Kekerasan anak dalam segi apapun akan memberikan dampak stress dan depresi tingkat rendah hingga tingkat tinggi pada anak. Disamping itu, bila kekerasan itu sering terjadi dalam waktu yang lama, maka perkembangan anak akan tergannggu baik dalam segi fisik dan psikis. Karena anak bagai air kosong yang dapat diisi dengan air putih atau air kotor. Selain itu anak hanya bisa meniru orang-orang disekelilingnya, maka tidak aneh jika anda sebagai orang tua dituntut harus bisa mengurus anak, bukan hanya menasihatinya saja, tapi juga harus memberi contoh yang baik.

1. Apa Dampak Anak yang Sering Mendapat Kekerasan?

dampak buruk kekerasan pada anak via http://www.gudangkesehatan.com

Contoh kasus salah satu tokoh utama diktator yang ingin menguasai dunia di perang dunia ke 2, siapa lagi kalau bukan Adolf Hitler? Saat masa kecil, Adolf sangat dibenci oleh ayahnya karena dinilai sangat aneh. Tidak jarang Hitler dipukul hingga berdarah. Hasilnya? Setelah dewasa ia tumbuh seperti robot, sangat dingin, kejam dan tidak berperasaan. Tidak mau kan memiliki anak seperti itu?

Dampak kekerasan anak akan kita bahas setelah mengetahui apa pemicu kekerasan terhadap anak. Mari baca lebih lanjut.

Pemicu utama yang menyebabkan kekerasan pada anak :

Advertisement

1. Orang tuanya mengalami perbuatan yang sama saat masih kecil

2. Anak mengalami cacat entah cacat fisik atau mental

3. OOrang tuaku tidak tau cara mendidik anak

Bila diliat berdasarkan grafik dalam beberapa kejadian yang menimpa tanah air kita, ternyata kekerasan pada anak sedang membooming dan menjadi sorotan utama diberbagai berita. Apa sajakah kekerasan terhadap anak?

Ada 5 macam kekerasan terhadap anak :

2. Kekerasan fisik

Kekerasan fisik via http://www.gudangkesehatan.com

Kekerasan fisik adalah kekerasan secara langsung atau kontak langsung. Contohnya memukul, menendang, dan mencubit. Dapat anda bayangkan kekerasan fisik yang telah terjadi di dunia? Memukul dengan benda tumpul secara berulang-ulang, menendang dengan kaki walau anak memiliki kesalahan yang sedikit, menginjak perutnya, bahkan menyiksanya.

Pernah anda lihat? Orang tua yang menjewer anaknya hanya karena ia ingin bermain dengan temannya? Itulah kekerasan fisik yang sangat umum terjadi. Simpel? Iya, namun sekali anda menjewer anak, dampaknya akan ia bawa hingga dewasa nanti.

3. Kekerasan psikis

Kekerasan psikis via http://www.gudangkesehatan.com

Contoh kekerasan anak tidak terlihat namun benar-benar ada adalah kekerasan psikis. Contohnya membandingkan anak dengan saudara lain, membentak anak, menghina anak depan orang-orang, mencap anak dengan sebutan yang tidak pantas (bodoh, tolol, jahat dll).

Hal ini sangat sering orang tua lakukan tanpa disadari ia sedang melakukan kekerasan psikis.

Contoh kasus ketika anak tidak mau mandi, orang tua selalu bilang “kalau ga mandi, teman-teman ga akan mau deket sama kamu. Kamu kan bau, dekil, kucel kalau ga mandi”. Walau niat orang tua baik ingin anaknya mandi, namun caranya sangat jahat. Bila pernyataan seperti itu terus dilakukan, lama kelamaan anak akan kebal dan akan menjadi pembangkang.

4. Kekerasan seksual

Kekerasan seksual via http://www.gudangkesehatan.com

Kekerasan seksual ini sangat tidak terpuji, karena bagaimanapun itu adalah anak. Banyak orang tua yang selalu bilang ” Kami tidak ingin memiliki anak seperti kamu “, kalau dibalikan bagaimana? Mungkin suatu saat anak anda akan membalas ” siapa juga yang ingin dilahirkan di keluarga seperti ini?” Bagaimana hati seorang ibu mendengar ucapan anak yang sudah berani bilang seperti itu?

Belum lagi, tenaga seorang anak yang belum bisa mengalahkan tenaga orang tua. Ya, belum bisa. Karena mau tidak mau seorang anak selalu menyerap semua yang ia lihat, dan keadaan bisa berbalik. Suatu saat orang tua tumbuh menjadi separuh baya, dan anak tumbuh menjadi seorang remaja yang lebih sehat. Yang dulu anak mengalami kekerasan, mungkin suatu saat orang tuanya mengalami hal yang sama, dengan kata lain ia balas dendam.

5. Penelantaran anak

Penelantaran anak via http://www.gudangkesehatan.com

Kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dianggap sebuah penelantaran anak. Selain itu, tidak sedikit orang tua yang mengirim anak ke asrama dengan alasan untuk menimba ilmu tentang kehidupan. Tapi sayang sekali, sebagian orang tua salah mengartikan, penitipan bukan harus dilepas. Anak tetaplah anak yang membutuhkan perhatian khusus, walau tidak kontak langsung, setidaknya memberi kepedulian walau itu hanya lewat HP, menanyakan kabar dan menanyakan keadaannya disekelilingnya. Terdengar kuno, namun itu sangat berarti bagi seorang anak.

Penelataran menyebabkan anak berfikir kehadirannya sudah tidak berguna bagi keluarganya, hal ini menyebabkan kondisi anak sangat rentan dengan bunuh diri.

6. Kekerasan lain

Kekerasan lain terhadap anak sangat banyak bisa fisik dan nonfisik, seperti membeda-bedakan anak, memasukan fikiran negatif pada anak (menakut-nakuti), membohongi anak, dan menumbuhkan rasa selalu bersalah. Simpel bukan? Namun hal seperti ini berdampak fatal.

Kasus kekerasan terhadap anak pun telah menjadi salah satu kasus utama penanganan yang diutamakan dengan adanya Perlindungan Anak (PA)

Kekerasan diatas menyebabkan beberapa gangguan pada pertumbuhan anak. Gangguan apa sajakah?

Ternyata Inilah Dampak Fatal yang Diderita Oleh Korban Kekerasan Anak :

7. Agresif

Kekerasan anak menanamkan sifat agresif yang memicu pada suatu perbuatan yang akan menyerang sesuatu yang dianggap mengecewakan dirinya. Mengapa anak bisa agresif padahal orang tua hanya ingin mengajarkan anaknya berprilaku baik dan nurut pada orang tua? Jawabannya sangat sederhana, kekerasan yang ia telah terima saat kecil.

Selain daripada mengikuti peran orang tua yang menindaki dirinya dengan kekerasan, anak akan berfikir menyerang adalah satu-satunya jalan memperbaiki masalah. Karena orang tuanya akan memukulnya ketika ia melakukan salah. Jika anda mengenalkannya kekerasan, maka ia akan tumbuh seperti anda, mungkin lebih parah. Melakukan kekerasan karena ingin mendidik anak, dianggap komunikasi paling buruk yang tengah dialami masyarakat kita.

8. Mengurung Diri

Prilaku mengurung diri adalah salah satu prilaku kelainan psikis yang diderita seseorang, cara ini adalah cara yang pantas untuk mendapat keamanan pada dirinya (anak). Menurutnya, dengan cara mengurung diri adalah cara untuk mendapatkan keamanan dalam segi segalanya. Dampaknya, ia akan sulit bergaul, sulit membina persahabatan, sulit berkomunikasi, bahkan sering menutup diri pada orang-orang yang baru dikenal.

Bagaimana bila prilaku ini ia bawa hingga dewasa?

Ia akan menjadi bahan bullying teman-temannya, karena dianggap mengalami penyimpangan sosial. Inilah yang kita kenal, “orang pendiam jika sekali marah lebih menakutkan daripada orang yang sering marah”. Seorang anak yang mengalami penyimpangan sosial, sulit berinteraksi dengan teman-temannya, ketika merasa dirinya sudah tidak aman, ia akan secara kasar melawan teman-temannya. Hal ini dikuatkan dengan adanya kasus yang mengungkapkan seorang anak yang tertutup, diam-diam membunuh temannya sendiri.

9. Rendah Diri

Rendah diri atau yang sering kita kenal dengan sebutan minder. Menurut Wikipedia rendah diri dianggap sebagai penyakit yang dianggap akan merugikan diri sendiri. Rendah diri datang hanya karena imajinasi berlebihan saja, seseorang yang rendah diri tanpa sengaja akan membuat dirinya sebagai tolak ukur berdasarkan imajinasinya, yang membuat dirinya menjadi anti sosial.

Bagaimana bila rasa rendah diri ini terbawa hingga tumbuh dewasa?

Anak akan dikucilkan, orang-orang disekitar akan menganggap dia tidak ada karena perasaan minder ini akan menghambat pada prestasinya. Orang yang rendah diri akan merasa selalu bodoh, tidak berguna, dan tidak melakukan apa-apa. Alhasil… tidak akan ada prestasi yang dapat ia gapai. Karena alam bawah sadarnya sudah menganggap dirinya seseorang yang tidak berguna.

10. Trauma

Trauma terhadap apa? Padahal hal itu terjadi sekitar ia umur 5 tahun-an? Tidak mungkin jika anak ingat apa yang telah terjadi padanya? Wow, pernyataan dan pertanyaan ini sungguh tidak benar. Tahukah anda, seorang anak masih memiliki daya ingat yang sangat kuat, tidak aneh jika orang tua mencontoh 1x, anak akan dengan mudah menyerap apa yang ia lihat. Anak juga belum mengalami kerusakan sel saraf, dan tidak mengalami stress seperti yang dialami oleh kita yang tengah menjelang dewasa. Perbedaan seorang anak dan seorang yang dewasa sungguh sangat signifikan.

Salah satu ciri seorang yang telah dianggap dewasa adalah seseorang yang sudah bisa memilah mana yang benar dan yang salah. Sedangkan anak? Hanya menyerap apa yang ia lihat.

Trauma bisa dikarenakan oleh beberapa penyebab salah satunya pelecehan seksual. Hal ini akan membuat anak takut menikah, takut berhubungan, dan takut berpacaran. Bila tidak segera diatasi, hal yang terburuk akan terjadi adalah anak tersebut takut menikah.

Bagaimana pandangan orang-orang sekitar?

Tanpa mereka tau latar belakang trauma itu sendiri, hanya akan mencap anak itu aneh.

11. Stress

Seorang anak bisa stress? Harusnya tidak lho. Telah kita ketahui sendiri dampak dari stress ini sangat beragam, sebagian orang mengalami kelainan jam tidur, mengalami kelainan porsi makan, dan sering melamun. Padahal menurut psikologi, umur 6 tahun adalah umur dimana otak sang anak berkembang. Inilah awal dari kegagalan yang mungkin dihadapi sang anak ketika umur 6 tahun ia mengalami stress.

Apa saja dampak dari stress?

Gagal mencapai pendidikan, gagal berprestasi, kurangnya konsentrasi, terlalu berfikir kritis, dan masih banyak lagi.