“Menjadi tua itu pasti namun menjadi dewasa itu adalah sebuah pilihan”.

Begitulah banyak orang mengistilahkan kedewasaan seseorang yang justru sebenarnya bukan dipandang dari segi usia, melainkan caranya bersikap dan bagaimana ia memecahkan sebuah masalah dengan bijak. Tidak sedikit orang yang sudah memiliki usia cukup tua, namun sikapnya masih saja kekanak-kanakan. Ada yang salah? Tentu tidak, hanya saja pola pikir dan kedewasaan adalah tolak ukur dalam mengenali kepribadian seseorang.

Mencari jodoh atau mendapatkan pekerjaan contohnya. Tidak ada perusahaan yang mau mempekerjakan seseorang yang ketika deadline tapi malah menghilang tanpa pesan cuma karena ingin nonton konser, kan? Berbeda dengan masa usia kanak-kanak yang serba polos dan seenaknya saja.

Bagi yang sudah mempunyai anak, pasti pernah mengalami hal-hal heroik ketika membesarkan buah hati mereka. Tingkah lucu, menyebalkan, sampai yang bikin nangis. Tapi taukah kamu? Sebenarnya anak-anak pun sebenarnya secara tidak langsung mengajarkan filosofi kehidupan kepada orang-orang dewasa di sekitarnya.

1. Bahwa hidup adalah sebuah proses

Anak rentan jatuh dari tangga via https://health.detik.com

Ketika seorang bayi dilahirkan, ia tidak serta merta dapat berbicara, ia hanya mampu menangis. Ia tidak langsung makan segala jenis makanan yang ada di sekitarnya, ia hanya mulai dengan susu saja. Ia baru akan dapat berbicara dan bernyanyi setelah melewati banyak tahapan menyimak, meniru dan kemudian mengucapkannya dengan sempurna.

Bayangkan jika ia lahir dengan tubuh langsung seukuran orang dewasa normal, berbicara saksama tanpa belajar terlebih dahulu, dan makan minum sesuka hatinya, kira-kira orang tua mana yang akan menikmati bahagianya menjadi orang tua tanpa semua proses tersebut? Menjadi dewasa dan menempuh kesuksesan pun butuh proses. Dari proses itu kita belajar tentang benar dan salah, baik dan buruk, serta mengetahui bagaimana hitam putihnya dunia ini.

2. Hidup itu adalah belajar sepanjang hayat, jadi jangan merasa menjadi yang paling pintar

Preschool graduation baby via http://momsanity.com

Setali tiga uang dengan poin pertama, maka dalam proses itu kita diberikan banyak pembelajaran yang tidak akan pernah ada habisnya. Bagi orang tua yang sudah memiliki lebih dari seorang anak, tentunya sudah hafal bahwa sejak bayi merekalah yang banyak berperan mengajari banyak hal kepada anak. Namun sudahkah kita belajar pula dari mereka tentang rasa sabar, mengalah meskipun benar, menekan ego, dan banyak hal lainnya?

Advertisement

Jangan mengeluh ketika saat ini kamu sedang berada di tengah badai masalah, karena itulah yang menjadi uraian tugas dan pelajaran di universitas kehidupan.

3. Pantang menyerah dan bermental baja

Don’t give up via http://myfertilitychoices.com

Hal yang tidak kalah penting dari memiliki banyak pengetahuan adalah memiliki mental kuat seperti baja. Biasanya anak-anak yang sedang belajar memanjat tidak peduli bagaimana mereka akan jatuh, mereka hanya akan terus memanjat. Atau pernah melihat batita yang sedang belajar berjalan? Tak terhitung sudah berapa banyak mereka jatuh bangun dalam melakukan hal yang sama hanya agar mereka mampu berjalan. Mereka tidak pernah menyerah begitu saja.

Jika letih, mereka berhenti sesaat untuk beristirahat, lalu mulai lagi sampai mahir. Jika kamu sedang berlari mengejar cita-citamu, belajarlah dari mereka.

Ingat, untuk bisa berlari terkadang kita harus terjatuh terlebih dahulu. Namun itu bukan akhir dari segalanya. Bangkit, lalu kejar kembali cita-cita itu!

4. Tidak pernah menyimpan amarah, apalagi dendam

Grinning baby with two lower teeth showing via https://www.instagram.com

Semua anak mencintai orang-orang terdekatnya, terutama orang tuanya, tak peduli seberapa besar amarah orang tua mereka. Lihatlah ketika anda berteriak keras, ketika mereka mencoret-coret dinding. Mereka hanya akan bersedih sesaat, tapi tidak butuh waktu lama untuk kembali ke pelukan orang tua mereka kembali. Karena anak-anak tidak menaruh dendam. Jadi, sudah pernahkah anda memikirkan untuk meminta maaf terlebih dahulu kepada sahabat atau rekan anda yang sedang cekcok dengan anda? Jangan sampai anda kalah dari anak-anak, ya.

5. Jujur dan apa adanya

Makan berantakan via http://huffingtonpost.co.uk

Sebagai orang dewasa, kita sering tidak menyadari betapa pentingnya sebuah kejujuran dan menampilkan apa adanya kita, ketimbang bersembunyi dibalik topeng yang hanya menampilkan kepalsuan yang semu. Semakin kita belajar sisi positif dari anak-anak, semakin kita dibuat terpana dengan makhluk mungil ciptaan Tuhan ini.

Keluguan, kepolosan, kejujuran, dan sikap apa adanya mereka akan menampik kamuflase yang selalu kita nomor satukan. Terkadang sebuah kejujuran itu pahit tapi itulah kebenaran.

Jika suatu hari seorang anak memanggilmu, "gendut!" Jangan buru-buru marah. Jadikan itu sebuah teguran kecil yang memotivasimu untuk mengubah pola hidup menjadi lebih sehat.