1. Sabar, rezekinya lancar

Selamat! Insyaallah rezeki kita semua jadi lancar karena sudah bersabar selama kurang lebih sebulan, kita harus bangga. Bayangkan disaat terik mentari menerpa dan kita harus terpanggang dengan kondisi begitu, kita masih kuat melanjutkan puasa. Di kala gundah gulana menunggu buka lalu kita membayangkan es sirup (yang mengancam batalnya puasa) kita masih kuat. Ibarat game, tingkat kesabaran kita telah naik level!

2. Ramah, panutan tetangga

Selain kita sabar dengan panasnya Jakarta dan kota lain di Indonesia yang juga sudah mulai membara. Di saat puasa kita juga tidak boleh menunjukkan tindak tanduk lesu tiada harapan. Jangan! Kita justru harus sebaliknya bersikap tegar dan ramah, menyapa semua orang termasuk gebetan yang selama ini nggak sanggup kita liat mukanya saking gugupnya. Tenang Sob, puasa bukan hanya menekan amarah tapi juga mengeluarkan sikap respek kita. Semangat! Kita pasti bisa ramah. Kalau biasanya kita bakal nekuk muka begitu ngeliat orang-orang atau menundukkan muka, kita harus mulai memandang mereka dan ucapkan salam. Intinya sebagai sesama orang yang berpuasa harus saling menyemangati dan jangan lupa banyak tersenyum.

3. Berbagi, disayang teman

Advertisement

Yep, seperti yang alasan sebelumnya bilang. Sikap respek kita jadi keluar begitu aja. Tiba-tiba sahur on the road menggema di handphone, ajakan bukber bareng anak yatim piatu bunyi di grup WA, BBM dan Line, ajakan bukber bareng opa oma dan anak jalanan dari komunitas peduli yang bahkan sering kita nggak peduliin. Iya, akhirnya kita ngerti gimana asiknya berbagi. Begitu ngeliat senyum merekah mereka ke kita yang awalnya niat setengah hati berbagi, akhirnya malah kita jadi seneng dan ketagihan untuk berbagi. Yang awalnya kita ragu ngasih roti ke pengemis karena kita sendiri laper, jadinya kita kasih karena kita bisa berbuka di rumah dengan makanan yang lebih enak. Yang akhirnya kita sering banget ajakin teman kita yang anak kosan untuk makan bareng dirumah, biar mereka senang. Selamat, kita seratus satu persen disayang barisan teman kita yang anak kos.

4. Bersyukur, disayang orang tua

Bersyukur, disayang orang tua via https://www.pexels.com

Setelah kita menahan lapar dari melek mata karena lupa sahur sampe beduk maghrib yang kedengarannya seperti bunyi gitar surgawi. Kita sadar bahwa apa yang kita makan selama ini adalah nikmat tiada tara, bahwa banyak orang yang keberuntungannya tidak sama dengan yang kita miliki. Meski yang kita punya adalah rendang dalam bentuk mie instan, orang lain mungkin cuman punya rendang dalam bentuk lembaran resep masakan. Semua hal menjadi begitu indah dan kita menjadi orang paling beruntung karena bisa memiliki yang sekarang kita miliki yang belum tentu orang lain miliki. Aah, indahnya dunia orang tua bila anaknya akhirnya bisa menerima diri apa adanya.

5. Rajin ibadah, kesayangan calon mertua

Rajin ibadah via https://www.pinterest.com

Bukan rahasia umum kalau kita akhirnya jadi rajin ibadah, tarawih di masjid, atau bahkan ngajakin tetangga buat tarawih bareng. Awalnya berlaku cuma di bulan penuh berkah ini, tapi karena dilakuin selama sebulan tanpa bolos akhirnya malah jadi kebiasaan. Dan Tuhan yang Maha Mengerti akhirnya memutuskan untuk mengirimkan jodoh karena melihat niatan dan ibadah yang kita lakuin. Buat yang sudah punya pasangan, rajin ibadah bisa menjadi peneguh hubungan. Bukannya rajin ibadah minta jodoh, tapi apa salahnya menjadikan ibadah sebagai landasan dan arah untuk menemukan jodoh yang tepat?

Boleh loh kunjungi blog aku ^^ >> lebailabiel.xyz.com