Dulu kamu mencintaiku sedemikian rupa. Kamu membuatku bahagia sekuat yang kamu bisa. Kamu berkata kamu melakukan itu demi aku. Demi kebahagiaanku. Kamu tak membiarkan dunia menghempasku, menopangku dalam masalah hanya dengan senyuman dan genggaman tanganmu. Kamu menyayangiku sedalam itu. Aku masih ingat betul awal Tuhan mempertemukan kita. Masih ingat betul cara indah Tuhan menghembuskan rasa di antara kita.

Benar. Itu semua masih jelas teringat, terekam. Tapi entahlah, sepertinya itu semua cepat sekali berubah. Terlalu cepat. Baiklah, izinkan aku menulis apa yang aku ingat tentang kamu.

 

1. Kala itu, kamu hanya melirik ke arahku. Setelah itu, kita sempat saling pandang.

Aku gadis yang tidak memiliki banyak teman. Gadis yang hampir seumur hidupnya senang dengan zona aman. Sampai ketika aku menjadi mahasiswi, aku sadar kalau aku butuh keahlian dalam bersosialisasi dan berorganisasi. Yang akhirnya, mengantarkanku ke sebuah komunitas yang di dalamnya ada kamu. Iya, kamu yang melihat padaku. Pada awalnya aku merasa tak ada yang istimewa.

Karena memang, aku masih terjebak dengan hubungan tanpa kejelasan selama empat tahun dan masih berusaha untuk bangkit. Berusaha untuk bersikap realistis dan tak lebih lama lagi hanyut dan mungkin akan tenggelam.

2. Ketika kita saling tatap, membuatku merasa ini tidak akan menjadi biasa.

Aku tak mengenal betul siapa diriku. Tapi yang pasti, aku mengetahui betul apa yang aku inginkan. Beberapa kali tertangkap sedang melihatku, membuat aku pun tak segan menatapmu kembali. Ada perasaan aneh saat menatapmu. Seperti candu yang membuatku ingin terus menatapmu. Mata yang biasa disebut dengan jendela hati ini pun sudah tak sungkan untuk menatap lebih dalam lagi.

Untuk melihat lebih jelas lagi. Aku tahu, setelah ini akan ada proses selanjutnya. Ini tidak akan menjadi biasa. Aku tahu itu.

3. Saat ponselku berbunyi dan melihat namamu di sana.

together is better

together is better via http://grafiliocollection.com

Kuliah memaksaku untuk berpisah rumah dengan orang tuaku. Dan akhir pekan merupakan waktu yang sangat aku tunggu. Tidak banyak rencana yang aku buat. Hanya ingin di rumah menikmati sarapan dengan ibuku dan menonton televisi bersama adikku. Terdengar ponselku berbunyi. Itu kamu. Kamu yang awalnya hanya berani melirikku, kamu yang setelahnya sudah mulai tak sungkan beradu tatapan denganku.

Kamu yang sampai saat terakhir di pertemuan itu belum berani menyapaku. Akhirnya kamu dengan berani menyapa dan mengajakku menonton sebuah film. Tapi tentu saja, aku menolaknya. Bagiku, tak semudah itu untuk dekat denganku. Bukan aku wanita sombong, bukan. Tapi aku perlu mengenalmu, mengetahui siapa kamu. Karena jujur saja, aku melihatmu sebagai sosok yang arogan.

4. Semenjak saat itu, kamu adalah kegiatan baruku.

Matahari indah di minggu pagi. Kamu pun menyapaku kala itu. Membuat hari minggu pagi itu semakin indah dan begitu pun minggu-minggu selanjutnya. Semanjak pagi itu, kita mulai melakukan percakapan. Dan pagi-pagi berikutnya, selalu ada percakapan di antara kita. Sungguh. Aku suka caramu mempedulikanku. Sungguh aku menyukai percakapan ini. Sungguh denganmu, obrolan ini menjadi berkualitas.

Aku mulai menengenalmu. Kamu bukan pria arogan yang seperti pikiranku. Kamu pria yang baik, sabar, dan pintar. Kamu meluluhkanku dengan semua itu. Aku sangat senang. Aku memiliki kegiatan baru denganmu. Akupun tahu kamu senang. Kamu senang di dekatku dan akupun begitu. Dan benar, semesta tahu cara membuat kebahagiaan. Sekarang, kamu masuk dalam lingkungan yang membuatku bahagia.

5. Hanya dengan kencan pertama kita, sudah kuceritakan semua kisah dalam hidupku.

laugh and smile

laugh and smile via http://grafiliocollection.com

Aku bukan orang yang mudah bercerita. Terlebih dengan orang baru. Di malam minggu itu, anggap saja malam itu adalah kencan pertama kita. Anggap saja begitu. Setelah menonton film dan makan malam yang jauh dari kata romantis, aku menceritakan semua. Aku menjelma menjadi gadis cerewet seperti yang biasa hanya kulakukan dengan orang terdekatku. Aku menceritaka semua kisah yang awalnya hanya kunikmati sendiri.

Saat itu, kamu hanya tersenyum dan sesekali tertawa mendengar ceritaku. Aku berbagi duniaku bersamamu. Ya Tuhan, siapa kamu? Rasanya sangat hangat di dekatmu. Hangat sekali.

Aku suka kehangatan ini. Dengan kenyamanan ini. Sungguh, aku sudah tahu ke mana harus pulang.

6. Biarkan aku tetap mengenang ini.

aku mengenangmu saat seperti ini

aku mengenangmu saat seperti ini via http://grafiliocollection.com

Aku berharap kita akan terus seperti ini. Aku berharap mentari akan selalu bersinar dengan ucapan selamat pagimu. Aku berharap akan terus ada kisah yang akan kita bagi bersama. Aku mengharapkan itu dan kamu pun begitu, Dulu.

Ya, itu dulu. Dulu, saat kamu masih mengharapkan hal yang sama denganku. Dulu, saat kamu masih berbahagia denganku. Dulu, saat kurasa aku adalah sumber kebahagiaanmu. Dulu, saat aku masih mampu membuatmu tetap di sisiku. Tapi dengan sangat sulit untuk diterima, lagi lagi itu dulu. Jadi sekarang, izinkan aku untuk mengenangmu yang seperti dulu.

Kalau masih boleh berkata, aku masih menginginkan cerita seperti dulu itu berlanjut. Tak mesti sekarang, mungkin nanti. Nanti ketika aku benar-benar sudah pantas untuk bisa mencintai dan kamu pun sudah sanggup untuk menggenapkanku. Ketika kita sudah menyadari jika berdua itu lebih baik. Seperti katamu dulu. Saat ini, mungkin saja karena memang kisah kita harus berhenti sekarang.

Mungkin juga jika kisah kita juga akan berlanjut nanti. Sudahlah. Aku percaya semua kisah sudah tertulis akhirnya. Hanya saja, aku tak mengerti keadaan ini. Apakah aku sudah berada di akhir kisah atau masihkah aku menjadi pemeran dalam sebuah kisah. Yang aku tahu, kamu hanya sudah pergi sekarang. Dan aku hanya ingin mengenangmu seperti yang dulu, di saat sekarang.