Indonesia sudah merdeka selama puluhan tahun tapi tidak semua penduduknya merdeka, ada yang masih terjajah ekonomi, politik, sosial dan bahkan aku masih terjajah rindu. Rindu yang terasa memiliki debar berbeda. rindu yang tak beralasan bahkan meniadakan logika, iya rindu... rindu kamu.

 

1. Ku ingin merdeka tapi tiap malam rindu menyapa

Rindu kamu

Rindu kamu via http://kiokarma.com

Saat kesibukan menghampiri sejenak terlupakan bahwa dada sedang memiliki luka, luka yang disebabkan rindu kenangan masa lalu. Saat kita bertukar kata sayang serta saling menyapa sebagai tanda sebuah cinta.

Malam menjelang rindu semakin menjadi. Ku buka album foto usang ditumpukan terbawah, ku lihat kita bersanding bersama menampakan wajah ceria tapi hanya dalam sebuah album foto usang.

2. Rindu begitu menyiksa, apakah kau merasakan hal yang sama ?

Menyiksa

Menyiksa via http://jombloo.co

Sebuah kebiasaan baru tercipta, ketika aku dipisahkan waktu untuk jauh darimu. Mengintip media sosial dan menerka apa yang sedang engkau rasa. Berharap engkau juga merasakan hal yang sama sekalipun dalam kadar berbeda.

Ingatkah engkau, ketika aku dan kamu berkendara berdua hujan datang tak di duga. Kau menghalaunya dengan jaketmu untuk melindungi kepalaku sekalipun kau harus lebih basah dariku. Kini tak ada yang menghalau hujan sehingga aku selalu basah, iya basah dengan airmata.

3. Berharap mampu mematikan kerinduan namun apa daya rindu semakin membara

Aku bukan tanpa usaha untuk meniadakan perasaan yang begitu menyiksa. Setiap kali mencoba untuk mematikan, justru rindu semakin menikam lebih dalam. Jika menanyakan alasannya kenapa, akupun menggeleng tanda tak mampu menjawab apa-apa. Hanya berdoa berharap tuhan akan mengutus waktu untuk mengikis rindu.

4. Karena rindu aku tak pernah lupa bahwa setidaknya aku dan kamu sempat menjadi kita.

pernah menjadi kita

pernah menjadi kita via http://katabagus.com

Rindu adalah media untuk mengingat sejarah bahwa waktu pernah mengijinkan kita untuk saling suka. Bagiku sejarah itu tertuliskan di kertas dengan tinta warna emas, rindu yang tercipta bukan untuk dilupa tapi menjadikan pembelajaran untuk dewasa dalam hal cinta.

Seperti pisau yang tak hanya bisa melukai tapi mampu berguna untuk kepentingan berbeda, rindu pun sama tak harus selalu menyakiti tapi mampu menjadi media sebagai pendewasan diri.

5. Terimakasih rindu, kau mengajariku bahwa duka selalu berpasangan dengan bahagia.

Terimakasih rindu

Terimakasih rindu via http://circle.cerdasmulia.net

Aku yang sekarang masih sama, pada waktu tertentu sempat merasakan kembali getaran rindu dengan pusatnya selalu kamu, tapi rindu sekarang tak sama dengan rindu terdahulu, rindu terdahulu berharap kamu adalah miliku dan mampu mengulang semua kenangan. Rindu yang sekarang hanya berharap kita diberikan bahagia meski dalam bingkai berbeda.