Pernah ga sih kalian yang udah punya bisnis/usaha sendiri di bidang jasa (nggak jadi pegawai lagi maksudnya…) coba membuat catatan atau memo berapa jumlah Surat Penawaran (bahasa kerennya Offering Letter atau Engagement Letter) yang kalian udah sempat kirim ke Klien, tapi pas Kliennya baca langsung nawar habis-habisan, atau malah nggak lagi mau hubungin kita untuk diskusiin Surat Penawaran kita itu.

 

1. Sayang banget kalau sampai gagal deal dengan Calon Klien

Buat saya sih, kalau bisnis/usaha kita ini memang sudah memberikan pendapatan yang lebih dari target rata-rata yang kita mau capai setiap bulan, ya gapapa  juga sih si calon Klien ini kita ga follow up lagi. Tapi kalau bisnis/usaha kita, masih dalam tahap merintis mungkin usia 1-3 tahun. Rasanya sih sayang banget ya kalau banyak Surat Penawaran kita ga gooll (alias ga berhasil deal), apalagi bidang bisnis/usaha kita dibidang jasa. Ini agak rada-rada unik cara menentukan harga yang mau kita tawarin, ataupun harga yang mungkin bakalan sesuai dengan yang dapat disetujui oleh calon Klien. 

2. Bikin Proposal tuh bener-bener kudu dipikirin lho isinya

Dari pengalaman pribadi saya sejak dulu masih jadi pegawai tetap sampai sekarang sudah punya usaha sendiri di bidang jasa. Ternyata kita tuh perlu benar-benar memikirkan surat penawaran atau proposal yang mau kita kasi ke Klien kita, dengan tujuan surat penawaran itu bisa sesuai dan memenuhi harapan calon Klien dan akhirnya bisa deal untuk pakai jasa kita.

3. Mutual Relationship

Basicnya usaha jasa sebenarnya adalah kerjasama antara Klien dengan kita sebagai pemberi jasa. Jadi harusnya ada mutual relationship yang perlu jadi pertimbangan awal sebelum kita mengirimkan surat penawaran sehingga bisa deal dengan Klien untuk menggunakan jasa kita.

4. Beberapa pertimbangan untuk menyusun proposal dan tentuin harga jasa kita

Beberapa hal ini rasanya perlu menjadi pertimbangan kita dalam menyusun atau menentukan harga jasa yang akan kita berikan ke calon Klien.

1. Kenali dulu dengan jelas tipe calon Klien, apakah tipenya mau cepat beres, tipenya ringkas, tipenya ga ribet, atau malah kebalikannya;

2. Kenali bidang usaha/bisnis calon Klien, apakah calon Klien ini adalah pedagang, pebisnis, orang professional seperti Dokter atau Konsultan, ataupun perusahaan berskala nasional bahkan multinasional, atau malah perusahaan asing (treatment ke tiap-tiap Klien itu beda-beda);

3. Pahami betul bentuk jasa yang mereka inginkan dari kita dan apa hasil akhir yang mereka harapkan, kira-kira bagaimana kemampuan mereka memberi penghargaan ke kita atas jasa yang akan kita berikan nanti dan cara kita memenuhi hasil akhir yang Klien inginkan;

4. Khusus untuk yang masih merintis usaha/bisnis di bidang jasa, baiknya harga kita jangan terlalu tinggi mengikuti harga rata-rata pemberi jasa yang sama dengan kita, karena gimana pun, namanya juga kita masih merintis, yang lebih penting adalah membangun long-term relationship dengan calon Klien, jadi si Klien bisa sering-sering menggunakan jasa kita dan order ke kita, jadi kita punya income yang rutin dari 1 Klien, tapi dalam hubungan yang tetap mengutamakan Profesionalitas yahh… Harga murah, bukan berarti kemurahan juga. Yang pasti harganya wajar dan sesuai.

5. Surat penawaran sebaiknya menggunakan gaya bahasa yang singkat padat dan jelas, sehingga lebih mudah dipahami oleh pembaca. Biasanya Klien duluan akan melihat bagian harga yang kita tawarin daripada bagian ruang lingkup / scope of work kerjaan kita;

6. Trus sebaiknya sih, kita ga pelit ilmu. Ya kalau dalam saat melaksanakan pemberian jasa, kita jangan terlalu kaku dan terpaku hanya pada ruang lingkup pekerjaan yang sudah disepakati saja. Selama masih dalam batas kewajaran, boleh juga sih kita kasi bonus konsultasi atau jasa-jasa yang ga terlalu sulit untuk kita kerjain, selama itu tidak mengeluarkan biaya diluar biaya jasa kita.

7. Kemampuan meng-analisa siapa dan bagaimana Klien kita, penting juga lho diperhatikan dalam menentukan harga yang mau kita tawarin, biar kerjaan yang udah di depan mata ga lepas, artinya kerjaan itu bisa jadi rejeki kita dan bermanfaat buat kita juga buat Klien.

5. Happy Working

Freeimages

Freeimages via http://google.com

Selama saya punya usaha sendiri, saya menjalankan step-step diatas dalam membuat surat penawaran, dan Thank God, biarpun secara value belum terlalu kelihatan hasilnya, tapi mostly surat penawaran yang kantor saya kirimkan, jarang gagal, jadi stabilitas keuangan kantor saya, so far so good… hehehhehe..

Nah, semoga step-step diatas bisa membantu memberikan gambaran gimana caranya agar surat penawaran yang kita kirimkan tepat sasaran dan bisa berhasil memberikan value sesuai harapan kita dalam memberikan jasa ke Klien.