Terlepas dari aturan baku tulis-menulis yang membelenggu, seperti tata letak, formatting dan ejaan. Ada beberapa hal penting yang sering dianggap renik dalam menulis cerita, alias asal tulis saja. Padahal hal-hal inilah yang membuat cerita jadi menarik, unik, dan mengusik hati pembaca. Saatnya kamu tahu bahwa menulis cerita itu juga butuh teknik!

Ide saja tidak cukup untuk membuat cerita kita cantik. Seringkali ide yang sederhana, misalnya cerita tentang kejadian duduk di bangku bus yang sama menjadi cerita yang menarik. Sedangkan, alur yang rumit tak jarang hanya membuat kening mengeryit. Itulah kenapa menulis cerita juga butuh teknik!

Kamu tentu gak mau kan ceritamu berujung kerja tanpa pembaca? Nah, sentuhan teknis dalam menulis cerita ini tujuannya agar cerita enak dinikmati, pembaca merasa larut dalam cerita, dan memukau sehingga berakhir dengan kesan ’wow.’

Jadi apa yang telah dibaca oleh pembaca akan membekas dalam ingatannya dan ia menuai sesuatu dari karya kita. Terlebih cerpen yang memiliki batas rentangan yang lebih pendek. Judul, permulaan cerita, alur dan akhir cerita adalah kunci untuk membumbui cerita.

1. Judul adalah hal pertama yang tertangkap oleh pembaca. Kuncinya bagaimana membuat pembaca tertarik dan pada pandangan pertama.

Judul ceritamu harus membuat pembaca bermata cinta! via https://sehat-jr.blogspot.com

Ibarat manusia, judul cerita adalah pakaian yang kita kenakan. Karena judullah yang akan langsung mendapat penilaian dari pembaca: apakah dari judul yang kamu berikan cerita itu layak dibacanya atau tidak.

Cara lama, bacalah keseluruhan cerita yang telah ditulis, lalu tangkap maksud yang ingin disampaikan, tentukan penekanan, maka judul yang sesuai akan muncul dari benang merah di antaranya. Judul bisa diangkat dari tema, istilah, konklusi akhir cerita, objek maupun kejadian klimaks dalam cerita yang kamu tulis.

Tetapi terkadang judul harus dibuat dahulu untuk memuculkan gagasan-gagasan dalam cerita.

Advertisement

Membuat judul sebenarnya sederhana, bahkan bisa hanya satu kata.

Judul bisa jadi satu kata saja, kata yang memikat! Satu kata yang menggambarkan isi cerita atau suasana dalam cerita. Misalnya Asing (karya @just-anny), Hilang, Diaspora, dan Air (karya Ras Siregar dalam Antologi Harmoni). Dari judul itu tentu mengalir pertanyaan: mengapa asing?; ada apa dengan air?; apa yang hilang? Bahkan judul satu kata saja sudah mengundang penasaran, diaspora?

Jangan biarkan judul terpajang biasa, riasi dengan analogi dan metafora.

Tetapi kata-kata seperti Asing, Hilang, Air, dan Diaspora tersebut tentu berbeda dengan ‘Mawar,’ atau ‘Tangisan,’ jika digunakan sebagai judul. Ini karena tidak ada muatan perasaan dalam kata tersebut. Namun, jika kedua kata itu diubah menjadi ‘Mawar Tak Berduri’ dan ‘Tangisan Bisu’ kesannya berubah bukan?

Seperti pantun, persamaan bunyi juga menambah warna.

Memanfaatkan rima atau akhiran yang sama juga memberi kesan tersendiri pada judulmu. Persamaan huruf awal kata juga bisa menjadi alternatif judul ceritamu. Pilihlah dua kata atau lebih dengan persamaan huruf awal atau akhiran yang menggambarkan ceritamu. Seperti judul sitkom populer Bajaj Bajuri, Jeritan Jakarta (karya @rafenditya), ‘Kereta Kudeta,’ atau ‘Pengungsi Perahu.’

Bumbui judulmu dengan rasa gaya bahasa.

Kata-kata yang bertentangan, amanat atau objek cerita, dapat dijadikan judul jika memang mengundang tanda tanya. Misalnya Api-api Dingin, ‘Hujan yang Menipu.’

Nama tokoh juga bisa dipakai untuk judul cerita, misalnya Hakim Sarmin (oleh Agus Noor, Kompas 31 Mei 2015) yang menceritakan seorang hakim yang mengadili terdakwa pelaku pembunuhan terhadap 5 lelaki yang memerkosanya. Namun ternyata ada yang salah dalam pemeriksaan, karena pelakunya adalah enam orang dan si Hakim adalah salah satu pelakunya.

Buat judulmu orisinil, hanya kamu yang punya!

Menjadikan pilihan kata yang mainstream sebaiknya dihindari, misalnya ‘Malam Minggu Kelabu’ atau ‘Kekasih Terakhir.’ Buatlah kesan eksklusif atas ceritamu. Jangan menumbuhkan kesan kepada pembaca bahwa cerita karyamu pasaran.

2. Judul saja tidak cukup untuk membuat kesan yang meletup-letup! Jangan mengecewakan pembaca dengan pembukaan cerita yang garing di balik judul yang menarik.

Pembukaan ceritamu jangan mengecewakan via http://www.huffingtonpost.com

Judul menarik harus diikuti dengan pembukaan cerita yang dramatis dan menarik pula. Karena inilah tempat wajibnya diletakkan bagian cerita yang mencuri perhatian pembaca. Paragraf pertama menjadi penentu apakah pembaca akan melanjutkan membacanya atau tidak. Ingat, pembaca punya bacaan lain dan karya kamu bersaing dengan mereka.

Membuka cerita dengan kalimat mutiara bisa membuat pembaca terkesan di detik pertama.

Selain indah, untaian kalimat mutiara mampu memberikan nilai pada permulaan cerita. Buatlah sebuah kalimat yang memuat nilai atau sebuah kesimpulan yang memungkinkan pembaca akan mencatat, mengutip dan membaginya ke orang lain. Dengan teknik ini, ceritamu akan lebih cepat tersebar luas dan dikenal. Sebagai contoh adalah pembuka cerpen Hakim Sarmin karya Agus Noor (Kompas 31 Mei 2015) berikut:

“Keadilan memang lebih mudah didapatkan di luar pengadilan…”

Membuka cerita dengan detik-detik mulainya konflik akan membuat pembaca tak sabar untuk membaca kelanjutan cerita.

Jika kesulitan membuat kalimat mutiara, kamu bisa membuka cerita dengan bagian pre-klimaks. Letakkan bagian di mana konflik bermula di awal cerita. Potonglah alur cerita tersebut lalu disambung dengan flashback ke awal cerita.

“Brak! Pintu itu dibuka paksa. Dia gemetar ketakutan. Takut aksinya kali ini ketahuan.

Dia nekat beraksi lagi malam itu, berbekal linggis dan celana berkantong biasanya. Tak ada yang menyangka itu adalah aksi meresahkannya yang terakhir…”

Deskripsi puitis sebagai pembuka cerita membuat pembaca seakan mendapat sanjungan sastra.

Pembukaan dengan deskripsi latar tempat dan keadaan saat cerita terjadi merupakan teknik yang paling sering dipakai untuk memulai cerita. Deskripsikan pada lokal tempat kejadian saja, sehingga pembaca tidak merasa dibawa keluar cerita. Pilihlah diksi dan majas yang tepat sehingga melarutkan hati pembaca seolah ikut mengalaminya.

“Langit menggelegar. Ia seperti raksasa lapar yang marah menanti sarapan. Wajahnya menghitam. Begitu marahnya hingga ia menangis. Jarum-jarum bening bagai mencumbui pucuk-pucuk karet yang bosan meranggas…” (Air Akar karya Banny Arnas, Kompas 17 Maret 2013)

Dengan gambaran suasana yang sama, tentu rasanya berbeda jika pembuka cerita itu begini:

“Petir menyambar di langit keras sekali. Langit gelap menghitam. Lalu hujan turun dengan derasnya membasahi hutan karet yang meranggas”

3. Permulaan cerita yang menyanjung hanyalah pemandangan di hulu. Sedangkan alunan cerita harus menyajikan pemandangan yang tak kalah memukau sampai pada muara.

Buat pembaca seolah berkencan dengan ceritamu! via https://astrosecrete.wordpress.com

Alur adalah runtutan kejadian dalam cerita. Secara kebahasaan beberapa jenis alur yaitu alur maju, mundur, dan campuran atau flashback. Dalam praktik menulis, alur yang mampu menyimpan akhir cerita tanpa tertebak adalah yang sering diacungi jempol. Karena itu membuat pembaca meresapi setiap bagian cerita.

Di sinilah penggagas cerita dituntut untuk menjaga kerahasiaan akhir cerita. Buatlah pembaca terkaget, jengkel, melongo atau tertegun dengan alur yang tak tertebak.

Menyusun runtutuan alur tidak ada tuntunan yang saklek, lika-liku cerita sepenuhnya kreativitas kamu. Tidak harus berpacu pada tuntunan tertentu. Tuliskan seluruh runtutan peristiwa yang merupakan gagasan pokok sebagai acuan untuk mengembangkan cerita. Hal ini tidak mutlak harus dilakukan, beberapa penulis hanya menuliskan cerita secara mengalir lepas.

Dalam menuturkan alur, perhatikan kata atau kalimat penghubung yang menjadi jembatan antar batasan waktu peristiwa.

Awal – Tengah – Akhir

Menjadi anak tunggal dengan kedua orang tua yang sibuk membuatku sering kesepian. Seperti saat ini, terjebak di halte saat langit menumpahkan amarahnya. Dijemput papa atau mama hanyalah khayalan yang sering membuatku iri. Itu juga yang membuatku lebih pendiam dan ‘jajan’ alias jomblo-jomblo aja nih. Kecuali mengkhayalkan cowok idaman.

Sepertinya langit belum kehabisan stok air mata. Ataukah aku dihukum olehnya? Tanganku resah memilin ujung kemeja.

“Hey! Sendirian?” seseorang menepukku dari belakang. Ah suara itu. Mengejutkan dan menyejukkan.

“Yah. Nunggu reda.” aku ingin melihat cermin bagaimana ekspresiku barusan. Oh semoga pipiku tidak bersemu karena salah tingkah.

Langit mulai memerah ketika ia menghentikan tangisnya. Dia baru saja pergi menyusuri trotoar. Oh andai aku tak menunggu temanku, batinku sambil menatap punggungnya yang berjalan menjauh.

Tuk! Sebuah payung merah roboh dari sandarannya di tiang halte. Tertulis namanya di situ. Dia tadi bilang gak bawa payung kan, pikirku. Mungkinkah dia sengaja berbohong untuk menemaniku? Aku langsung berlari menyusulnya yang belum terlalu jauh.

Akhir – Tengah – Awal

Doorr!! Suara tembakan keras membumbung. Mini tersungkur membentur trotoar

“Miiniiiii!”

Waktu itu aku mulai jengah dengan rengekan Mini yang meminta permen kapas. Aku menyesal telah menyuruhnya menunggu di situ. Menjadi sasaran amuk peluru.

Jika tahu akan seperti ini, pagi itu sebaiknya aku tak mengamen seperti kata ibu. Tetapi, sol sepatu yang tertawa lebar memaksaku. Aku pun berangkat, bersama Mini yang kini tak lagi bisa kulihat tingkahnya yang lucu.

4. Gaya deskripsilah yang memegang kunci pikatan hati pembaca.

Aduk-aduk emosi pembaca dengan kata-kata! via http://hdimagelib.com

Esensi dalam menulis cerita adalah mendeskripsikan sesuatu. Merekayasa kenyataan dengan kata-kata yang mengikat pembaca di tempat duduknya. Teknik narasilah yang membawa pembaca dengan apakah dengan berenang di permukaan, menyelami atau menunggu dengan bosan di pinggir kolam.

Alur yang tak tertebak hanya akan hambar tanpa deskripsi yang kuat. Menyajikan akhir cerita di awal pun tidak serta-merta membuat ceritamu akan ditanggalkan.

Sesuaikan gaya deskripsi dengan segmen pembaca dan genre cerita yang kamu tulis.

Genre cerita tertentu memerlukan gaya deskripsi yang berbeda pula. Menulis cerita dengan genre roman misalnya, tentu lebih pas memakai deskripsi yang puitis dan mendayu. Sebaliknya menuliskan genre aksi cenderung lebih tegas dan tergesa untuk menghidupkan suasana.

Meski begitu sebaiknya tidak mendeskripsikan sesuatu secara bertumpuk atau mengulang-ulang. Hal itu akan membuat pembaca merasa bosan.

Jika menuliskan dialog, sesuaikan dengan keterangannya. Yang sering menjadi koreksi adalah menuliskan cerita dengan dominasi dialog, dan narasinya hanya seperti ini, “Di sekolah…,” “Sesampai di rumah…” Jika memang begitu sebaiknya diubah ke format drama.

Deskripsi erat kaitannya dengan gagasan. Berikut contoh gagasan sederhana dengan deskripsi yang dramatis:

“Pak Burhan sedang di kelas mengajar mahasiswanya saat ponsel itu berdering. Tititiiitt tititiiit! Bunyi kuno itu membuat semua kening mengernyit. Seketika kelasnya yang dipenuhi gelak tawa menjadi hening. Semua mata saling pandang sambil menahan tawa, dari mana bunyi jadul itu berasal.

Sementara Pak Burhan berdiri kaku. Wajahnya pucat. Akankah aku terpergok dengan ponsel butut ini, batinnya grogi. Sementara mata para mahasiswanya seolah menanyakan ‘bapak masih pakai hape begituan?’”

5. Setelah menyusuri indahnya hulu sambutlah pembaca dengan panorama hilir yang mengejutkan. Apakah akhir ceritamu hanya sampai laut, atau terus mengalir ikut arus laut?

Berikan kejutan di akhir cerita! via http://yuvayayolculuk.com

Secara bahasa, ada dua jenis akhiran cerita yaitu tertutup dan terbuka. Secara sifat ada sad ending dan happy ending. Akhiran tertutup mengungkap kejelasan konflik, baik itu berakhir bahagia atau tidak.

“Plak! Dia melenggang pergi. Bibirku membulat dengan pipi panas tanpa sempat mengatakan kata pertama dari penjelasanku. Penjelasan yang memang baru saja ia saksisan kebenarannya. END”

“Ckling! Pemberitahuan email masuk memalingkanku dari suapan pertama kwetiau rebus. Nama pengirim yang muncul di pop-up seketika membuatku melompat. Tuhan, akhirnya kau izinkan aku melanjutkan studiku!

Aku langsung menyalami ibu Siti yang sedang menggoreng nasi, mencium tangannya, sambil membayar kwetiauku tanpa minta kembalian. Aku pergi setengah berlari. END”

Sedangkan akhiran terbuka memungkinkan lahirnya dugaan-dugaan lanjutan cerita oleh pembaca.

“Dia ada benarnya, aku merenung sejenak. Sebelum akhirnya mengejarnya keluar stasiun. Kurasa dia belum begitu jauh. END”

“Aku gamang setelah undangan itu terlanjur ter-posting. Oh akankah aku menggugat Tuhanku? END”

6. Seni bercerita bukanlah Matematika!

Menulis cerita nggak butuh rumus! via http://computerworld.hu

Tidak ada panduan khusus atau rumus eksak dalam seni bercerita. Untuk mengasah kemampuanmu hanya dibutuhkan berlatih dan banyak membaca!