Menikah dengan seorang dokter tidak jarang dianggap sebagai anugerah. Kata-kata seperti, "Wah, suaminya dokter, ya? Enak, ya," sering sekali muncul dalam pembicaraan. Artikel-artikel tentang keuntungan menikah dengan dokter juga sudah banyak beredar. Tetapi dalam kehidupan nyata, pernahkah ada yang menanyakan bagaimana sebenarnya hidup dengan seorang dokter? Apakah benar seperti yang dibayangkan oleh orang-orang?

Suami saya seorang dokter. Kebetulan saya pun juga dokter. Saya paham dengan pasti bagaimana kehidupan seorang dokter. Tetapi saya yakin tidak demikian dengan sahabat-sahabat Hipwee yang bukan dokter. Kalian bisa jadi tidak memiliki gambaran bagaimana hidup dengan seorang dokter. Jangan sampai menyesal saat sudah menikah nanti. Memang ada banyak varian pekerjaan dokter dan pola pekerjaannya tidak bisa disamakan semua. Artikel ini hanya relevan untuk dokter umum yang bekerja di RS. Selamat membaca!

1. Mereka sering kekurangan waktu

tidak ada waktu via http://legeekcestchic.eu

Jam kerja dokter di RS adalah berdasarkan shift, ada kalanya pagi, tetapi pasti juga akan mendapatkan shift malam. Saat kalian sedang akan istirahat, suami kalian harus berangkat kerja. Lalu keesokan harinya, saat kalian baru akan mulai beraktivitas, suami kalian baru pulang, seringkali dalam kondisi lelah jadi ingin tidur. Belum lagi bila ada pasien yang membutuhkan perhatian khusus, jam pulang bisa mundur, dan suami kalian pulang dalam kondisi lebih lelah lagi.

Jadwal libur juga sering menjadi polemik, karena seringkali jadwal libur dokter tidak sinkron dengan jadwal libur masyarakat lainnya. Bisa jadi, saat tanggal merah, suami kalian malah mendapat jadwal jaga, baru mendapat libur justru setelah cuti bersama usai. Bila ingin menyamakan jadwal libur, suami harus mengatur jadwal jaganya, menukarnya dengan rekan lain yang juga ingin libur. 

2. Mereka jarang menceritakan pekerjaan mereka

jarang cerita via https://infogr.am

Untuk menceritakan hal-hal seputar dunia medis ke pasangan yang bukan dokter biasanya membutuhkan usaha khusus karena banyaknya istilah dan situasi yang harus dijelaskan. Jadi saat sudah kelelahan bekerja, meskipun ingin membagikan cerita seputar hal-hal yang terjadi di RS, tidak jarang suami kalian akan menahan diri dan tidak jadi menceritakannya bila mengingat keruwetan yang akan dihadapi atau melihat wajah tidak paham dari kalian. Hal ini seringkali membuat istri merasa tidak diperhatikan, merasa tidak connect dengan suami atau lebih parah lagi menduga suami menutup-nutupi sesuatu, padahal tidak demikian adanya.

3. Mereka sering tampak tidak berperasaan

Advertisement

Bila sedang berkumpul dengan sesama dokter dan membicarakan hal-hal medis, biasanya orang awam akan merasa aneh dengan percakapan ini. Dokter tidak terpengaruh bila berbicara tentang pasien muntah atau diare atau bahkan meninggal dalam percakapan di meja makan sambil tetap makan dengan lahapnya. Tidak banyak masyarakat awam yang bisa mengikuti pola pembicaraan seperti ini. Pembicaraan tentang cairan-cairan tubuh terasa menjijikkan dan tidak sopan bagi orang awam tetapi tidak demikian dengan dokter. Hal ini terlihat sepele tetapi pasti bisa jadi bibit masalah dalam rumah tangga.

4. Penghasilan dokter tidak istimewa

penghasilan biasa via http://lifestyle.okezone.com

Hal ini pasti mengagetkan bagi sebagian orang karena orang menganggap dengan menikahi dokter hidupnya akan makmur karena dokter berpenghasilan besar.

Penghasilan dokter umum bisa dikatakan standar bahkan kadang lebih rendah dibandingkan profesi lainnya, berbeda dengan dokter spesialis. Gaji pokok dokter umum setara dengan UMR atau bahkan lebih rendah. Penghasilan dokter sebagian besar berasal dari uang jasa medis yang tergantung dari banyaknya pasien dan tindakan yang dilakukan. Tentunya dokter tidak bisa memaksakan dapat uang jasa sebesar-besarnya karena itu sama saja dengan mengharapkan sebanyak-banyaknya orang sakit. 

5. Bila dia ingin sekolah, kalian yang harus menopang finansial keluarga

biaya sekolah via http://aceh.tribunnews.com

Jenang pendidikan selanjutnya dari dokter umum salah satunya adalah menjadi spesialis. Harus dipahami bahwa pendidikan dokter spesialis tidak singkat seperti lazimnya pendidikan S2 lainnya: pendidikan dokter spesialis berkisar antara 4-6 tahun bila lulus tepat waktu. Dan juga tidak bisa dijadikan sambilan, artinya harus 100% kuliah, tidak bisa sambil bekerja.

Jadi, bila suami kalian ingin melanjutkan kuliah spesialis, otomatis dia tidak akan memiliki penghasilan, kecuali bila sudah memiliki passive income. Biaya untuk pendidikan dokter spesialis memang bisa didapatkan dari beberapa beasiswa yang tersedia tetapi bila tidak mendapat beasiswa, biaya tersebut tentunya harus datang dari kantong sendiri atau dari kantong orangtua (bila tidak sungkan).

Mungkin sudah dipersiapkan tabungan, tetapi harus menjadi perhatian bahwa biaya pendidikan dokter spesialis itu tidak murah, malahan amat sangat mahal sekali! Belum lagi biaya hidup sehari-hari masih harus berjalan. Dengan tidak adanya penghasilan suami, tentunya kalian sebagai istri yang harus ikut membantu persoalan keuangan ini.

Jadi bagi kalian yang ingin punya suami seorang dokter, silakan mempertimbangkan hal-hal tadi.

Bukan ingin menakut-nakuti. Menikah dengan dokter atau bukan dokter, setiap rumah tangga tentu memiliki permasalahannya masing-masing dan pasti bisa diatasi dengan komunikasi yang baik. Menikah bukan hanya soal cinta karena rasa cinta bisa pudar tetapi dibangun dengan komitmen bersama untuk menjadi lebih baik.