Mencintai itu perkara mudah, namun tidak semuanya bisa dikatakan cinta, mungkin sekedar kagum. Perasaan yang seharusnya bisa berdamai dengan logika, bisa saja bertolak belakang. Belajar menerima apa yang ada dalam diri masing-masing. Memang tak ada manusia yang sempurna, namun terkadang sebagian orang mengabaikannya. Ketika terlihat kekurangannya seakan menghindar pelan-pelan dan pergi begitu saja. Ku tak ingin dirimu seperti itu, lihatlah diriku seutuhnya dari hatimu sebelum benar-benar mencintai.

1. Ketika engkau hanya melihat dari fisik luar saja. Tidaklah engkau mengerti semua itu akan menjadi keriput dan tua.

Menjadi tua itu pasti via http://bengkuluekspress.com

Tubuh yang ideal, mata yang lentik, kulit yang putih, dan semua yang dianggap sempurna secara fisik, terutama dari sisi wajah. Namun apakah mereka mengerti bahwa wajah yang terlihat cantik ataupun tampan itu sesuai dengan hatinya? Percuma saja jika engkau hanya melihat dari wajah ini dan tak engkau hiraukan hatinya. Semua itu hanya sementara bagimu. Seharusnya engkau melihat wajah ini dan seesuaikan dengan hatinya. Tak masalah baik atau buruk itu hakmu untuk menilai. Paling tidak engkau mengerti mana yang rupawan dari luar dan mana yang rupawan dari dalam.

Karena itulah, lihatlah diriku dari sisi hatiku dahulu. Dari situ engkau akan tahu, pancaran wajah yang engkau kagumi selama ini karena buatan ataukah dari hati nurani yang sebenarnya.

2. Ketika engkau hanya melihat dari harta saja. Tidaklah engkau mengerti bahwa semua itu hanyalah titipan.

semua itu hanyalah titipan via https://encrypted-tbn2.gstatic.com

Advertisement

Tiada seorang pun diantara kita melainkan hanyalah seorang tamu di dunia. Demikian pula harta benda yang dimiliki hanyalah sebuah pinjaman dari Allah SWT. Sedangkan yang namanya tamu itu sudah pasti akan pergi yakni meninggalkan dunia, dan harta pinjaman itu akan kembali kepada Sang Pemiliknya.

Harta bukan segalanya, namun kita hidup didunia masih membutuhkannya. Ketika memiliki segalanya, akankah engkau selalu bersedia mengingatkanku untuk tak berfoya-foya, untuk tak menghamburkan keinginan yang kurang penting bahkan tidak penting, dan mengingatkan untuk selalu bersedekah dan bersyukur? Dan ketika diriku belum memiliki segalanya, akankah engkau selalu mendukungku untuk mencapainya?

Selalu di sampingku untuk memberi motivasi, menggenggam tanganku ketika berjalan diarah yang salah? Selalu doamu yang ku tunggu. Semua itu sebagai pengingat semata agar tak dibutakan oleh harta yang sementara.

3. Ketika engkau hanya melihat dari kesuksesan saja. Tidaklah engkau mengerti jatuh bangunku dibalik itu.

kesuksesan dibalik jatuh bangun via http://ojekcinta.com

Perjalanan hidup tak ada yang sempurna. Roda yang berputar pasti akan berhenti pada masanya. Dirimu hanya melihat posisi diriku saat diatas. Namun dirimu tak melihat bagaimana rasanya berada saat dibawah. Belum lagi berada dibawah roda. Sekuat tenaga ingin membalik roda itu namun belum cukup hanya diri ini seorang. Engkau membalikkan badan tak tahu apa yang dibelakang. Ketika roda bisa ku putar dan terdengar suara putarannya sehingga dirimu mendengar dan membalik badan dan melihat diriku berada diatas. Dirimu hanya melihat itu… Ya itu…

Tak ada yang bisa dikatakan. Tak bisa diri ini berpikir negatif tentang itu, namun semoga dibalik dirimu tersimpan doa yang selalu mendampingi dalam setiap perjalanan.

4. Ketika engkau hanya melihat kebaikanku, apakah engkau siap menerima sisi keburukanku.

Menerima sisi keburukan via https://encrypted-tbn2.gstatic.com

Kebaikan yang selama ini engkau liat hanya sebatas pandangan mata sesaat, Aku malu saat dianggap baik, padahal aku adalah pendosa yang hebat. Hanya saja Allah sedang menutup aibku. Jangan pernah merasa diri ini sudah baik dan jangan pernah menganggap diri ini sudah benar. Diriku hanya ingin terus memperbaiki diri seolah-olah esok akan mati.

Jika engkau tahu tentang keburukanku, hanya ada dua hal dapat kau pilih: memperbaiki atau meninggalkan.

5. Coba lihatlah diriku dari sisi kekuranganku, dapatkah dirimu memaklumi, memaafkan, dan memotivasi.

Memaklumi, memaafkan, memotivasi. via https://encrypted-tbn1.gstatic.com

Yap… Lihatkah dariku dari kekurangan dahulu, sebelum dirimu mengagumi kelebihan. Ketika dirimu melihat kesalahan yang pernah ku perbuat di masa lalu dan di masa bersamamu, apakah dirimu sudi memakluminya? Memaklumi dari berbagai segi fisik, perasaan dan keadaan. Dan bisa memaafkannya, Memang tidak mudah namun kuharap engkau mengerti. Dan motivasi yang dapat menggugah diri ini untuk bangkit.

Semua itu adalah ujian. Mencintai juga sebuah ujian. Suka, sayang, dan cinta memang mudah untuk diucapkan namun tidak sama halnya dengan hati. Semoga doa yang telah dipanjatan di setiap malam sebagai pembuka jalan di hati kita masing-masing.

Jika sudah digariskan, semoga dirimu menjadi penyempurna agamaku dan pelengkap tulang rusuk ini.