Hanya di hadapan Tuhanlah aku mampu menguras air mata ini. Biarlah mereka tahu aku selalu bahagia tanpa harus tahu benakku yang terluka.

Karena aku selalu percaya Tuhan tidak mempertemukan kita tanpa alasan. Dengan semua rencananya, Ia tentu mau kita belajar bahwa cinta bisa dirasakan oleh dua dari rumah ibadah berbeda. Walau pada akhirnya kita mungkin harus mengamini perpisahan, tapi bolehkah aku bermimpi sekali ini saja bisa mencintaimu dari hamba Tuhan yang berbeda?

 

1. Setelah patah dan kecewa kesekian kalinya, mungkin kamu adalah jawaban dari ketulusan yang selama ini aku dambakan

Tidak mudah memang mengumpulkan kembali sisa hati yang pernah dipatahkan menjadi utuh kembali. Setidaknya selama satu tahun aku pernah begitu apatis untuk urusan cinta. Walau ada beberapa orang yang datang dan menawarkan hangat pelukan, semuanya ku tangkis dengan jawaban standar: "Aku masih menikmati masa sendiri."

Diriku jelas bukan robot yang nyaman dengan kesendirian. Tapi rasanya menjalin hubungan dengan bayangan rasa sakit membuatku enggan membuka hati. Ya, meski terdengar tak dewasa, tapi harus diakui aku memang memendam luka sebegitunya. Dia yang pernah ada menancapkan luka yang menggurat lubang di dalam hingga ingin ku tutup selamanya.

Namun kedatanganmu menjadi pengubah fase hidup yang terasa begitu kelam waktu itu! Dengan penuh ketulusan, kamu datang bak seorang tabib dengan obat penawar di tangan. Mengobati luka dan membiarkannya kering sembuh. Aku yang tadinya sudah merasa tawar dengan asmara kembali jatuh dengan perasaan berlipat. Terima kasih telah membuktikan padaku bahwa masih ada wanita yang bisa dipercaya di luar sana.

2. Tapi mengapa kau yang datang? Apakah Tuhan sengaja menyiapkanmu untukku?

Setelah hari demi hari kita lewati, tak bisa dipungkiri akan perasaan ini yang ku sebut ini “cinta”.

Kala aku memahami ada cinta yang tertoreh untukmu, aku mulai takut. Takut akan pembatas yang tak pernah bisa menyatukan kita. Takut akan rasaku yang semakin dalam dan berubah menjadi takut kehilangan sosokmu.

Aku tahu, dan kamu sendiri pun mengerti dari awal bahwa tak mungkin bersatu. Apa yang dapat kita perjuangkan? Apa yang bisa kita buktikan pada banyak orang? Apa yang harus kita banggakan pada orang atas hubungan ini? Haruskah kita lewati setiap cercaan karena memaksakan rasa? Bukankah kita hanya saling jatuh cinta? 

3. Bersamamu membuatku tersenyum kembali, walau sebetulnya ku tahu, ada tembok besar yang menjadi penghalang kita bersama

Kita yang berbeda

Kita yang berbeda via https://path.com

Rasanya tidak ada kisah cinta yang berjalan sempurna, termasuk juga kita. Meski merasa terlengkapi lewat kehadiran satu dengan yang lainnya, tapi kenyataan hidup bisa saja berkata berbeda. Aku dan kamu yang saling cinta harus berdamai dengan keadaan bahwa kita yang berbeda. Kenyataan ini membawa kita pada situasi tak ingin banyak bermimpi. Kita paham bahwa kisah ini akan menuai banyak tentangan di depan.

4. Bagai drama tak berkesudahan; apa yang salah ketika tasbih dan salib mencoba untuk menyatu?

Apa yang salah jika tempat ibadah kita berbeda? Apa yang salah jika kita menyebut nama Tuhan dengan sebutan yang berbeda? Apa yang salah ketika tasbih dan salib mencoba untuk menyatu? Mungkin di sini definisi menyakitkan yang sebenarnya.

Rasa sakit bercampur takut akan kehilangan yang tak bisa dideskripsikan dalam rangkaian kata. Di sini menumpuk rasa yang tak diterima logika. Kita memang tak sama. Tapi bisakah dunia berhenti menyakiti kita? Bisakah agama tak membebani cinta milik kita? Orang-orang tak mampu mengerti, mereka semakin menyiksa kita.

Membuat kita merasakan sakitnya mencintai dalam perbedaan. Di ujung sana kau melipat tangan dengan salib yang terlingkar dileher. Seakan ikut meremas segala cemas yang berdiam dihatimu. Sementara di sini, aku pun memutar tasbih. Berusaha memudarkan segala perbedaan yang tercipta diantara kita. Sakit, sungguh menyakitkan. Bahkan untuk bertemu Tuhan pun kita tidak bisa berdampingan.

Dalam doa yang kita rapal terselip air mata yang jelas menyiksa.

5. Dalam rangkaian doa yang kita ucapkan, ada hal-hal yang sebenarnya tak ingin Tuhan dengar!

Inilah cinta kita, segalanya berbeda. Segalanya tak mungkin untuk disatukan. Tapi kita terus berjuang untuk hal yang mustahil sekalipun. Dalam hati kita saling bertanya, akankah cinta kita berakhir manis? Haruskah cinta kita menimbulkan luka?

Kita pasangan hebat, yang masih melempar tawa pada dunia meski cemas terselubung di dalamnya. Masih ada bahagia yang tercipta di balik luka kita. Apakah untuk bahagia kecil ini, kita harus meninggalkan Tuhan dan menghindarkan telinga dari perkataan banyak orang? Mereka di luar sana tak pernah mau tahu dengan apa yang kita rasa. Tak pernah mau mengerti tentang apa yang kita perjuangkan. Mencibir, mencemooh, memaki bahkan menghakimi.

Mereka tak mengenal kita dan cinta kita. Mereka tak akan sanggup memahami air mata kita. Air mata yang tampak saja mereka abaikan, bagaimana dengan yang mengalir deras di hati berteriak memanggil Tuhan untuk meremukkan pembatas yang menghalangi?

Agama tak melirik jiwa-jiwa yang jatuh hati walau berbeda. Agama menjadi patokan batasan dan tak mungkin ditawar. Sesulit itukah? Lalu apa yang salah? Siapa yang salah?

Dalam sentuhan Al-Quran dan sentuhan Alkitab, kita sibuk mendusta tentang kesalahan akan perbedaan kita. Namun tetap tak terusik akan hal itu. Berusaha terus membohongi perasaan, berusaha terus meyakinkan bahwa segalanya adalah sama. Tidakkah Bhineka Tunggal Ika berlaku untuk cinta kita?

6. Menebak akhir drama hidup ini jelas tidak bisa ku lakukan. Tapi jika boleh bertanya, pantaskah aku memimpikan tinggal seatap dengan mu yang mengenal Tuhan dengan nama berbeda?

Seperti telah k ukatakan sebelumnya bahwa tak banyak harapan yang ku pelihara dari hubungan ini. Meski menemukan banyak persamaan, namun pada akhirnya kita pelan-pelan harus mengubur mimpi hidup bersama. Kita juga telah sepakat bahwa jalinan tidak harus egois. Sedalam apapun perasaan yang dipunya, tapi tanpa restu keluarga ada rasa pantang melangkah ke jenjang yang lebih serius.

Kini perlahan kita mencoba menjauh satu dengan yang lainnya. Meski berkali mempertanyakan hak untuk bahagia namun kita sama-sama memahami bahwa perbedaan agama membuat kita tak bisa memaksakan segalanya. Dari jauh aku mendoakanmu. Doa yang bukan sekedar kata-kata, melainkan sesuatu yang air mata pun tak sanggup menerjemahnya:

Kita sama-sama mendoakan.

Aku dengan kedua tanganku yang terbuka menyatu, dan kamu dengan kedua tanganmu yg mengepal menyatu.