Tahu tentang "Seven Eleven" atau yang biasa disebut Sevel? Ternyata bukan hanya waralaba Jepang itu aja yang udah memasuki Indonesia, khususnya Jakarta. Tetapi, juga waralaba-waralaba asing lainnya. Nah, namun di sini Indonesia juga gak mau kalah dong. Menurut AFI (Asosiasi Franchise Indonesia), beberapa waralaba Indonesia telah memasuki dunia internasional. Bahkan, menurut AFI sudah ada 5 waralaba Indonesia yang benar-benar telah siap bersaing dengan waralaba-waralaba dunia. Kira-kira, kamu tahu gak siapa aja pendirinya?

 

1. Rumah makan Lele Lela asli dari Mas Rangga Umara, bisa sampai ke Malaysia

makan lele di Malaysia~

makan lele di Malaysia~ via http://www.plasafranchise.com

Namanya Rangga Umara, mantan manager salah satu perusahaan. Dia bukan di-PHK, melainkan resign karena saat itu keadaan perusahaan memang sudah tidak memungkinkan. Dengan modal 3 juta dari hasil menjual barang-barang pribadinya, Mas Rangga ini mulai bekerja sama dengan temannya yang memang ahli membuat racikan bumbu. Lalu, dibukalah warung Pecel Lele Lela (Lela = Lebih Laris) pertama di daerah Pondok Bambu, Jakarta Timur pada 2007. Namun, usaha ini tidak berjalan lancar, bahkan Mas Rangga sampai harus berhutang. Akhirnya dengan modal seadanya, dibukalah warung baru di tempat yang lebih strategis. Hingga Mas Rangga mampu meraup untung 3 juta per bulan. Dari situlah, dibuka cabang-cabang Lele Lela lainnya. Hingga kini, sudah ada 42 cabang warung Lele Lela di seluruh Indonesia dan satu cabang di Malaysia. Dan kamu tahu, nggak? Ternyata dalam sebulan, omzet yang bisa diraih Mas Rangga ini mencapai 4,8 milyar rupiah, loh! Wuih! Lele... lele....

2. Bumbu Desa ala Sunda aja bisa sampai luar negeri!

bumbu desa, rasa kota

bumbu desa, rasa kota via http://news.lewatmana.com

Namanya memang Bumbu Desa. Tapi jangan salah! Rasanya dijamin kota. Pak Santoni dan keluarga yang sangat mencintai kuliner tradisional, terutama sunda, mendirikan warung makan ini pada 2004. Kini, sudah ada lebih dari 50 cabang Bumbu Desa di Indonesia maupun luar negeri. Tidak hanya makanan, Pak Santoni juga menjamin kualitas pelayanan dari para pegawainya. Bahkan, ada pelatihan khusus loh untuk para pegawainya yang langsung dipandu oleh ahli dari bidang jasa dan psikologi. Keren, nggak?

Jenenge ndeso, tapi rasa karo rejekine kutho!

3. Cadas! Bahkan di luar negeri ada es teler!

yang teler, yang teler!~

yang teler, yang teler!~ via http://rahmatnawisiregar.wordpress.com

Awalnya, Es Teler 77 Bu Murniati ini hanyalah sebuah kantin kecil di pertokoan Duta Merlin Jakarta. Karena pajak yang tinggi, maka kantin kecil itu tentu harus tutup karena gak mampu bayar. Hingga akhirnya, dibukalah kantin baru di kawasan pertokoan Gajah Mada Plaza. Dan di sinilah Es Teler 77 menjadi sangat terkenal. Hingga didirikanlah sebuah perusahaan swasta milik keluarga, yaitu CV. Es Teler 77. Saat ini sudah ada cabang Es Teler 77 di Penang Malaysia, Singapore, New Delhi, dan Melbourne Australia. 

4. Dari gerobak hingga go internasional!

Mas Mono ini hanya lulusan SMA di Madiun dan hijrah ke Jakarta. Awalnya dia jadi OB sampai harus jualan pisang cokelat keliling SD. Hingga akhirnya, Mas Mono dan istri mempunyai ide berjualan ayam bakar. Dan sekarang sudah ada 29 outlet resto yang dimiliki Mas Mono. Tak hanya itu, Mas Mono juga mendapat penghargaan dari Asia Pasifik Entrepreneur Award 2010.

5. Tahu tentang J.Co? Ternyata pendirinya adalah orang Indonesia, lho!

donat oh donat~

donat oh donat~ via http://studentpreneur.co

Pendirinya adalah Johnny Andrean, penata rambut yang telah mempunyai 150 salon di seluruh Indonesia. Hobinya yang suka travelling menjadikan Mas Johnny ini punya segudang ide kreatif. Setelah salon, akhirnya Mas Johnny membuka gerai roti BreadTalk. Nah, sukses dengan BreadTalk-nya, Mas Johnny membuka J.Co Donuts & coffee. J.Co ini merupakan hasil risetnya ke berbagai negara seperti Australia, Amerika Serikat, Jepang, dan berbagai negara di Eropa.

 

Buat kita anak muda, sepertinya 5 pengusaha sukses Indonesia ini layak jadi contoh, ya. Karena mereka memang menjalankan segala sesuatunya tidak hanya dengan uang, tapi dengan niat dan perjuangan. Nah, makanya... yuk sama-sama sukses seperti mereka! Mumpung kita masih muda dan banyak ide, nih!