Di Hipwee, sepanjang dan sejauh pengetahuan saya, artikel tentang resensi buku masih dapat dihitung dengan jari tangan. Ini sepanjang pengetahuan saya, lho! Maka dari itu, saya akan mencoba untuk berbagi resensi buku yang telah selesai saya baca. Buku itu berjudul "Out of the Truck Box" karya seorang seleb Facebook yang bernama Iqbal Aji Daryono. Berikut ini identitas buku tersebut

Judul                    : Out of The Truck Box
Penulis                 : Iqbal Aji Daryono
Jumlah Halaman  : 308 Halaman
Penerbit                : Giga Pustaka
Tahun Terbit         : 2015
ISBN                    : 978-602-14016-0-6

Iqbal, begitu sapaan akrabnya, merupakan seorang ayah yang sangat begitu sayang keluarga. Hijrah ke Australia untuk menemani sekolah istrinya. Untuk menambah pemasukan keluarga selama di Australia, Iqbal bekerja menjadi supir ekspedisi. Dari itu, cerita buku ini dimulai. Dengan lamunan-lamunan liarnya, Iqbal berhasil melihat hal-hal yang unik di negeri tempat tinggalnya.

Buku ini sejauh kemampuan saya menangkap isinya, menjadi salah satu buku yang wajib kita baca. Berikut ini jabarannya.

 

1. Dengan membaca buku ini, kita akan bangga menjadi Indonesia.

Sampul buku

Sampul buku "Out of the Truck Box" via http://munamadrah.com

Sebagai TKI dan sopir truk yang mencari sesuap nasi di Australia, Iqbal gak melulu memuja-muja Australia. Di sisi lain, Iqbal juga menunjukkan kebanggaannya menjadi seorang Indonesia. Contohnya, pada sub bab Kejayaan Bahasa Anak-Turun Peradaban Atlantis Nuswantara. Iqbal menunjukan bahwa Indonesia itu kaya, kaya akan kosakata.

Iqbal menunjukan contoh bagaimana kata bad, bat, bed, dan bet ketika diucapkan. Kita harus berusaha mencerna dengan ekstra keras. Bandingkan dengan kosakata loh jinawi yang dimiliki Indonesia. Iqbal menunjukan arti yang secara pengucapan sangat berbeda. Buruk, kelelawar, ranjang, dan taruhan. Begitu kaya bukan peradaban nuswantara ini?

2. . Kita akan dihadiahi semangat toleransi antar umat beragama.

Toleransi antar umat beragama bikin hidup kita adem

Toleransi antar umat beragama bikin hidup kita adem via http://walisongoonline.com

“Tapi untuk kesekian kali, saya kepingin bilang: jauh di atas status sebagai umat beragama, jangan lupa bahwa kita adalah umat manusia,” tulis Iqbal pada bagian akhir subbab "Sebuah Pertanyaan Tentang Iman".

Iqbal menceritakan bahwa pasca peristiwa Sidney Siege, ada seorang perempuan bernama Rachel Jacobs. Ia sedang berada di kereta dan melihat seorang perempuan muslimah berhijab menangis ketakutan. Ternyata perempuan tersebut ketakutan akan hal-hal yang mengerikan akan terjadi pada dirinya pasca peristiwa Sidney Siege. 

Melihat kejadian itu, si Rachel menghampiri si perempuan untuk memberikan rasa aman dan dukungan. Betapa indahnya kan kerukunan antar umat beragama ?

3. Bahwa cari duit banyak itu gak harus S1.

Nyari duit banyak gak harus s1 guys

Nyari duit banyak gak harus s1 guys via http://adykenzie.blogspot.com

Pada subbab Perth vs Jogja, dari Ekonomi ke Intelektualisme, Iqbal dengan cakap menuturkan bahwa gaji seorang sopir truk dengan pekerja kantoran yang “alusan” per bulannya hampir sama di angka 3.000-4.000 dollar per bulan. Dalam bukunya itu, Iqbal mengatakan bahwa penghargaan sosial sangat berimbang atas aneka jenis profesi. Pesan moralnya, ya sarjana itu bukan segalanya.

4. Bahwa bahasa komunikasi itu intinya sederhana.

yang penting saling memahami dan mengerti

yang penting saling memahami dan mengerti via http://gofaztrack.com

Dalam buku ini, jangan kaget kita akan menemukan tulisan-tulisan atau kata-kata nyeleneh yang enggak baku. Sebagai contoh, Iqbal menulis "berpikiran" dengan menggunakan tulisan "bervickiran". Iqbal menulis "Australia" dengan "Ostrali", "Nusantara" dengan "Nuswantara", dan masih banyak lagi yang lainnya.

Seakan di sini, Iqbal pengen menunjukan bahwa inti dari komunikasi adalah ketika dua orang atau lebih bercakap-cakap dan bisa dicerna plus dimengerti. Sesederhana itu bukan?

5. Iqbal lewat bukunya ingin menasehati bapak Presiden.

Loh, seorang supir truk menasehati presiden? Sopir truk kan punya image negatif bukan? Tukang mampir “jajan”. Pasti itu yang terngiang di benak kalian? Ya, aku dengan yakin Iqbal sedang memberi nasehat kepada bapak Presiden kita lewat tulisan-tulisannya. Kurang percaya? Eemm... Baca sendiri, ya!