Mungkin di zaman yang serba canggih ini, tidak akan menutup kemungkinan seseorang menjadi kesepian atau bahkan merasa depresi. Stres dan depresi memang wajar, depresi tentu akan dirasakan setiap orang setidaknya sekali dalam hidupnya.

Anak-anak, dewasa, bahkan bayi dalam kandungan bisa saja mengalami stres walaupun belum sampai ke taraf depresi. Biasanya depresi dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di pedalaman dan masyarakat perkotaan. Penyebab yang dirasakan pun beragam. Namun sayang, beberapa orang mungkin meremehkan kesehatan mental atau bahkan melakukan diskriminasi terhadap orang yang sedang depresi. Banyak orang yang menganggap kalau depresi hanyalah bentuk dari mencari perhatian atau mencari sensasi.

Lantas, apa saja sih stigma masyarakat yang salah terhadap kesehatan mental sekarang ini?

1. Waspadai depresi

Bukan suatu hal yang mustahil ya jika setiap manusia tidak akan mempunyai masalah di dalam hidupnya. Entah masalah finansial, masalah hubungan, atau masalah yang bahkan kita tidak tahu sendiri apa penyebabnya. Tanpa bermaksud menggeneralisasi, tak jarang kita melihat seseorang yang sebenarnya sangat membutuhkan tempat sampah untuk segala masalahnya, tetapi yang ia dapat hanyalah label buruk dan juga hinaan dari orang sekitar.

Bukannya bangkit, yang ada malah semakin jatuh. Memang, ada tipe orang yang dapat bekerja dibawah tekanan, ada juga orang yang membutuhkan 'orang lain' untuk bekerja dibawah tekanan. Tidak sulit bukan untuk melakukan pendekatan personal terhadap seseorang yang sedang jatuh? Atau setidaknya, kita bisa menjadi pendengar yang baik bagi mereka jika mungkin kita tidak bisa memberikan saran kepada mereka yang kala itu sedang jatuh. Sebenarnya, mereka bukan caper atau cari perhatian kok, mereka hanya sedang menghadapi masalah layaknya manusia seperti biasa.

Tapi, ada yang ekspresif dan mau membagikan masalahnya kepada orang sekitar, ada juga yang memendamnya sendiri dan bertingkah seperti ia biasanya. Nah, hal seperti itu yang biasanya disebut fake smile/senyum palsu. Tidak ada ruginya bukan untuk menjadi tempat sampah bagi mereka yang sedang dilanda masalah? Atau setidaknya, jika ia terlihat murung dan tidak bersemangat, mungkin saja pertanyaan "kamu kenapa" bisa membuatnya menjadi bersemangat lagi. Setidaknya, kita satu langkah menolong ia dari stres yang dialami agar tidak terus berlanjut ke depresi.

2. Stres sama depresi tuh gak jauh beda, intinya mereka sama-sama sedih

Advertisement

Depresi sama aja kayak sedih? via https://s-media-cache-ak0.pinimg.com

Nah loh, memangnya apa sih bedanya stres sama depresi? Mungkin sebagian orang menganggap kalau stres dan depresi itu sama saja karena selalu diasosiasikan dengan kesedihan. Tapi faktanya, stres dan depresi merupakan dua hal yang berbeda. Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental yang tentunya mempengaruhi kinerja seseorang di dalam aktivitasnya.

Misalnya, yang tadinya semangat di tempat kerja dan sangat produktif, suatu hari dia menjadi sangat malas dan tidak se-produktif biasanya. Biasanya stress seperti ini dapat diatasi oleh bercerita dengan orang yang dipercaya atau mungkin refreshing. Tapi, bagaimana dengan depresi? Berdasarkan buku panduan penyakit mental atau Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV, depresi dapat diartikan sebagai perasaan yang ditandai dengan menurunnya minat untuk kegiatan yang biasa dilakukan dalam jangka waktu yang relatif lama. Misalnya, yang tadinya suka main game atau nonton bioskop menjadi tidak suka sama sekali. Biasanya orang yang depresi juga cenderung menarik diri dari pergaulan atau malah jadi sangat peduli terhadap sekitar. Beriku ini merupakan beberapa gejala yang mengindikasikan adanya depresi:

– Turunnya /naiknya berat badan.

– Kehilangan motivasi

– Pikiran untuk menyakiti sendiri atau bahkan bunuh diri.

– Merasa tidak punya masa depan.

– Tidak bisa tidur.

– Nafsu makan berkurang atau malah bertambah,

Gejala diatas hanyalah beberapa. Tentu kita tidak bisa melakukan self-diagnosis, karena yang lebih berwenang dalam menentukan suatu diagnosa hanyalah dokter/ahli. Tapi tentu tidak ada salahnya bukan untuk mengetahui beberapa gejala depresi sehingga kita bisa tahu kapan seseorang mungkin bisa dikonsultasikan ke psikolog/psikiater?

Buat apa sih sampai ke psikolog? Berlebihan banget. Semua itu sumbernya pikiran, kalau pikiran kita positif juga sembuh. Orang depresi tuh cari perhatian aja.

Mungkin stigma masyarakat terhadap psikolog masih kurang benar, ya. Padahal, stres dan depresi itu sangat berbeda. Mereka sangat menginginkan untuk berfikir positif. Tapi perlu diketahui kalau ada penjelasan ilmiah terkait tidak biasanya para pengidap depresi untuk berpikir positif, lho. Apa saja tuh?

3. Penjelasan ilmiah? Depresi itu karena gak bisa ngontrol emosi aja

Otak depresi dan tidak depresi via http://obatdepresi.com

Mungkin memang ada benarnya jika penderita depresi tidak bisa mengontrol emosinya. Tapi apa sih alasan logis yang sebenarnya menyebabkan depresi? Mungkin alasan familiar dari depresi yaitu karena kehilangan seseorang yang dicintai, kegagalan, masalah pribadi, ataupun konflik. Nah kalau untuk alasan biologis dari penyebab depresi itu tentu berbeda. Layaknya orang introvert dan ekstrovert.

Manusia terbagi lagi dalam golongan yang kuat secara mental dan lemah secara mental. Biasanya hal ini disebabkan oleh stres dalam jangka waktu yang lama tanpa adanya dukungan dari sekitar. Bukan hanya orang dewasa atau remaja saja loh yang bisa stress. Bahkan jika ibu hamil stress, bayi yang dikandung juga nantinya akan stress bahkan rentan stress saat ia beranjak besar.

Selain itu, genetik juga tentu sangat mempengaruhi. Berdasarkan data yang ada, jika kita mempunyai saudara atau bahkan orang tua yang pernah mengalami depresi, maka seseorang juga akan rentan menjadi depresi.

Selain itu, depresi bisa disebabkan karena adanya ketidakseimbangan senyawa kimia di dalam otak yaitu serotonin atau bahkan volume hippocampus yang berkurang. Apa itu volume hippocampus? Volume hippocampus adalah bagian kecil dari otak yang berperan penting untuk menyimpan memori, tampaknya lebih kecil pada orang dengan riwayat depresi dibandingkan orang yang tidak pernah depresi.

Berarti depresi bisa hilang kalau kita pikiran positif, kan?

Mungkin bisa menghibur secara jangka pendek, tapi tentu tidak akan mutlak menyembuhkan depresi. Faktanya, depresi dapat mengubah struktur yang ada pada otak seperti gambar di atas. Jauh di dalam hatinya, saya yakin mereka ingin sekali untuk kembali ceria dan mencoba melihat sisi positif dari masalah yang ada. Tapi sayang, karena mungkin adanya ketidakseimbangan senyawa kimia dalam otak atau bahan struktur otak yang berubah, hal tersebut akan sulit dilakukan. Tapi jangan khawatir, depresi bisa sembuh kok!

4. Ke psikiater bila perlu saja

"Sebaiknya kamu bersyukur, jangan terus menerus bersedih, ya."

Tanpa disadari, pernyataan serupa seperti di atas sangat tidak layak diberikan kepada pengidap depresi karena depresi itu bukan karena tidak bersyukur, tapi memang karena penyakit. Mereka ingin sekali bersyukur dan berubah, namun sulit untuk dilakukan. Mungkin, karena kesadaran masyarakat yang terbilang kurang mengenai pentingnya kesehatan mental dan hanya mementingkan kesehatan fisik saja sehingga terjadilah stigma masyarakat yang salah.

Kenyatannya, penyakit fisik sama pentingnya dengan mental. Keduanya sama-sama merupakan fondasi manusia yang bahagia, bukan? Percayalah, mereka (pengidap depresi) juga layaknya manusia biasa seperti kita. Mereka juga punya keinginan untuk keluar dari zona hitam yang terus menghantuin dia. Jika dengan pendekatan personal tidak dapat membuatnya terbuka, mungkin ada baiknya untuk dikonsultasikan ke psikolog/psikiater.

Yah… nanti lama-lama juga sembuh dan sadar sendiri kok.

Mungkin bisa, tapi akan lama. Bahkan mungkin bisa lebih dari 10 tahun untuk benar-benar sembuh dari depresi. Tidak ada salahnya untuk mengkonsultasikan diri ke psikolog/psikiater. Psikolog/psikiater bukan selamanya ditujukan untuk oang gila, kok. Bertahun-tahun dengan depresi tentu tidak bisa dianggap remeh. Bagi yang sudah bekerja, mungkin akan mempengaruhi produktivitasnya dalam bekerja dan bahkan bisa mengakibatkan PHK. Bagi yang masih duduk di bangku sekolah, mungkin akan mengalami penurunan prestasi akademik dan tentunya menarik diri dari pergaulan karena depresi. Kerugiannya sama dengan penyakit fisik, bukan?

5. Intinya, depresi itu bukanlah suatu hal yang dapat dianggap remeh.

Semua manusia berhak untuk bahagia via http://newscult.com

Depresi tentu berbeda dengan stress dan sedih biasa. Jika dibiarkan, selain menyebabkan penurunan kinerja yang ada, penyakit-penyakit psikologis lainnya juga bisa menghinggap di dalam diri kita. Kesehatan mental tentu sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Berobat ke dokter umum tentu sama pentingnya dengan berobat ke psikolog/psikiater. Selain dengan berserah dan berdoa kepada Tuhan yang tentunya berdaulat dengan segala hal yang terjadi, memeriksakan diri juga bukan merupakan hal yang salah.

Memberikan empati dan pendekatan personal juga tidak ada salahnya dilakukan dengan teman-teman kita yang mengalami perubahan sikap dan emosi. Niscaya, peristiwa menyakiti diri sendiri ataupun bunuh diri sedikit – sedikit akan teratasi dengan baik. Lagipula, tentu menjadi suatu hal yang membanggakan diri jika kita berhasil membuat orang lain bahagia karena butik nyata yang kita lakukan, bukan? Salam sehat jiwa!