Sebagai fitrah dari Tuhan, semua orang di dunia ini tampaknya sudah dipastikan memiliki perasaan cinta entah itu pada benda-benda berharga maupun pada sesama manusia seperti orang tua dan keluarga. Jangan lupakan satu hal lagi, rasa cinta pada lawan jenis. Pada objek terakhir yang disebutkan, jatuh cinta bukanlah soal pilihan ganda. Kadang, kamu tidak bisa menerka kapan dan pada siapa kamu menaruh hati, tahu-tahu hidupmu terasa lebih indah ketika berada di sampingnya dan mendadak berubah ketika dia pergi. Buat mereka yang hidup di dalam pergaulan yang lebih ‘terbuka’, sudah tentu jatuh cinta pada lawan jenis adalah momen yang paling bahagia tapi bagaimana jika hal ini terjadi pada kamu yang lebih memilih mafhum bahwa mendekatkan diri pada Tuhan lebih mendamaikan dari pada mengumbar nafsu?

1. Pada awalnya ketika mengenal dia, kamu hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Tak ada ekspektasi apa-apa.

Pandangan pertama awal kamu berjumpa. via http://pinterest.com

Ada banyak cara takdir mempertemukanmu dengan dia—lawan jenismu. Entah itu terpaksa karena kalian duduk satu blok di masa penerimaan mahasiswa baru atau secara tidak sengaja bertemu di sebuah acara yang sama-sama kalian minati. Hal yang pasti terpikir di benakmu ketika itu adalah kamu mengenal dia hanya untuk menambah pertemanan, tidak lebih, sementara masalah mencintai adalah urusanmu dengan yang Di Atas.

2. Akan tetapi lambat laun kamu sadar bahwa dia adalah orang yang berbeda sejak di dekatnya dada kamu sering berdebar. Hati kamu sudah tidak lagi berada di tempat yang seharusnya.

di dadamu, ada dirinya. via http://magic4walls.com

Setelah sekian lama saling mengenal, meski kamu sudah berusaha untuk berinteraksi sewajarnya akan tapi perasaanmu tidak bisa dibohongi. Hatimu secara sengaja atau tidak sudah kamu taruh di dalam genggamannya. Hal ini berakibat fatal meski kamu baru menyadarinya kemudian, kamu memandang dia dan dirimu sendiri secara berbeda dari yang seharusnya. Kamu mulai nyaman mencari-cari alasan untuk menghabiskan waktu berdua dengannya.

3. Sayangnya, kamu tidak seperti teman-temanmu yang lain, yang bisa membuat komitmen begitu saja dengan lawan jenis. Ayat tentang jangan sekali-kali mendekati zina membayang-bayangi perasaanmu.

Advertisement

Kita adalah sepasang sepatu, selalu bersama tak bisa bersatu. via http://wall.alphacoders.com

Akan tetapi semakin lama saling mengenal dan menghabiskan waktu bersama, semakin tidak karuan perasaanmu. Kalian mulai terjebak dalam hubungan tanpa status sementara kamu tidak siap untuk bertepuk sebelah tangan. Kemudian kebingungan-kebingungan itu mengantarkanmu pada kenyataan bahwa kamu berbeda dengan teman-temanmu yang lain. Kamu masih ingin berpegang pada prinsip bahwa pacaran sesyar’i apapun tidak sesah hubungan setelah ijab kabul. Dan kamu mulai ragu dengan jalan yang mana yang harus kamu ambil, mempertahankannya atau meninggalkannya.

4. Sementara untuk mengajaknya menikah perlu mapan biar berkah, dan keperluan lain yang belum bisa kamu penuhi seperti biaya gono gini.

Berat bebanmu, meninggalkannya. via http://fanpop.com

Mau tak mau, pilihan untuk menikah pasti sudah membuat kepalamu sesak. Di sisi lain, skripsipun belum selesai apalagi merasa mapan untuk membina hubungan yang tidak main-main. Memintanya untuk menunggu kamu siap kadang bukan pilihan yang bijak tapi kamu tahu bagaimana sakitnya ditikung teman dari belakang. Pada tahap ini, kamu mulai merasa dilemma dan frustrasi. Kamu berada di persimpangan jalan, siapa yang seharusnya kamu pilih; dia atau Dia?

5. Pada akhirnya kamu lebih memilih untuk cinta dalam diam. Diam-diam merasa terluka ketika melihatnya bersama orang lain. Diam-diam berdoa pada Tuhan agar dia tidak berpaling.

Inikah namanya cinta diam-diam. via http://7-themes.com

Dan setelah merenung begitu lama, kamu pun sadar bahwa cara yang tepat untuk mendapatkan seorang makhluk adalah mendekati penciptanya. Maka kamu pun mulai mencintai dia dalam diam yang ramai. Diam tidak mengaku apa-apa tapi ramai berdoa pada Tuhan semoga dijodohkan. Meski dengan begitu, banyak pengorbanan yang harus kamu lakukan. Hubungan yang serupa perahu di atas laut, terombang ambing dalam ketidakpastian. Sementara itu, kamu bukanlah satu-satunya orang yang menginginkan dia. Kamu pun mulai belajar menyabarkan hati dan mengobati luka sendiri.

6. Tapi lewat hal itu kamu mengerti bahwa cinta bukan hanya perkara memiliki. Cinta adalah tentang belajar menahan diri dan menunggu waktu yang tepat untuk ijab kabul kemudian resepsi.

Terima kasih cinta, untuk segalanya. via http://pinterest.com

Pada akhirnya dari jatuh cinta yang tidak bisa diprediksi, terlanjur menaruh hati dan berdoa pada Tuhan untuk dijodohkan, kamu pun sadar bahwa seni mencintai bukanlah perkara memiliki. Bisa jadi, kamu ingin memilikinya bukan murni karena Ilahi tapi karena bujukan birahi. Kamu pun mulai menata hati, memperbaiki dan memapankan diri. Jika memang berjodoh, toh serupawan apapun saingamu tak akan sampai menarik hatinya. Hal yang pasti, kamu hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk mengunjungi walinya dan mengutarakan niat untuk meminang, menyegerakan ijab kabul dan menghalalkan lawan jenismu. Dengan begitu, kamu tidak hanya mendapat cintanya dia tapi juga berkahnya Dia.