Separuh jiwaku hilang meski semua aku tutupi dengan banyak tertawa dan tersenyum. Kalau boleh jujur, hatiku yang remuk ini serasa melayang hampir jatuh ke jurang dan sulit untuk bangkit. Namun, karena kekuatan hati seorang ibu, aku yang lemah ini kini berbalik arah menjadi sangat kuat sekuat baja!

1. November 2016; awal mimpi buruk itu datang

Semua berawal dari bulan November 2016. Bolak-balik ke rumah sakit mungkin kini sudah menjadi rutinitas bagi kami, terutama hero kami.

Pembengkakan di leher itulah awal dari ketegaran kami. Dimulai dari cek laboratorium yang tiada akhir. Dilanjut degan CT Scan, rekam jantung, MRI, dan lain-lain sampai biopsy dilakukan agar semua tanya kami terjawab.

Hari di mana biopsy itu datang, aku takut. Selayaknya seorang anak, aku rasakan ketakutan luar biasa karena ini pertama kalinya. Ketika bapakku keluar dari ruang operasi, aku melihat bapakku terbaring lemah di sana. Aku yang berjanji untuk tidak menangis akhirnya mengingkari janjiku sendiri. Hati anak mana yang tidak akan menangis ketika melihat orang tersayang ada di tempat seperti itu?

2. Desember 2016; bulan air mata

Advertisement

Hasil yang sudah ditunggu sekian lama kini datang juga. Hero kami, pahlawan kami, dan pimpinan tertinggi dalam keluarga kami menderita sakit yang teramat menyakitkan bahkan diluar dugaan karena gejala yang awalnya hanya pembengkakan di leher kini didiagnosa menjadi kanker.

Ya, kanker di hidung bagian dalam atau nama medisnya Kanker Karsinoma Nasofaring. Kanker ini merupakan kanker terbesar No. 3 di Indonesia.

Hancur, remuk, dan entah perasaan apalagi yang bisa aku rasakan. Menangis dalam diam adalah caraku untuk menumpahkan perasaanku. Aku tak ingin menangis di depannya karena aku ingin terlihat jauh lebih kuat daripada beliau. Bukan hanya penyakitnya saja yang ketahuan, tapi ada satu hal lagi yang membuat kami syok; yaitu tingkat keparahan dari kanker itu.

Setelah banyak pemeriksaan yang dilakukan, diketahui kanker tersebut sudah memasuki stadium 4. Hati yang sekuat baja itupun roboh juga. Aku menangis sejadi-jadinya!

Aku belum siap menghadapi keadaan ini. Aku merasa masih sangat membutuhkan perhatiannya. Itulah ketakutanku yang seharusnya aku buang jauh dari bayanganku.

3. Desember rasanya telah ajarkan aku untuk pintar mnyembunyikan ekspresi dengan bermain “drama”

Masih di bulan yang sama, permintaan dokter untuk melakukan kemoterapi pertama dilakukan juga.

Awalnya aku tidak terlalu paham dengan proses kemoterapi karena memang aku belum pernah melihatnya secara langsung. Ternyata kemoterapi yang dilakukan oleh bapakku adalah kemoterapi lewat infus. Infus kemoterapi itu dimasukkan ke dalam tubuh bapakku selama 5 hari nonstop bersama infus cairan NaCl.

Efek kemoterapinya mulai bekerja dan di situlah lagi-lagi air mataku tak tertahan. Bagaimana mungkin aku bisa melihat sosok yang biasanya makan banyak kini tidak mau makan? Sosok yang biasanya kuat menjadi lemah, sosok yang biasanya tertawa menjadi kehilangan tawanya. Semua kebahagiaan di wajahnya benar-benar sirna diambil Tuhan.

Inilah cobaan dari Tuhan yang paling berat dan di sinilah peran kami sebagai keluarga. Setiap hari kami mencoba untuk mengajaknya bercanda, tertawa, tersenyum meski kadang tidak ada gunanya karena beliau merasakan sakit yang luar biasa.

Pernah pada tengah malam itu, beliau muntah hebat sehingga perutnya mengalami sakit yang luar biasa. Aku yang sedang tidur tiba-tiba bangun dan aku hanya bisa menangis. Ku seka air mataku untuk turut membantu beliau. Konyol memang, tapi apalagi yang bisa dilakukan oleh orang yang lemah seperti aku ini. Yang bisanya hanya menangis dan berdoa.

4. Januari 2017; Tuhan, dengarkanlah doa kami di tahun yang baru ini

Kemoterapi kedua dilakukan pada pertengahan bulan ini. Hal yang membuat aku sedih adalah karena pada kemoterapi kedua ini aku tidak bisa setiap hari menjenguk bapakku. Bukan karena tidak mau, tapi karena kesibukan dan hal lain.

Sesungguhnya aku menyesal. Dan aku selalu berdoa. Aku berharap agar proses kemoterapi yang selanjutnya hingga kemoterapi keempat atau kelima dan radioterapi dapat berjalan dengan lancar sehingga hero-ku ini dapat sembuh total.

Karena, jujur aku sangat merindukan marahnya, candanya, dan perhatian yang sangat besar terhadap anak-anaknya! Kalau dulu aku sangat sebal karena apa-apa harus diatur dan diperhatikan, kini aku sangat berharap pada perhatian beliau. Ternyata tidak diperhatikan itu sangat menyakitkan.

Bapak, lekaslah sembuh. Anak gadismu yang lemah ini masih membutuhkan kehadiranmu, nasihatmu, ceritamu tentang kerasnya hidup ini, dan kami akan meniru ketegaran dan kekuatan hatimu!

5. Hanya harapan yang tersisa. Kami akan jaga harapan itu agar tetap menyala

Semoga di tahun 2017 ini keajaiban Tuhan itu ada dan kami dapat merasakan kasih sayang-Nya. Semoga kejadian ini menjadikan kami sekeluarga menjadi kuat, tidak putus harapan, tambah rajin beribadah, dan melakukan hal baik maupun positif.

Buat seluruh teman Hipwee yang mungkin mengalami hal serupa denganku, semoga kalian pun tetap tabah! Mari kita bersama-sama menyerahkan kehidupan ini dalam tangan-Nya, sambil berharap keajaiban akan menyentuh kita 🙂