Layaknya mantan, Yogyakarta barangkali memang ditakdirkan Tuhan menjadi tempat yang meluap kenangan.  Tempat paling nyaman untuk kembali di saat hati banyak disakiti dan dikecewakan pertanyaan seputar kehidupan. Tempat yang senantiasa menyesatkan arah tujuan hidup kita dengan rayuan-rayuan mautnya. Dan tentu, selalu saja ada alasan untuk kembali ke kota yang diasuh Gunung Merapi dan Pantai Selatan ini. Berikut adalah senarainya:

 

1. Angkringan yang Tak Hanya Menjual Makanan

Angkringan Lik Man dekat Stasiun Tugu

Angkringan Lik Man dekat Stasiun Tugu via http://travelinghematindonesia.blogspot.com

Kedai makanan dan minuman ini boleh saja menjamur diberbagai kota dan menjadi primadona. Namun, percayalah tak ada yang melebihi nyamannya angkringan Jogja. Ini bukan selalu tentang harga menunya yang (bisa jadi) lebih murah dibandingkan angkringan di kota lain, tapi ada hal lain yang ditawarkan kedai yang tetap eksis di tengah gempuran Warung Burjo ini, ia adalah kebersamaan, kesetiaan, dan malam yang panjang.

2. Tetangga yang Baik

Pancinya jangan lupa dikembalikan ya, dek

Pancinya jangan lupa dikembalikan ya, dek via http://hidayatullah.com

Di kota lain, barangkali kita sudah sulit menemui tetangga yang peduli. Tetangga yang sudi mengingatkan/menyelamatkan jemuran kita dari ancaman hujan. Tetangga yang tengah malam hadir sebagai penyelamat kehidupan dengan dua bungkus bakmi goreng di ujung pintu kontrakkan. Tetangga yang tiba-tiba menyelinap masuk dan ikut menonton pertandingan sepak bola kesayangan. Atau tetangga yang tidak pernah berisik atas keriuhan yang kita ciptakan.  

3. Tempat Wisata Murah yang Melimpah Ruah

Cukup membayar 3000 ribu perak untuk menikmati kesegaran mata air ini

Cukup membayar 3000 ribu perak untuk menikmati kesegaran mata air ini via http://kelanakecil.wordpress.com

Sesuai dengan julukannya: Kota Pariwisata, Yogyakarta menyediakan spot-spot wisata yang tiada habisnya. Mulai dari yang berbiaya murah hingga sangat murah. Mulai dari yang jauh hingga yang hanya berjarak sepelemparan batu. Di kota ini #KurangPiknik adalah sebuah dosa besar. Dosa yang dihasilkan akibat tidak mensyukuri nikmat dan karunia Tuhan. Maka itu, kembali ke kota ini adalah salah satu jalan menebus dosa.

4. Fasilitas yang Memadai untuk Pengembangan Diri

Perpustakaan Kota Jogja

Perpustakaan Kota Jogja via http://brilio.net

Sekomersil apapun kota ini sekarang, Yogyakarta tetap kota yang ramah pelajar dan terhadap orang yang mau belajar. Berbagai wahana pengembangan diri tersedia di sini. Perpustakaan Kota, Perpustakaan Daerah, Perpustakaan Kampus, Taman Budaya, acara-acara seminar & diskusi, kegiatan-kegiatan budaya, hingga seabreg museum adalah beberapa sarana untuk mengembangkan diri.           

5. Kawan Seperjuangan

Kapan bisa ngumpul lagi kayak gini?

Kapan bisa ngumpul lagi kayak gini? via http://wanayasa41.blogspot.co.id

Saat banyak kawan-kawan kita yang masih berjuang menuntaskan dan melanjutkan pendidikan, saat itu pula menguat godaan untuk kembali ke kota pelajar ini. Dengan jargon #MenolakLupa, mereka senantiasa menjaga ingatan kita tentang suka duka selama hidup di tanah perantauan. Cerita tentang segelas kopi yang harus dibagi kepada banyak mulut, kebiasaan-kebiasaan semrawut dan medioker ala anak kos, kenangan obrolan sore di kantin kampus, hingga keadaan kota yang kian kapitalis dan klinis, menjadi fragmen-fragmen yang diceritakan dalam setiap percakapan atau perjumpaan.      

6. Cita-cita yang Menuntut Dilanjutkan

Ini barangkali satu-satunya alasan ilmiah bagi eks-perantau Yogya untuk kembali ke kota yang telah mendidiknya dan membesarkannya. Tawaran pekerjaan atau kesempatan melanjutkan pendidikan menjadi alasan paling kuat dan rasional untuk kembali menetap dalam waktu yang lama di kota priyayi ini.

Itulah beberapa alasan-alasan bagi perantau untuk kembali ke Yogyakarta. Tidak ada keharusan bagi para pembaca sekalian untuk setuju atau tidak setuju terhadap isi artikel ini. Namun yang pasti, Anda semua sangat disarankan untuk tidak baper ketika membaca tulisan ini.