboro terletak tepat di tengah Gunung Merapi dan Laut Selatan. Hal inilah yang menjadi dasar patokan arah, Utara mengacu pada Gunung Merapi dan Selatan mengacu pada Laut Selatan. Selain itu, orang Jogja juga tidak akrab dengan nama jalan karena mereka lebih mengenal nama tempat. Jadi jangan kaget jika mereka lebih familiar dengan daerah Terban daripada jalan C.Simanjutak. Hehehe.

2. Harga Makanan yang Bersahabat

Kuliner Jogja via http://www.ngegas.com

Inilah salah satu bentuk surga dunia. Harga makanan di Jogja sangat murah dibandingkan kota-kota besar lain di Indonesia. Di zaman sekarang ini makan nasi + ayam + es teh cuma Rp. 10.000 bukan sekedar mitos lagi. Nah untuk kantong yang sangat pas-pasan, jangan ragu karena masih ada pilihan lain yang jauh lebih murah. Ada nasi kucing dengan harga tak masuk akal, yaitu mulai dari Rp.2.000- Rp.4.000. Biaya hidup yang bersahabat ini membuat Jogja selalu dirindukan oleh siapa saja.

3. Bingkai Kesederhanaan

Salah satu mbah penjual gudeg di Jogja via https://cdns.klimg.com

Kota Jogja memukau dengan kesederhanaan. Kesederhanaan gaya hidup terlihat dari masyarakatnya. Tidak ada sesuatu yang berlebihan dan tidak ada gengsi. Jika kamu sedang asyik berbelanja di Malioboro, jangan kaget saat ditawari nenek-nenek sepuh untuk angkut barang belajaan atau melihat banyak nenek-kakek sepuh jualan di sepanjang jalan. Mereka juga terkenal sangat ramah dan sopan. So, jangan kaget kalau tiba-tiba ditegur saat dijalan atau sapaan yang kamu berikan dibalas dengan senyuman dan anggukan kepala ‘njeh, njeh’. That’s too real!!

4. Keanekaragaman Budaya

Budaya Indonesia via https://belajar.kemdikbud.go.id

Keragaman budaya yang berbeda membuat Jogja dikenal sebagai miniaturnya Indonesia. Kamu bisa menemukan putra putri asli daerah dari Sabang hingga Merauke. Lengkap 34 provinsi? Iya. Gimana nggak gokil coba. Kamu bisa kenalan dengan suku bangsa lain tanpa harus menjabanin satu per satu provinsi tersebut. Apalagi bisa berbagi cerita dan pengalaman tentang daerah masing-masing. Seru? Pasti. Keragaman budaya ini tak lepas dari julukan Jogja sebagai kota pelajar. Jogja merupakan salah satu kota dengan kualitas pendidikan yang cukup bagus sehingga banyak pemuda-pemudi Nusantara memutuskan untuk menuntut ilmu disana.

5. Sepeda vs Angkot

Jogja dan Sepeda via http://2.bp.blogspot.com

Jangan kaget saat melihat jalanan kota Jogja sering dipenuhi oleh pengguna sepeda, baik oleh anak-anak, remaja sampai ke orang tua. Sepeda yang digunakan pun sangat bervariasi, ada yang berjenis sepeda gunung, sepeda onthel, sepeda lipat, sepeda fixie, dan sepeda listrik. Semuanya ada. Ya, sepeda merupakan salah satu alat transportasi di kota ini, meskipun Jogja hampir didominasi oleh pengguna sepeda motor.Selain itu, jangan kaget juga kalau kamu tidak menemukan angkot di Jogja. Kalaupun ada, itu hanya untuk rute ke Kaliurang dengan minibus yang seadanya dan jarang muncul ke permukaan. Justru hal inilah yang membuat Jogja memiliki suasana lalu lintas yang cukup tertib dan teratur. Tidak ada angkot bukan berarti kita tidak bisa jalan-jalan menikmati kota Jogja karena ada bus trans Jogja yang siap mengantarmu ke rute mana saja. Yeay!!

Well, selamat menginjakkan kaki di kota Jogja, selamat menikmati setiap suasananya yang penuh warna. Dijamin rindu, rindu serindu-rindunya!