Pemerkosaan adalah tindakan memaksa dengan kekerasan. Pemerkosaan biasa dikaitkan dengan tindakan asusila yang dilakukan oleh manusia. Bukan hanya melanggar hukum, norma dan nilai dalam masyarakat, Pemerkosaan juga bisa merusak kejiwaan korban. Pemerkosaan yang biasa disorot oleh media, bahkan yang di dalam hukum Indonesia, adalah pemerkosaan yang cenderung menjadikan kaum perempuan sebagai korban. Namun tak menutup kemungkinan bahwa pemerkosaan juga bisa terjadi pada laki-laki.

Penjelasan soal pemerkosaan di Indonesia dijelaskan pada pasal 285 sampai dengan 289 KUHP. Tetapi ada sebuah loophole didalam pasal-pasal tersebut karena tidak ada ketentuan untuk menghukum perempuan yang memaksa laki-laki untuk bersetubuh. Hal ini dikarenakan pandangan pada waktu itu bahwa perempuan tidak mungkin memaksa seorang laki-laki untuk berhubungan badan.

Tetapi yang ada dalam masyarakat berbeda, contohnya yang dialami oleh Will. Di dalam video yang menceritakan kisahnya, Will mengaku pada usia 13 taun, ketika itu Will menduduki bangku SMP kelas 2, dia dilecehkan secara seksual oleh guru IPSnya. Pada usia lebih dari 18 tahun, dia melaporkan kasusnya kepada petugas sosial bahwa dia diperkosa oleh seorang wanita. Namun kasusnya sudah terlambat karena secara undang-undang, pemerkosaan yang dilakukan oleh wanita terhadap pria, diatas 18 tahun, tidak tergolong sebagai pemerkosaan yang sah.

 

I wanted it. I must have wanted it because I got an erection from her stimulating me, and the fear. Physically it felt really good. And at the same time like the worst thing that could possibly happen to me, like I was less than human. -Will

 

 

1. Pemerkosaan Oleh Wanita Terhadap Pria Memang Sering Dipandang Sebelah Mata Karena Banyak yang Tidak Percaya Bahwa Pria Dapat Menjadi Korban Juga.

Self blaming

Self blaming via http://www.vocativ.com

Kultur yang ada sekarang telah mengobjekan wanita sebagai makhluk yang lemah tak berdaya dan pria sebagai sosok dominan. Oleh karena itu, pemerkosaan terhadap pria sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Para pria yang mengaku telah diperkosa juga sering disepelekan dan dijadikan bahan bercandaan.

Secara psikologis, hal ini dipicu oleh gender role yang ada di masyarakat. Secara jenis kelamin, pria memberikan seks dan wanita yang menerimanya. Pria dibentuk untuk menjadi dominan dan membawa arah ketika berhubungan intim. Jadi ketika seks terjadi, pandangan masyarakat adalah pria yang membuat seks terjadi, baik itu secara konsensual maupun tidak.

2. Ketakutan yang Dialami Oleh Korban Ketika Hal Itu Terjadi Kerap Menjadi Alasan Mengapa Korban Tidak Segera Melaporkannya.

Fear is the most reason why

Fear is the most reason why via http://www.in-spirelsmagazine.co.uk

Baik pria maupun wanita, ketika disudutkan oleh paksaan pasti akan ada sedikit rasa takut. Hal ini yang dirasakan oleh para korban pemerkosaan. Ketika aksi pelecehan terjadi hal yang pasti muncul dalam kepala adalah “kamu kan laki-laki, pasti dong lebih kuat daripada wanitanya”.

Memang, beberapa lelaki lebih kuat daripada wanita tapi itu bukanlah alasan mereka untuk tidak melawan. Digiring dari pembentukan pola pikir yang ada di dalam masyarakat bahwa lelaki lebih dominan daripada wanita, hal itu saja bisa menjerat si pria secara hukum.

Bila pria melawan ketika si pemerkosa melakukan aksinya, alhasil si pemerkosa terluka. Ada kemungkinan si pemerkosa akan melapor kepada pihak hukum bahwa dirinya diperkosa oleh korban dan didukung dari hasil visum akan menunjukan adanya kekerasan atau paksaan sehingga bisa membuat si korban menginap di hotel prodeo dalam waktu yang lama. Hal ini yang biasanya membuat para korban enggan untuk melaporkannya kepada pihak berwajib.

3. Pemerkosaan Oleh Wanita Terhadap Pria Banyak Terjadi Lebih Dari yang Orang Bayangkan.

It's not only a man raped

It's not only a man raped via https://campusdiaries.com

Menurut survei yang diadakan oleh National Crime Victimization di Amerika, menyimpulkan bahwa 38 persen dari 40,000 peserta survei bahwa mereka dilecehkan secara seksual atau diperkosa.

Pemerkosaan yang terjadi pada pria kerap sekali dianggap sebagai fiksi belaka. Hal ini disebabkan karena pengertian kata “pemerkosaan” sendiri dibentuk oleh peran media ketika menyampaikan sebuah berita. Sehingga di dalam pikiran orang-orang tentang pemerkosaan adalah lelaki bertopeng tak dikenal di lorong yang gelap atau seseorang yang ditali dan ditutup matanya lalu diperkosa. Padahal arti dari pemerkosaan itu sendiri adalah ketika ada salah satu pihak tidak bersedia untuk melakukan hubungan seksual.

4. Pemerkosaan Terhadap Pria Sering Dianggap Sebagai Lelucon Dalam Masyarakat.

It isn't a joke

It isn't a joke via http://8tracks.com

Lelucon, ya. Ketika wanita diperkosa semua pihak pasti akan memberikan simpati tetapi ketika skenario dibalik, seorang pria yang menjadi korban perkosaan, no one bats an eye. Seolah tidak memperdulikan apa yang telah terjadi pada korban pemerkosaan tersebut karena lebih mudah bersimpati pada korban pemerkosaan yang berjenis kelamin wanita daripada yang berjenis kelamin pria.

Fenomena ini dikarenakan efek yang lebih permanen dari pemerkosaan yang terjadi terhadap wanita. Wanita bisa hamil ketika berhubungan seksual sedangkan pria tidak. Hal ini yang membuat pemerkosaan terhadap pria kerap disepelekan atau dijadikan lelucon dalam masyarakat. Tetapi apakah itu adil? Pria juga bisa mengalami rape trauma syndrome sama halnya seperti wanita.

Lagi-lagi media telah membuat hal ini menjadi sesuatu yang konyol, contohnya di dalam film Get Him to the Greek, adegan dimana Jonah Hill diperkosa secara anal oleh Carlo Gallo, dalam adegan itu si pria terlihat ketakutan tetapi karena adegan itu diatur sebagai adegan komedi maka jadilah sebuah komedi – lelucon.

5. Korban Pemerkosaan Takut Dipolitisasi – Digunakan Sebagai Alat Kepentingan Oleh Orang Lain.

String puppet for others

String puppet for others via http://1aled.fotomaps.ru

Hal yang paling berat ketika memiliki masalah yang jarang dibicarakan di masyarakat adalah mengaku bahwa hal itu ada dan 'saya'-lah buktinya. Unsur politik pasti ada dimana-mana. Ketika hal yang jarang dibicarakan itu mulai muncul di masyarakat, para pihak yang mempunyai kepentingan tertentu akan mencoba untuk mengambil keuntungan dari hal tersebut. Hal ini yang membuat para korban enggan untuk membesar-besar kan masalah mereka dan memendamnya sendiri.

Intinya adalah siapapun korbannya, pemerkosaan adalah tindakan kriminal yang merugikan orang lain dan layak untuk diusut secara hukum tanpa adanya diskriminasi secara jenis kelamin ataupun dijadikan sebuah lelucon. All victims are real.