Perpisahan memang selalu menyisakan kepahitan. Namun, saat ini kita bukanlah dua orang asing yang saling menyimpan dendam. Aku dan kamu kini sama-sama menyapa dengan sebutan sahabat. Bedanya, kamu sudah mencoba peruntungan baru dengan melabuhkan hatimu pada cinta yang lain. Sedangkan aku masih di tempat yang sama; memelihara perasaan cinta yang tak kunjung berubah haluannya. Alih-alih menyiksa, perasaan ini justru membuat hidupku makin berharga.

 

1. Kabarmu sangat kutunggu, namun tak ada lagi ambisi untuk mendapat perhatianmu

Bohong jika aku berkata aku sudah tak peduli lagi akan kabarmu. Tentu saja hatiku akan berlonjak girang jika di akhir pekan tiba-tiba kamu layangkan pesan “Apa kabar?” atau hanya sekedar meninggalkan jejak kunjunganmu pada akun media sosialku. Aku cuma tak lagi menuntutmu untuk selalu membalas setiap perhatianku. Aku tak lagi sering berburu informasi lewat teman-temanmu atau menghabiskan malam untuk stalking setiap kegiatanmu.

"Aku tak menyesali pesan-pesan singkat yang kukirimkan padamu, meski pada akhirnya mereka berakhir dengan status ‘tak-terbalas’. Aku tak meratap jika nama kontakmu tak kunjung mampir di kotak masukku."

2. Melihatmu bahagia adalah kesukaanku, meski bukan aku alasan di balik kebahagiaanmu

If you smile, I smile

If you smile, I smile via http://www.informationng.com

Saat kamu meraih kesuksesan, aku ingin menjadi orang pertama yang memberimu selamat. Meski itu tak mungkin karena seringnya aku mendengar kisahnya dari orang lain. Namun, kabahagiaanku rasanya tak beda. Aku selalu dengan bangga menceritakan kisahmu pada sahabat terdekatku; seolah aku masih menjadi bagian dalam hidupmu. Aku juga sudah tak terlalu kritis pada perubahan sikap dan penampilanmu. Dulu aku selalu protes jika saat kita bertemu rambutmu dicukur terlalu pendek atau jika kumismu lupa kamu rapikan. 

"Bukan hanya karena aku sadar bahwa aku tak lagi berhak mengatur hidupmu. Hanya saja selama itu masih kamu, aku tak pernah merasa kehilangan."

3. Aku tidak lagi merasa cemburu pada pasanganmu

Sudah bosan cemburu.

Sudah bosan cemburu. via http://www.thesnowfairy.com

Pernah aku merasa heran pada perasaanku yang bisa “mati rasa” ketika melihatmu telah berdua. Aku tidak lagi merasa cemburu ketika kamu terang-terangan mengungkapkan rasa sayangmu padanya. Bukan karena perasaan ini sudah berkurang, namun sepertinya hatiku sudah terlatih untuk mengonversikan rasa cemburu menjadi perasaan empati. Aku tak kecil hati ketika kau memamerkan betapa pandainya pacarmu memasak.  Aku juga dengan ringan memberimu masukkan tentang bagaimana seharusnya memperlakukan wanita.

"Mungkin aku sudah sampai pada fase di mana aku tak lagi peduli apakah aku ada dalam hidupmu, asalkan kamu yakin bahwa yang kau jalani  baik untukmu."

4. Aku tidak berusaha meninggalkan, dan hal ini membuatku nyaman

Tak pernah tahu bahwa efek kenangan bisa sekuat ini

Tak pernah tahu bahwa efek kenangan bisa sekuat ini via http://www.therelationshipsblog.com

Aku menjalani hidupku dengan menjadi diriku sendiri, tidak ada hasrat menggebu-gebu untuk merubah diri menjadi perempuan sempurna, seperti kriteria yang pernah kau jabarkan setiap kali memilih pasangan. Kerap kali hal-hal kecil dalam kegiatanku mengingatkanku padamu, namun hal itu tak lantas menjadi duri dalam dadaku . Aku justru semakin semangat menjalani hari-hariku. Satu per satu, kenangan-kenangan kita yang telah kau tinggalkan kujadikan kekuatan untuk dapat bertahan.

"Karena hanya dengan mencintaimu saja aku bahagia."

5. Aku sudah kebal akan nasihat teman-teman

Aku tak tuli, hanya mungkin sedikit desensitisasi.

Aku tak tuli, hanya mungkin sedikit desensitisasi. via http://www.gamerzunite.com

Tak sedikit pun ada rasa sebal ketika orang-orang di sekitarku menjulukiku “si gagal move-on”, atau ketika mereka menyindirku dengan lagu lawas : The Man Who Can’t Be Moved. Untuk apa aku kesal ketika yang mereka nyanyikan dalam lirik lagu The Script mereka lontarkan itu adalah fakta? 

"How can I move on, when I’m still in love with you?"

 Aku bukannya menutup telinga pada semua nasihat mereka. Aku mengerti, sahabat-sahabatku hanya yang ingin aku bahagia. Mereka hanya tidak mengerti bahwa kebahagiaanku sesederhana melihat kamu tersenyum bahagia.

6. Setiap rayuan selalu kuanggap sebagai ajakan menjalin persahabatan

Kamu baik. Tapi kamu bukan dia.

Kamu baik. Tapi kamu bukan dia. via http://pickupuniversity.wordpress.com

Jangan kamu kira aku tak pernah berusaha melupakan kamu. Mungkin aku sudah sampai bosan mencoba, entah berapa kali. Entah seberapa sering aku berlelah-lelah berupaya, menjajal hubungan dengan seseorang yang aku harap bisa mengalahkan kamu. Tapi bukankah cinta itu mengalir? Seharusnya cinta tak butuh banyak energi untuk membuatnya bertahan. Seperti yang akhir-akhir ini aku sadari. Aku bukan terlalu selektif pada laki-laki. Secara tidak sadar aku hanya terlalu menutup hatiku, membuat standar sendiri. Aku beranggapan bahwa aku tidak bisa menyayangi yang tidak lebih baik dari kamu. Dan yang aku sesali, mencari orang seperti kamu tidak akan membuat aku mendapat pengganti. 

"Aku takut aku akan menjadi pihak yang menyakiti jika sebenarnya yang aku cari hanyalah ‘kamu-kamu’ yang lain."

 Hingga saat ini, setiap pria yang datang mendekat kuterima dengan tangan terbuka untuk sekedar jadi sahabat.

7. Aku tak lagi mengecam Tuhan yang tak kunjung menjodohkanmu denganku.

Akan selalu ada namamu menyertai amin-aminku, hanya dengan permohonan yang lebih sederhana.

Akan selalu ada namamu menyertai amin-aminku, hanya dengan permohonan yang lebih sederhana. via http://www.beliefnet.com

Setiap malam, namamu selalu kudaraskan dalam doa-doa kecilku. Namun tidak lagi ada permohonan “Tuhan persatukanlah kembali dia denganku”. Atau rintihan penyesalan karena aku telah lalai menjagamu hingga kamu meningggalkanku. Bahkan aku tak lagi mengemis kesempatan untuk dekat denganmu sekali lagi. Yang ada hanyalah “Tuhan, semoga dalam hidup kami selalu menemukan kebahagiaan.” Dan setiap ‘kami’ yang terucap tidak lagi mewakili aku dan kamu sebagai sejoli. ‘Kami’ bisa saja berarti kamu dengan kebahagiaanmu, dan aku dengan kebahagiaanku sendiri. Aku menjadi menghamba pada takdir. Jika perasaan ini terus ada, biarlah ada. Karena aku percaya Tuhan menganugerahkan cinta pada insan manusia bukan untuk kesiaan belaka.

Aku mengakui bahwa terlalu naif jika kubilang perasaanku ini suci. Aku mungkin terlalu emosi hingga tak menyadari bahwa cinta ini telah berubah menjadi obsesi. Aku tak tahu, apakah cinta yang kupunya ini mulia, atau bahkan hanya sebatas cinta buta. Yang kuyakini adalah sampai saat ini aku masih jatuh dalam cinta, dan akan terus melayang bebas jika bukan kamu yang menangkapnya.

Dariku, yang sampai saat ini masih saja mengarah padamu.