Aku tidak menganggap diriku sempurna sampai aku harus menjadi seorang yang pemilih, hanya saja aku berusaha untuk tidak munafik terhadap diriku sendiri untuk mencari sosok yang aku mau untuk mendampingiku hingga aku tua. Aku bukan seorang sempurna dan aku sadar akan hal itu hanya saja tidak bolehkan aku memiliki harapan terhadap siapa saja yang menjadi calon masa depanku?

Aku sadar setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan dari setiap karakterisitiknya, ini bukan persoalan tidak mau menerima kekurangan tapi bolehkan aku berharap seseorang dengan kelebihannya yang mampu mengatasi setiap kekuranganku agar kelak dengan kelebihanku aku berharap dapat menutupi kekurangannnya.

 

1. Menjadi Pemilih Terkadang Banyak yang Menganggapku Sebagai Orang yang Egois

Menjadi karakter pemilih terkadang banyak yang menghujatku sebagai seorang yang sangat egois. Yah bisa jadi yang mereka katakan benar adanya, tapi bolehkan aku memberikan alasannya?

Bagi mereka yang sedang  mendekatiku seringkali mereka mengatakan aku terlalu egois seiring berkata "TIDAK ADA MANUSIA YANG SEMPURNA". Memang manusia tak pernah ada yang sempurna tapi bisakah aku mengeluarkan segenggam ucapan untuk aku hanturkan?

Bukan aku tidak menerima kekurangan dari setiap mereka yang mendekatiku dan bukan berarti aku tidak memperdulikan aspek kelebihan mereka, hanya saja tidak bolehkan aku memilah butir demi butir mana saja kekurangan yang kira-kira tidak bisa aku terima karena akan membawa bumerang pada perjalanan kisah rumah tangga nanti yang akan dibina?

Lagi-lagi aku menjelaskan bukannya aku tak menerima kekurangan, kekurangan akan hal kecil yang tidak membuat kita retak nantinya tentu aku terima, akan tetapi kekurangan yang nantinya akan membawa kita ke jurang kehancuran apakah aku terlalu egois untuk menolaknya?

Mungkin lagi-lagi aku egois, soal pilihan, aku tidak hanya berbicara tentang apa yang aku mau, karena kamu tau kenapa? aku masih memiliki kedua orang tua yang harus aku bahagiakan. Apakah aku egois kalo pilihan ku kelak adalah sosok yang akan diimpikan juga oleh orang tuaku?

2. Menjadi Pemilih Bukan Berarti Aku Memperlakukan Mereka Sama

tidak sama

tidak sama via http://www.merdeka.com

Menjadi pemilih tidak lantas membuatku memperlakukan sama bagi "mereka" yang mendekatiku. Walalupun aku menjadi sosok pemilih aku juga bisa menjadi sosok tegas. Pemilih bukan berarti aku welcome bagi siapa saja yang mendekatiku karena ada sisi dimana "memilih" hanya bagi mereka yang pantas menjadi pilihan.

Aku tak pernah sama dalam memperlakukan mereka, ada dari sisiku yang tidak pernah memberikan kesempatan bagi mereka yang mencoba mendekat, ada dari sisiku yang lain yang berkali kali aku sajikan kesempatan tapi tak pernah digunakan dengan baik dan bijak dan ada dari sisiku yang lain acuh terhadap mereka yang entah datang dari dunia mana.

3. Menjadi Pemilih Banyak yang Menghujatku Sebagai Seorang Tanpa Kepastian

tanpa kepastian

tanpa kepastian via http://amarsm231.blogspot.com

"Tanpa Kepastian", begitu sebut mereka dalam setiap waktu yang bergulir. Mengenal orang butuh waktu, semua orang mengatakan seperti itu bukan? Tanpa mengenal tak banyak yang bisa aku tahu tentang sikap, kebiasaan dan prinsip bagi mereka yang mencoba mendekatiku.

Salahkah aku yang ingin mengenal dan memberikan serangkaian uji coba/tester  terhadap usaha mereka yang mencoba sedang mendekatiku?

Uji coba tak bisa dilakukan dalam waktu singkat? kamu tahu mengapa? orang bisa menutupi kebiasaan, sikap serta prinsip dengan begitu rapi hingga menjadi bom yang meledak  ditengah perjalanan rumah tangga mereka.

Pemilih bukan lantas membuatku menjadi seorang yang tidak tegas, jika keyakinan sudah memenuhi rongga hati maka berucap "tidak" pun akan mengalir deras layaknya air terjun yang mengalir.

Namun jika kata  "tidak" dan  "ya" belum terucap dari bibir ini maka aku hanya menunggu keyakinan didalam hati terhadap usaha lebih mereka dan dengan cara mereka untuk mencoba membuatku yakin seutuhnya dan tanpa ragu akan kupilih dirimu dan kuhadirkan dengan begitu yakin di depan orang tuaku.

4. Menjadi Pemilih Juga Mendatangkan Kegalauan

Siapa bilang menjadi pemilih itu enak dan gampang? memilih pasangan bukan layaknya belanja di supermarket dan ketika kamu menyukainya kamu dapat langsung membelinya.

Bukannya gampang menjadi seorang pemilih, kegalauan selalu menyelimuti ketika hendak memutuskan perkara antara  "ya" atau  "tidak" yang akan aku putuskan karena aku selalu takut jika aku memilih orang yang salah dan takut menyia-nyiakan orang yang sebenarnya lebih baik dari orang yang aku pilih.

Tapi kegalauan dapat aku atasi dengan keyakinan dari hati dan jiwa berdasarkan karakteristik, ujicoba dan tentunya aku masih punya Tuhan untuk aku sandarkan hatiku untuk bercerita tentang apa yang seharusnya aku putuskan.

5. Menjadi Pemilih Ternyata Mengajarkanku Tentang Dunia Refleksi

Mengenal orang lebih dalam terutama dalam menguji tingkat konsisten terhadap rasa yang ia punya tak bisa kamu putuskan hanya dari apa yang kamu lihat, dengar apalagi tentang apa yang kamu rasakan.

Ini memang bukan penelitian spesies yang harus dilakukan oleh peneliti tingkat dunia, kalo kamu ingin lebih memantapkan pilihan dan keputusan yang akan kamu ambil buatlah satu pengujian dengan caramu sendiri dan bisa jadi hasilnya begitu mencengangkan.

Yah, aku sedang merasakan dunia refleksi saat ini, dunia dimana ternyata semua yang kamu lihat dan dengar ternyata berbanding terbalik dengan apa yang kamu bayangkan.,

Mengejutkan memang hasilnya, tapi setidaknya dunia refleksi mengajarkanmu banyak hal dan akan menjadi pembelajaran berharga bagi diriku tentang arti menghargai dan memberikan keyakinan sepenuh hati tentang bagaimana bersikap terhadap mereka yang mendekatiku.

Di dalam dunia refleksi, hitam bisa menjadi putih dan putih bisa menjadi hitam dan disitulah aku bisa membuka mata selebar-lebarnya tentang siapa yang harus diberikan kesempatan dan tentang siapa yang harus di eliminasi.

"Aku tidak menyesal menjadi seorang pemilih selama tujuannya jelas untukku dan untuk orang tuaku, terima kasih buat mereka yang sudah menyajikan hitam dan putih dari perjalanan hidupku"