Ubud dikenal luas semenjak dijadikan syuting film “Eat,Pray,Love” di tahun 2010. Hamparan sawah dan pedesaan khasnya dalam waktu singkat menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan, baik domestik dan mancanegara. Karena daerah nya yang tidak terlalu luas, Ubud dapat dengan mudah dijelajahi dalam waktu sehari. Tempat-tempat ini bisa jadi referensi saat kamu berkunjung ke Ubud.

1. Bukit Campuhan

Meski sedang berlibur, tak ada salahnya menyempatkan waktu untuk sekedar jogging atau trekking pagi hari di tempat ini. Selain menyehatkan, tempat ini mempunyai pemandangan khas Ubud berupa bukit-bukit hijau dan persawahan diantara jalur trekking. Tempat ini cukup mudah ditemukan, kamu cukup berjalan ke arah utara tidak jauh dari pasar Ubud, tempat awal trekking ada di samping Hotel Ibah.

2. Tegalalang Rice Terrace

Kalau yang satu ini memang bukan di pusat kota letaknya, jika kamu menggunakan sepeda motor maka akan membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke tempat ini. Ubud terkenal dengan persawahan terasering nya, bukan saja untuk para wisatawan lokal tetapi juga turis mancanegara jadi jangan heran ketika datang kesini kamu akan lebih banyak melihat turis mancanegara dibanding turis lokal.

Advertisement

Tidak usah khawatir kehausan di tengah trekking karena banyak yang menjual air kelapa di pinggiran pematang-pematang sawah, cukup dengan 20 ribu rupiah saja. Selain Bukit Campuhan, tempat ini jadi pilihan kedua untuk trekking di pagi hari.

3. Monkey Forest

Monkey Forest merupakan tempat wisata yang menjadikan kera-kera sebagai objek. Didirikan di atas lahan seluas 12,5 hektar dan ditumbuhi sekitar 186 jenis pohon. Di tempat ini hidup sekitar 650 ekor kera ekor panjang (Macaca Fascicularis). Kera-kera ini dibiarkan hidup bebas di kawasan yang juga digunakan sebagai tempat konservasi. Disini ada begitu banyak kera yang bisa kita lihat tingkah polahnya.

Tempatnya yang cukup rindang karena ditumbuhi banyak pepohonan cukup menyejukkan di kala siang hari yang terik. Di Monkey Forest ini juga berdiri Pura Dalem Agung Padangtegal dan Pura Madia Mandala, dimana terdapat kolam suci dan candi lainnya untuk upacara kremasi.

4. Museum Antonio Blanco

Don Antonio Blanco merupakan seniman berdarah Spanyol, memilih menetap dan menghabiskan sisa usianya di Ubud. Menikah dengan wanita asli Bali, Ni Rondji. Museum ini dibangun diatas tanah pemberian Raja Ubud dari Puri Saren, Tjokorde Gde Agung Sukawati.

Kekaguman nya terhadap sosok wanita menjadikan sebagian besar karya yang berada di museum bertemakan wanita, bahkan istrinya yang bernama Ni Rondji pun tak luput dijadikan objek lukis. Untuk masuk ke museum ini kamu harus tidak diperkenankan menyalakan kamera, terutama di ruangan-ruangan utama museum, kamera hanya boleh digunakan di area sekitar halaman museum.

5. Pasar Ubud

Setelah seharian berkeliling Ubud, tempat ini wajib didatangi untuk sekedar membeli cinderamata. Dibanding butik-butik sepanjang jalan utama Ubud, harga barang di Pasar Ubud ini jauh lebih murah. Tentunya kamu membutuhkan kesabaran untuk menawar barang-barang yang ada di pasar ini. Tidak hanya cinderamata khas Bali, pasar ini juga menjual sayur segar dan buah-buahan. Tenang saja selama kita ramah, penjual disini akan memberi harga terbaiknya.

Konon,traveling bukan karena kita mampu tapi karena kita butuh. Di sela-sela aktivitas yang padat, sesekali kita memang butuh mengistirahatkan fisik dan mental, salah satunya dengan traveling. Ubud bisa dijadikan salah satu pilihan, selain alam dan budayanya, Ubud masih tidak seramai tempat wisata di bagian selatan Bali. Selamat berlibur!