Gangguan jiwa atau bahasa kerennya mental illness ini sekarang makin banyak diidap oleh masyarakat di seluruh dunia, lho! Terlebih mereka yang berada di usia produktif (wah, wah, wah!). Namun, sayangnya, masih banyak banget anggapan yang keliru selama ini tentang gangguan jiwa tersebut. Hal ini tentu aja malah bikin para penderitanya makin susah sembuh. Bahkan, banyak nih di antara mereka yang sakitnya jadi tambah parah gara-gara ketidakmengertian orang-orang di sekitar tentang penyakit yang mereka alami.

So, apa aja sih hal-hal keliru yang sering dilakukan oleh masyarakat sekitar terhadap mereka yang mengalami gangguan jiwa selama ini, guys

 

1. Gangguan jiwa berarti gila

Gangguan jiwa tidak selalu gila

Gangguan jiwa tidak selalu gila via http://www.tumblr.com

“Hah? Elu kena gangguan jiwa? Idiiih! Gila dong lu berarti! Ha-ha-ha!”

"Please deh ya. Maksud lo?!" (-__-")

 

Walaupun udah jaman smartphone gini, masih tetep adaaaaa aja orang yang menyamakan gangguan jiwa dengan gila. Padahal nih, ya... gangguan jiwa itu nggak selalu gila, lho. 

Ada banyak jenis gangguan jiwa (contohnya depresi, gangguan cemas, serangan panik, dan bipolar), sementara sebutan gila itu lebih diperuntukkan pada gangguan jiwa yang udah parah banget dan penderitanya benar-benar udah kehilangan kesadaran atas dirinya sendiri.

 

2. Gangguan jiwa bukan penyakit medis, jadi hanya bisa disembuhkan oleh dukun/sejenisnya

Banyak orangtua atau keluarga si pengidap gangguan jiwa memilih pergi ke dukun daripada psikiater

Banyak orangtua atau keluarga si pengidap gangguan jiwa memilih pergi ke dukun daripada psikiater via http://www.allkpop.com

“Oh, anak ibu kemasukan roh jahat. Makanya jadi aneh begini. Untung cepat dibawa kemari...”   (Lalu pasien disembur)

Ini nih yang seringkali bikin para dokter khususnya psikiater pada mangkel. Gara-gara statement kayak begini, ujung-ujungnya banyak para pengidap gangguan jiwa yang sakitnya tambah parah atau bahkan udah nggak bisa tertolong lagi. 

Beberapa pengidap gangguan jiwa yang mengalami halusinasi dan delusi juga sering dianggap kemasukan roh jahat. Padahal, secara medis, itu bisa terjadi karena ketidakseimbangan neurotransmitter otak. Hmmm.... 

 

3. Mereka yang mengidap gangguan jiwa cuman cemen menghadapi kerasnya hidup

Jelek ah nangis mulu!

Jelek ah nangis mulu! via http://www.tumblr.com

“Yaelah, elu kok bawaannya sedih mulu sih? Yang semangat napa!”

Eiiits! Don’t judge a man until you have walked a mile in his shoes! Kita toh nggak akan bisa benar-benar tau bagaimana masa lalu dan segala peristiwa menyakitkan yang pernah terjadi pada mereka yang mengidap gangguan jiwa, kan? Bahkan sekalipun kita adalah keluarganya sendiri. Apalagi, terlalu banyak faktor yang membuat seseorang mengalami gangguan jiwa, di antaranya adalah pola asuh, masalah pencetus, lingkungan, sampai neurotransmitter otak. 

Dokter Andrew Slaby aja bilang, “Bayangkan nyeri fisik terhebat yang pernah Anda rasakan—patah tulang, sakit gigi, atau sakit bersalin—lipat gandakan sepuluh kali dan bayangkan Anda tidak tahu penyebabnya; barulah Anda mungkin dapat mengira-ngira seberapa menyiksanya penyakit jiwa itu.”

So, be wise yaaa... ;)

 

4. Orang yang mengalami gangguan jiwa itu imannya rapuh dan jarang ibadah

Gangguan jiwa bisa diderita siapa saja

Gangguan jiwa bisa diderita siapa saja via http://www.tumblr.com

Waduh! Hati-hati, guys! Tau apa kita akan keimanan seseorang? Hanya Tuhanlah yang maha mengetahui. Dan, ingat... gangguan jiwa bisa menimpa siapa aja tanpa pandang bulu. Lagian, itu kan penyakit medis, toh? Memangnya kanker, diabetes, maupun stroke nggak bisa diderita sama ustadz, pendeta, pastor atau biksu ya? (think again!)

5. Mereka yang mengidap gangguan jiwa distigma jahat

Bukannya menjadi penjahat, malah mereka yang sering dijahati

Bukannya menjadi penjahat, malah mereka yang sering dijahati via http://www.tumblr.com

Ya ampun, ya ampun. Tau nggak sih? Malahan, para pengidap gangguan jiwa itu merupakan korban kejahatan, bukan pelaku kejahatan. Hampir sebagian besar dari mereka di masa hidupnya pernah menjadi korban kejahatan seperti bullying atau sexual abuse.

Jadi, alih-alih membahayakan orang lain, mereka malah lebih cenderung akan membahayakan diri mereka sendiri (misalnya dengan melakukan tindakan bunuh diri).

 

6. Nggak ada kata ‘sembuh’ untuk mereka yang mengidap gangguan jiwa

Sulit sembuh namun bukan berarti nggak ada yang berhasil sembuh dari gangguan jiwa

Sulit sembuh namun bukan berarti nggak ada yang berhasil sembuh dari gangguan jiwa via http://www.tumblr.com

“Oalah, Nduk. Kok kamu masih nggak sembuh-sembuh juga, sih? Ya udah, berhenti aja minum obatnya. Mending biaya konsul ke psikiter dan nebus obatmu itu dipakein buat beli baju ato apa.”

“Bener juga ya, Bu. Kalo duitnya aku pakein buat beli baju dari kemarin-kemarin, pasti lemari pakaianku udah kepenuhan sekarang.”  

Nah, ini nih yang bikin para pengidap gangguan jiwa jadi males buat konsul ke psikiater/psikolog. Belum lagi karena biayanya yang nggak bisa dianggap enteng. Namun, jangan salah dulu... gangguan jiwa ADA yang bisa disembuhin, kok. Iya, serius. Walaupun kadang butuh waktu yang lama untuk itu.

Akan tetapi, pada beberapa kasus yang memang nggak bisa disembuhin, tetap masih bisa dibantu dengan obat agar si penderita dapat menjalani kehidupan layaknya orang normal. Dan, tenang aja. Obat yang diberikan nggak akan bikin kecanduan. Eiit, tapi itu nggak berarti pengidap gangguan jiwa bisa berhenti berobat seenaknya tanpa persetujuan medis, ya? Hanya psikiater yang tau kapan waktu yang tepat buat pengidap gangguan jiwa untuk berhenti minum obat.  

7. Pengidap gangguan jiwa nggak akan bisa sukses!

I can change my life!

I can change my life! via http://www.tumblr.com

Hellooooow! Kenal dong ya tentunya dengan Sir Isaac Newton dan Albert Einstein? Ludwig van Beethoven? Pelantun ‘Let It Go’ Demi Lovato? Atau penyanyi cantik asal Jepang si Yui Yoshioka? Mereka semua adalah pengidap gangguan jiwa yang sukses di bidangnya masing-masing. Jadi buat kamu yang mengalami gangguan jiwa, jangan buruan berkecil hati. Kamu juga bisa sukses sebagaimana orang normal lainnya, bahkan mungkin lebih!

Atau, buat kamu yang doyan baca nih, pasti deh nggak asing lagi sama J.K. Rowling dan John Green, kan? Psssst, ternyata mereka juga punya gangguan jiwa, lho! Kamu tentu heran kan bagaimana mereka bisa nyiptain karya sehebat ‘Harry Potter’ dan ‘The Fault In Our Stars’ yang bikin kamu tersentuh tiap kali baca ato nonton filmnya?

Mau tau rahasianya? Rupanya nih, banyak pengidap gangguan jiwa yang ternyata dekat dengan seni. Bahkan, oleh para praktisi kesehatan mental, penanganan gangguan jiwa dengan pendekatan seni dirasa cukup efektif, lho.
Jadi, daripada sibuk mikirin kata orang, mending buat kamu yang mengidap gangguan jiwa, tetap berkarya aja di bidang yang kamu sukai masing-masing, yaaa. Sukses itu milik semua orang yang berusaha. So, do the best! (^_^)/