Rasa syukur merupakan sesuatu yang seharusnya dimiliki oleh setiap manusia dimanapun dan dengan kondisi apapun. Tetapi, mengapa kenyataan yang terjadi malah hal yang sebaliknya? Saat ini, semakin sedikit orang yang mampu mengucap syukur atas berkat yang sudah diberikan oleh Tuhan.

Salah satu hal yang paling nyata yang dapat kita lihat yaitu dari semakin banyaknya pengguna media sosial yang lebih sering mengungkapkan keluhan ataupun kekesalan mereka di dalam status Facebook/twitter dan sejenisnya dibandingkan dengan mengucapkan rasa syukur mereka meskipun hanya untuk hal-hal kecil.

Padahal media sosial adalah tempat dimana setiap orang bisa saling berinteraksi, yang artinya setiap huruf yang kita torehkan dalam sebuah status akan mendapat perhatian dari teman atau pengikut kita. Bukankah kita telah memberikan pengaruh yang buruk bagi jiwa orang lain ketika kita terus menerus mengeluh dan mengeluh?

Lalu hal apa sebenarnya yang sedang terjadi? Mengapa seseorang bisa menjadi berhenti bersyukur?

Berikut merupakan penjabaran tentang hal-hal yang harus kita hindari agar kita bisa menjadi manusia yang tahu cara bersyukur. Bacalah dan lihatlah bagaimana dengan dirimu sendiri!

 

1. Terlalu fokus pada diri sendiri

Focuss on me!

Focuss on me! via http://nealhallinan.com

Seseorang yang mempunyai kepribadian tipe pengeluh pada umumnya adalah orang yang terlalu fokus pada dirinya sendiri tanpa memperhatikan bagaimana kehidupan disekelilingnya tengah berlangsung. Terlalu sibuk memikirkan kesulitan yang sedang dialami biasanya membuat seseorang cenderung untuk mengasihani diri sendiri dan menganggap bahwa apa yang sedang dilaluinya adalah hal yang sangat berat sehingga masalah orang lain tampak seperti hal sepele baginya.

Memang ada saatnya masalah pelik menghampiri hidup kita dalam berbagai celah kehidupan kita, mulai dari kesehatan, pendidikan, pekerjaan, orangtua dan sebagainya, tetapi kita pasti bisa menyelesaikannya. Kita punya sahabat, keluarga, bahkan Tuhan yang pasti mau membantu kita dalam menyelesaikan masalah.

Namun, hal lain yang menjadi masalah adalah ketika masalah itu tidak terselesaikan dan dibiarkan menggantung yang kemudian tertimbun oleh masalah-masalah lain yang pasti akan datang. Rasanya seolah-olah beban 10 ton di titipkan diatas pundak kita, padahal yang sebenarnya terjadi adalah kita yang terlalu mendramatisir kehidupan kita sendiri sehingga tampak seperti sesuatu yang sangat menyedihkan dan patut dikasihani.

Untuk menghindari hal ini menjadi berkelanjutan, maka hal penting yang perlu dilakukan adalah dengan banyak melihat. Lihatlah sekelilingmu! Ketika sedang berada di tengah perjalanan tidak ada salahnya melihat para penyapu jalan, pemulung, pengamen atau bahkan seseorang dengan pakaian seragam kerja. Lihatlah mereka dan tanyakan lagi dirimu sendiri, "Jika aku adalah mereka, apakah sudah pasti aku akan terhindar dari masalah?"

Ingatlah setiap orang memiliki masalah dan kita tidak memiliki hak untuk menimbang masalah siapa yang lebih berat. Hadapilah dan perhatikan juga orang lain! Melihat bagaimana mereka menyelesaikan masalah mereka tentu akan membantu kita untuk memulai memecahkan masalah kita sendiri. Anggaplah bahwa masalah merupakan hal yang wajar dan merupakan satu tahap yang harus kita lewati agar kita menjadi manusia yang dewasa.

2. Terlalu sering membandingkan orang lain dengan diri sindiri

The Heart vs The Mouth

The Heart vs The Mouth via http://thedailydigi.com

Melihat keberhasilan orang lain dalam menjalani kehidupan sehari-hari mempunyai dampak yang postif bagi diri kita. Salah satunya, kita bisa mendapatkan motivasi untuk melakukan hal-hal yang sama hingga keberhasilan yang serupa juga dapat kita raih.

Namun, bagaimana bila hal itu terlalu sering kita lakukan?Berbahaya. Mungkin itulah jawaban yang paling tepat.

Terlalu sering melihat keberhasilan orang lain lalu membandingkannya dengan keberhasilan diri sendiri bisa jadi merupakan sumber rasa dengki yang bisa muncul di dalam hati seseorang. Hal yang seharusnya menjadi pemacu semangat agar tetap tinggi malah membuat semangat tiba-tiba menjadi tiarap. Maka hal lain pun muncul, yaitu rasa minder yang bertunas dan perlahan-lahan akan bertumbuh subur ketika dipupuki oleh opini menyimpang "Tuhan lebih mengasihi dia daripada aku". Padahal keberhasilan yang diraih oleh orang tersebut bisa jadi adalah buah tangan dari kerja keras yang telah dilakukannya selama bertahun-tahun sebelumnya.

Belajar dari keberhasilan orang lain memang penting, tetapi kita juga harus tetap mengenali diri kita sendiri. Sudahkah kita bekerja keras untuk mendapatkan apa yang kita inginkan? Sudahkan kita pantas untuk mendapatkan impian kita itu dengan bermodalkan usaha kita saat ini? Seharusnya yang kita lakukan bukan hanya membandingkan pencapaian orang lain dengan pencapaian kita sendiri, tetapi juga proses yang ada didalamnya. Sudahkah usaha kita sekuat sebagaimana mereka telah melakukannya? Dan yang paling penting Sudahkah kita mengucap syukur seperti mereka.

Apabila jawabannya masih belum, maka kita tidak memiliki hak untuk menuntut Tuhan dalam hal keadilan. Perlu dicatat bahwa Tuhan-lah yang Maha melihat, Maha mengetahui, dan Maha adil. Jika Dia merasa bahwa kita sudah layak, maka Dia sendirilah yang akan mengangkat kita. Jadi, tetaplah bersyukur meskipun saat ini kita masih belum apa-apa.

3. Bersyukur karena harapan terkabul

I'm happy when i get what i want

I'm happy when i get what i want via http://superiorplatform.com

Di dalam kitab manapun tidak ada dikatakan bahwa bersyukur hanya boleh dilakukan ketika harapan kita terkabul, malah kita dituntut untuk tetap merasa bersyukur dalam keadaan apapun. Tetapi, pada kenyataannya kita sering kali enggan untuk mengucap syukur terutama jika hal buruk sedang terjadi pada kita. Kita sering berpikir bahwa syukur adalah ungkapan untuk sesuatu yang membahagiakan kita, padahal tidak selamanya harus seperti itu.

Udara yang kita hirup, air yang kita minum, kesehatan yang kita miliki, bukankah hal-hal seperti itu seharusnya bisa menjadi alasan kita untuk tetap bersyukur meskipun tidak ada hal ‘besar’ yang terjadi dalam kehidupan kita untuk saat ini? Jadi, rasa syukur tidaklah melulu tentang impian, kesembuhan, jabatan, atau hal-hal yang kita inginkan. Bersyukur juga bisa tetap kita lakukan di tengah-tengah masalah yang kita hadapi, misalnya bersyukur ketika Tuhan mampu menguatkan kita ketika sesuatu membuat hati kita bersedih atau bersyukur karena Tuhan memampukan kita untuk tetap mengerjakan pekerjaan kita meskipun kita sedang flu.

Jadi, bersyukur tidak harus tentang apa yang kita inginkan, tetapi juga apa yang telah kita miliki saat ini sehingga tidak ada waktu yang tepat untuk tidak bersyukur. Rasa syukur adalah murni sebagai bentuk rasa terima kasih kita pada Tuhan yang pastinya akan membawa kedamaian bagi orang yang melakukannya.

 

4. Cepat berpuas diri

Be happy, but never satisfied - Bruce Lee

Be happy, but never satisfied - Bruce Lee via http://www.merdeka.com

Ketika seseorang mampu meraih keinginannya pasti memberikan rasa puas di dalam dirinya. Apalagi jika keinginan itu tercapai dengan mudah, maka rasa menghargai atas anugrah yang sudah didapatkan pun menjadi berkurang. Memang tidak ada salahnya untuk bangga akan apa yang sudah kita raih, tetapi kita juga tidak boleh larut di dalamnya. Jika kita terlalu hanyut dalam kebanggaan, maka lama kelamaan sifat sombong yang ada di dalam hati akan memunculkan dirinya.

Nah, dalam hal ini tentunya kita harus mampu membedakan perasaan bangga dengan kesombongan yang muncul dari diri kita. Bangga berarti senang atas karunia yang telah diberikan pada kita, sedangkan sombong berarti merasa bahwa apa yang diraih merupakan sesuatu yang murni karena kehebatan diri sendiri.

Orang yang cepat berpuas diri biasanya merupakan orang yang terlalu lama diam di dalam euforia keberhasilannya sehingga membuatnya sulit untuk memandang lebih jauh. Jadi, ketika kita sedang merasa bahagia atas keberhasilan, ada baiknya juga kita menyusun kembali hal-hal lain yang juga ingin kita raih. Tujuannya agar kita tetap memiliki mimpi di dalam hidup yang membuat kita untuk tidak lupa bersyukur dan meminta pada Tuhan.

5. Hidup terlalu adem ayem

Eat, work, sleep!

Eat, work, sleep! via http://www.beliefnet.com

Hidup terlalu adem ayem atau hidup dengan terlalu tenang atau santai juga bisa menjadi alasan kita kurang bersyukur. Kurangnya masalah yang dihadapi karena kencenderungan diri untuk menghindari tantangan mampu membuat seseorang menjadi lupa mengucap syukur. Alasaanya sederhana, karena tidak sedang dilanda masalah dan berada di dalam zona nyamannya.

Memiliki kehidupan yang tenang memang penting, tetapi bukan berarti kita harus menjauhkan diri dari tantangan-tantangan yang dapat membangun pribadi kita menjadi lebih baik. Kita tetap harus membuka diri terhadap hal-hal baru agar kita bisa memiliki pribadi yang lebih berkembang. Mencoba keluar dari kenyamanan diri dan memulai hal-hal sederhana yang mampu membuat kita menjadi lebih baik bisa dijadikan permulaan yang baik.

Kita tidak harus selalu ikut terlibat dalam hal-hal yang rumit, tetapi jika kita pernah melewati tahapan itu, maka pengetahuan dan kedewasaan kita juga telah terasah sehingga ketika kita dihadapkan kembali dengan situasi yang sama, tentu saja kita mampu menghadapinya dengan berbekalkan pengalaman yang sebelumnya.

Jadi bersyukurlah senantiasa meskipun terkadang hidup berjalan tidak sesuai harapan. Bersyukurlah untuk apa yang kita miliki saat ini. Bersyukurlah saat kita masih bisa melakukannya.