Detik yang berlalu dengan cepat menyadarkanku telah banyak momentum yang terlewat. Lulus sekolah, memasuki bangku kuliah, hingga menapaki kehidupan baru setelah menikah. Allah memang selalu memberi kejadian yang penuh dengan kejutan. Kadang aku merasa berjalan atas kehendak sendiri, lupa bahwasanya kaki menapak pada rel ketentuan yang sudah sejak dahulu kala digariskan.

Semenjak mengalami perubahan yang cukup drastis dalam fase kehidupan, aku belajar beberapa hal yang tak bisa didapat jika terus menerus diam di sarang. Pelajaran ternyata bisa diambil dari mana saja. Deburan ombak yang lembut menerpa, angin sore yang pelan menyapa, bahkan diamnya batu di antara hiruk pikuk sekitar--membisikkan pesan yang akhirnya tersampaikan. Bahwa ketika aku mau membuka mata hati, sedikit lebih bersyukur, sesungguhnya hidup ini sudah lebih dari sekedar makmur.

Aku yang dulu hanya membaur dengan dinginnya pegunungan, kini telah menerima hangatnya pantai sebagai bentuk damai dengan keadaan.

Tahun ini banyak hal tak terduga yang terjadi. Mulai dari meninggalkan sejenak dunia perkuliahan, pergi jauh dari orang tua atas wujud mengemban tugas sebagai istri, hingga memberanikan diri pergi ke pasar dan memasak walau kadang berakhir hambar dan ambyar.

Hari demi hari yang dijalani dengan tangis dan tawa secara bergantian menjadi saksi bisu atas setiap langkah menuju kedewasaan. Mungkin memang tak mudah, namun aku berdoa agar selalu diberi hati yang sabar dan tabah.

Ramadan yang paling dinanti memberi warna tersendiri. Dua puluh sembilan atau tiga puluh hari yang akan dilewati adalah hari sakral yang disambut dengan menyucikan diri. Selalu ada yang berubah dari tahun ke tahun di bulan penuh keberkahan.

1. Dulu aku tidur dengan lelap hingga hidangan telah tersaji saat membuka mata. Sekarang aku adalah orang yang pertama kali terjaga saat alarm menyala dan mempersiapkan segala masakan sebagai asupan tubuh kala berpuasa seharian.

Jangan lupa sahur via http://bit.ly

Aku bukan seorang yang mudah untuk dibangunkan jika memang tak ada kegiatan penting yang esok hari harus dijalankan. Tapi menjadi istri menuntutku untuk menyiapkan makanan bergizi agar aktifitas tetap berjalan baik meski tubuh tak diberi nutrisi selama setengah hari. Beruntunglah tiga tahun aku ditempa sebagai santri, paling tidak aku tahu bagaimana beratnya membuka mata dan mengikhlaskan hati kala yang lain masih nyenyak di alam mimpi.

2. Dulu aku sering membunuh waktu dengan melakukan hobi. Sekarang dapur adalah tempat yang paling sering dikunjungi.

Berbuka dengan yang halal dan manis via http://bit.ly

Menunggu berbuka puasa/ ngabuburit sering kuisi dengan kegiatan menyenangkan. Membantu ibu di dapur jarang kulakukan, karena seringkali bantuanku tidak dibutuhkan atau justru akan membuat yang lain berantakan.

Advertisement

Hidup berdua dengan suami memaksa diriku untuk belajar memasak nasi dan pelengkapnya yang bergizi. Meski cooking skill masih di level bawah, asalkan memasak dengan cinta sepertinya yang sederhanapun terasa lebih mewah.

3. Dulu aku bisa meminta ini itu tanpa harus tahu berapa banyak biaya yang dikeluarkan ibu untuk memenuhi keinginanku. Sekarang aku harus mengatur uang dengan cermat, jika di akhir bulan tak ingin dompetku sekarat.

Lapar mata hingga lupa via http://bit.ly

Semenjak aku diberi kewenangan untuk mengatur urusan finansial keluarga kecilku, segala pengeluaran terasa memberatkan. Rasanya tak rela jika harus mengeluarkan berlembar uang. Mencari penghasilan tambahanpun ternyata tak semudah yang dibayangkan.

Baru kusadari ternyata kasih orang tua memang terlalu besar untuk bisa dibayangkan, mereka rela memberi yang seharusnya mereka miliki demi senyum dan tawa sang buah hati.

4. Dulu aku selalu ingin mengenakan yang serba baru untuk menyambut Hari Kemenangan. Sekarang yang penting bagiku hanyalah kembalinya raga dalam erat pelukan keluarga.

Peluk cium aku, Ayah, Ibu! via http://bit.ly

Masih teringat bagaimana betapa sesaknya toko baju menjelang lebaran. Betapa sabarnya ayah mengantarkan kami kesana dan ibu menemaniku mencoba berbagai model baju.

"Belum dikatakan lebaran tanpa baju dan asesoris baru."
Begitu prinsipku kala masih belia.

Namun saat raga tak lagi selalu berada di sisi mereka, peluk dan cium menjadi sesuatu yang ingin segera kurasa dan sangat mahal harganya. Baju baru masih berada dalam daftar hal yang kuinginkan, tapi telah terhapus dalam kolom hal yang kubutuhkan.

5. Dulu aku berharap dan berandai tentang barang apa yang akan aku beli setelah menerima uang dari sanak famili. Sekarang telah terbesit di hati untuk menyisakan sebagian penghasilan untuk mereka, walau mungkin tak seberapa.

THR! via http://bit.ly

Beratnya mencari uang mengajarkanku untuk tak lagi mudah 'membuang'. Kasur yang nyaman membuatku teringat atas tunawisma yang tak memiliki ruang untuk sekedar merebahkan badan. Para pengemis di perempatan jalan mengingatkanku masih banyak yang lebih membutuhkan.

Nilai uang bertambah ketika aku menengok ke bawah. Memang benar yang dikatakan sang bijak—bahwa kaya berasal dari hati, bukan sekedar banyaknya materi.

Ramadan tanpa hadirmu di sisi membuatku lebih mengerti bahwa hangatnya cinta dapat menembus dimensi. Lewat doa yang kau rapalkan tiap malam, menemaniku dalam heningnya kedipan bintang. Meski kini kau tak lagi bisa menemani, teladanmu membekas hingga relung hati.

Sang Nabi telah menyontohkan budi pekerti untuk dipraktekkan umatnya sampai mati, maka aku harus terus mencoba agar kearifan merasuk dalam sukma. Waktu adalah misteri yang dapat merubah seseorang menjadi lebih baik atau buruk dari sebelumnya. Tak akan bisa diulang, ditunda, atau dipercepat masanya. Yang terlewati saat ini, itulah yang paling berharga. Dengan atau tanpamu, selalu ada yang bisa membuat duniaku terasa baru. Maka tak pernah putus semogaku agar dirimu bahagia selalu.