Buatmu yang mau melewati akhir pekan di rumah saja, mungkin menonton film bisa menjadi solusinya biar kamu nggak bosan dan bingung mau ngapain. Nggak melulu film romantis, film-film genre lain yang bikin baper dan mewek pun nggak apa-apa. 

Anggaplah menonton film yang bikin mewek ini sebagai latihan kepekaan emosional sebelum mengalami yang sebenarnya di dunia nyata. Tidak, tidak, saya tidak akan merekomendasikan film semacam A Walk to Remember (yang tokohnya akhirnya mati karena penyakit, tipikal Nicholas Sparks, lah), P.S. I Love You, Hachi: A Dog's Tale, The Way Home, atau 500 Days of Summer, karena pasti banyak artikel lain sudah merekomendasikannya. Alih-alih, saya akan merekomendasikan lima film ini:

 

1. Train to Busan (2016)

Soo-an menangis setelah pembicaraan terakhir dengan ayahnya

Soo-an menangis setelah pembicaraan terakhir dengan ayahnya via https://www.bleedingcool.com

Penulis naskah: Park Joo-suk
Sutradara: Yeon Sang-ho
Garis besar cerita: Seok-woo (Gong Yoo), seorang manager pendanaan yang gila kerja dan telah bercerai dengan istrinya, berusaha menebus absenteismenya bagi anak perempuannya, Soo-an (Kim Soo-an). Di hari ulang tahunnya, Soo-an minta ditemani ke Busan untuk menjenguk ibunya naik kereta cepat, KTX. Hari itu awalnya tampak seperti hari-hari biasa sebelum seorang perempuan pincang (yang ternyata sudah terinfeksi virus zombie) masuk ke sebuah gerbong dan menggigit seorang petugas kereta. Mulailah pertaruhan nyawa antara para penumpang KTX yang berusaha bertahan hidup dengan para zombie. Lebih baik berada di atas kereta berjalan dengan satu gerbong tersisa yang belum dikuasai zombie dengan harapan bisa sampai di Busan (yang kabarnya masih aman dari zombie), atau turun di stasiun yang tak kalah ramainya oleh zombie?

Oke, ini memang film thriller, dan saya memang dibikin tegang oleh adegan kejar-kejaran zombie-manusia, tapi yang bikin saya terkesan justru bagaimana film thriller ini bisa bikin saya mewek.

Kapan kamu mungkin akan mewek: Saat Seok-woo mengucapkan pesan-pesan terakhir pada Soo-an setelah dia tergigit Yon-suk. Soo-an menangis, memintanya jangan pergi. Namun Seok-woo dengan terpaksa melepas paksa tangan Soo-an dan pergi keluar ruang mesin. Di luar ruang mesin, Seok-woo teringat bagaimana dulu ia menggendong Soo-an saat masih bayi, lalu ia melemparkan diri dari atas lokomotif.

2. Sherlock Season 4 Episode 2: The Lying Detective (2017)

Setelah John membuat pengakuan

Setelah John membuat pengakuan via https://gallifreyanramblings.wordpress.com

Penulis naskah: Steven Moffat, Mark Gatiss (berdasarkan karya Arthur Conan Doyle)
Sutradara: Nick Hurran
Garis besar cerita: Serial Sherlock yang tayang di BBC ini mungkin bisa dianggap sebagai trilogi (lantaran season 4 terdiri dari 3 episode) ketimbang sekadar "serial". Di episode ini, Sherlock (Benedict Cumberbatch) harus berhadapan dengan seorang pembunuh berantai yang berbahaya, Culverton Smith (Toby Jones). Smith ini seorang figur publik yang terkenal dan kaya raya. Image-nya baik di depan publik, jadi siapa sangka apa yang ia sembunyikan di rumah sakitnya? Barangkali ini adalah episode terbaik Sherlock yang pernah saya tonton. Emosi saya dipermainkan sepanjang waktu. Saya ngakak waktu Mrs. Hudson (Una Stubbs) nongol dari Aston Martin merah dengan Sherlock terborgol di dalam bagasinya. Saya ngakak juga waktu Sherlock tertawa lepas saat mengobrol dengan Faith (yang bukan Faith) sambil makan keripik. Dibikin tegang dan bingung? Ya, tiap berhadapan dengan si pembunuh berantai dan dengan berbagai teka-teki. Namun menjelang akhir, saya mewek, lalu tercengang.

Kapan kamu mungkin akan mewek: Saat John Watson (Martin Freeman) mengaku kepada Mary (Amanda Abbington) (yang ada di pikirannya) bahwa ia pernah terlibat hubungan dengan si "perempuan bus", meski tak pernah lebih daripada chatting (atau SMS-an?). Lalu dia bilang,

I'm not the man you thought I was, I'm not that guy.

Who you thought I was is the man who I want to be.

3. The Little Prince (2015)

Si anak perempuan dan sang Pilot

Si anak perempuan dan sang Pilot via http://www.fatherly.com

Penulis naskah: Mark Osborne, Bob Persichetti (berdasarkan Le Petit Prince karya Antoine de Saint-Exupery)
Sutradara: Mark Osborne
Garis besar cerita: Seorang anak perempuan terhimpit di antara jadwal harian yang penuh dengan kegiatan belajar, yang disiapkan secara ketat oleh ibunya yang ambisius untuk mempersiapkannya bersekolah di Werth Academy. Ibunya menyebut serangkaian jadwal harian dan rencana-rencana masa depan yang disusun secara sistematis itu sebagai "life plan". Saat sang ibu pergi bekerja, terjadilah insiden yang mengenalkan si anak perempuan dengan sang Pilot tua dan eksentrik yang tinggal di sebelah rumahnya. Pilot tua itu mulai menceritakan padanya tentang Little Prince dan mereka berdua lama-lama jadi teman. Si anak perempuan sering bermain di rumah sang Pilot tanpa sepengetahuan ibunya. Lama-lama ketahuan oleh ibunya, yang kemudian menghukum si anak dengan lebih banyak tugas belajar. Menyelinap ke rumah sang Pilot, si anak perempuan menanyakan akhir cerita Little Prince. Ia menjadi marah dan kecewa akan akhir ceritanya, lalu pergi meninggalkan sang Pilot.

Suatu hari, sang Pilot jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Saat itulah, si anak perempuan bersama boneka serigala menerbangkan pesawat si Pilot untuk menemui Little Prince. Mereka mendarat di sebuah asteroid dan menemukan Little Prince sudah menjadi orang dewasa, Mr. Prince, dan lupa akan masa lalunya.

Kapan kamu mungkin akan mewek: Saat pertama kalinya sang Pilot memberi tahu si anak perempuan bahwa dia akan pergi menemui Little Prince. Lalu saat si anak perempuan beradu mulut dengan ibunya dan sang ibu menyobek lembaran-lembaran cerita The Little Prince. Lalu sang Pilot menceritakan akhir cerita The Little Prince pada si anak perempuan. Saat si anak perempuan dan Little Prince bertemu kembali dengan si mawar, itu juga akan membuatmu sedih.

I'm going to lose him, too. And grow up. And forget all about him.

Mungkin bagimu film ini tidak semengharukan itu, tapi saya memang mewek berkali-kali saat menonton film ini. Saya menangis karena saya takut sembari tak henti bertanya pada diri sendiri, jangan-jangan selama ini saya telah jadi orang "dewasa" dan melupakan esensi dari segala hal, seperti yang dialami Mr. Prince. Itu sangat mengerikan, kau tahu?

4. Kotonoha no Niwa/The Garden of Words (2013)

Yukino akhirnya membuka diri

Yukino akhirnya membuka diri via http://pinterest.com

Penulis naskah & sutradara: Makoto Shinkai
Garis besar cerita: Takao dan Yukino saling menemukan di sebuah taman di Shinjuku Gyoen saat hujan turun di pagi hari. Takao, seorang remaja laki-laki berumur 15 tahun yang bercita-cita menjadi pembuat sepatu, gemar membolos jam pertama sekolah jika hujan turun di pagi hari. Ia akan ke taman dan membuat desain sepatu di sana. Sementara itu, Yukino, seorang guru berumur 27 tahun, juga membolos dari sekolah dan minum bir serta makan cokelat di taman itu.

Mereka saling berinteraksi tiap kali bertemu di taman, meski tidak pernah berkenalan secara formal. Takao, yang menemukan sosok yang mendukung cita-citanya dalam diri Yukino, memutuskan untuk membuatkan sepasang sepatu untuknya. Meski Takao sudah membuka diri terhadap Yukino, tak begitu halnya dengan Yukino. Dia tak pernah menceritakan masalahnya terhadap Takao, pun tidak memberitahu siapa dirinya sebenarnya.

Kapan kamu mungkin akan mewek: Saat Takao menumpahkan kekesalannya pada Yukino di dekat tangga apartemen.

You'll listen to others all day but never say a thing about yourself!

Lalu Yukino memeluk Takao di dekat tangga itu, dan menggerung-gerung.

Every morning! Every morning I put on my suit to go to school... But I was scared! I just couldn't go. But in that place, you saved me!

5. The Immitation Game (2014)

Penulis naskah: Graham Moore

Sutradara: Morten Tyldum

Garis besar cerita: Film ini merupakan biografi Alan Turing (Benedict Cumberbatch), seorang ahli matematika Inggris yang berperan penting dalam Perang Dunia II. Bersama dengan rekan-rekan pemecah kode di Bletchley Park, dia berusaha memecahkan kode mesin komunikasi Nazi, Enigma. Sebagai seorang homoseksual, di zaman itu, Alan dihukum oleh pemerintah Inggris. Dia harus memilih antara dipenjara atau bersedia menjalani terapi hormon untuk "menyembuhkan" homoseksualitasnya.

Kapan kamu mungkin akan mewek: Saat Joan Clark (Keira Knightley) menemui Alan di rumahnya (setelah Alan menjalani terapi hormon). Alan, menangis karena tidak mau kehilangan superkomputernya. Joan menghiburnya dengan berkata,

The world is an infinitely better place precisely because you weren't [normal].

I think that sometimes it's the very people who no one imagines anything of, who do the things that no one can imagine.

Di akhir, tertulis bahwa akhirnya Alan bunuh diri. Yang membuat saya emosional adalah ketidakadilan yang dialami oleh Alan Turing (terlepas dari jasa besarnya dalam Perang Dunia II dan perkembangan komputer) dan para homoseksual lain di masa itu yang menerima hukuman oleh pemerintah Inggris. Mereka dihukum karena sesuatu yang berada di luar kendali mereka.

Bagaimana, apakah kau sudah menonton film-film itu, dan apakah kau mewek? Maaf ya, kalau ternyata kamu nggak mewek. Berarti saya sedang terlalu sensitif saat menonton film-film itu. Atau, kamu yang kurang peka. Hihihi.