Aku ingin kamu membaca tulisanku ini. Aku tidak tahu kapan sampainya, dan kapan kamu membacanya. Percayalah, aku menulisnya dengan sepenuh hati, maka aku mohon, bacalah juga dengan hati untuk kali ini.

1. “Kamu”; aku akan terus berjalan hanya demi melihat senyummu

Hidup itu tidak pernah lepas dari kematian, dan kematian tidak pernah lepas dari kehidupan. Faktanya, hidupku juga dihantui oleh kematian seperti kehidupan makhluk yang lain, termasuk kamu. Kita sama-sama manusia yang tidak abadi, suatu hari kita akan mati. Itulah takdir manusia. Tapi justru, kebanyakan manusia tidak pernah menyadari, bahwa jika dia selalu mengingat kematiannya, dia akan sadar bahwa hidupnya adalah hal yang paling berharga.

Dan aku, aku tidak akan seperti mereka yang telah lama menyia-nyiakan hidupnya. Aku akan hidup, dengan hidup yang berharga.

Aku sangat yakin bahwa semua tindakanku selama ini adalah hal yang seharusnya aku lakukan. Dari situlah hidupku akan berharga.

“Aku mencintaimu”. Itulah kehendak Allah padaku. Dia seolah menginginkanku menjadi orang yang berperan dalam hidupmu tanpa berarti bagimu. Dan aku menerima kenyataan itu.

Advertisement

Sejak aku menyadari bahwa aku mencintaimu, aku nggak pernah menyingkirkan perasaan itu. Setiap kali aku melihatmu, rasa itu selalu muncul seperti pertama kalinya.

Aku masih berjalan sesuai kehendak-Nya, aku tahu semua ini rencana-Nya. Allah masih memperkuat perasaanku padamu.

Aku tahu kamu tidak pernah berharap aku akan bahagia, tapi aku akan terus berjalan hanya demi melihat kamu tersenyum.

2. “Kamu”; karena kamulah semangatku

couple-cartoon-7-26 via http://la-dilacious.blogspot.co.id

Aku masih ingat, ketika kita makan roti bakar coklat di depan warung nasi goreng, dan kamu bilang,

“Hmmm..ternyata enak ya?!”

Aku bahagia.

Dan setiap kali kamu berkata,

“Kenyang, yang?!”

Aku bahagia.

Lalu, setiap kau melihatku,

(Kamu tersenyum atau tertawa lepas)

Aku bahagia.

Ada 3 hal yang ku katakan dengan jujur, tapi tidak pernah kamu percaya dan tidak pernah kamu anggap berharga.

“Aku mencintaimu”.

“Kamu laki-laki yang paling tampan di antara yang lain”.

“Semangat! Aku ada untuk menerimamu apa adanya”.

“Allah, aku selalu mendukungnya. Tapi dia selalu mengira aku tidak pernah mendukungnya”.

Kamu tidak pernah mempercayaiku. Itulah faktanya.

Kamu. Seolah perjalanan kita selama ini, aku tidak pernah berarti apa-apa bagimu. Bahkan saat kamu berhasil dalam hidupmu, kamu malah semakin menjauhiku.

Dan aku sendiri, harus menerima takdir yang ditentukan-Nya. Hidupku selalu berarti dengan adanya kamu. Di setiap keberhasilanku, kamulah orang pertama yang kuberitahu, aku akan berterima kasih padamu, karena kamulah semangatku.

Walaupun, kamu juga penyebab suntuk yang berkepanjangan.

Aku tahu ini sangat sulit bagiku. Seolah aku rela berjalan di atas lava panas membara hanya demi melihat senyummu. Walaupun, kamu tidak pernah peduli denganku.

Aku tidak pernah menyangkal bahwa inilah takdir yang ditentukan untukku.

3. “Kamu”; aku yang sakit hati karenamu

Maafkan aku jika aku benar-benar mencintaimu. Katakan saja jika itu mengganggumu.

Maafkan jika terkadang aku membuatmu marah, sering malah. Bahkan ketika kamu tahu aku sakit karenamu, kau memilih marah ketimbang memelukku dengan cinta. Nyatanya, kamu bahkan tidak pernah menghapus air mataku, bahkan jika kulakukan itu dihadapanmu.

Maafkan aku jika akhirnya kamu mencampakkanku seperti ini, jika akhirnya kamu memilih untuk pergi.

Terima kasih, darimu aku banyak belajar tentang cinta.

Sakit hati, tidak akan menjadi alasan untuk rasa terima kasih.

Berkaca dari orang tua, mereka terlalu bodoh karena anaknya, bahkan sampai pun anaknya seorang pendosa, masih sempat mereka khawatir dan memedulikannya.

Jadi, aku tidak akan sepertimu. Aku tidak akan sepertimu yang menyiksaku ketika keinginanmu tidak terpenuhi. Aku tidak akan sepertimu, yang ketika marah kau malah sengaja meninggalkanku. Aku tidak akan sepertimu, yang ketika bermasalah kau malah menghilang begitu saja.

Aku akan belajar mencintai seperti cinta orang tua kita. Aku tidak akan meninggalkanmu ketika aku sakit hati. Aku tidak akan menjauhimu ketika aku marah padamu. Dan aku tidak akan membiarkanmu sendiri, ketika keinginanku tidak terpenuhi.

Walaupun aku sakit hati karenamu, aku tahu kamu bukanlah pelampiasan, melainkan kehidupan. Meskipun kamu sering menjadikanku pelampiasanmu.

Mulai sekarang, aku akan selalu ada di sisimu.

Sampai kamu mencapai kebahagiaanmu dan menemukan wanita yang akan berbahagia denganmu.

4. “Kamu”; yang aku harap menjadi kisah cinta terakhir untuk selamanya

Sebelum kamu mencapai semua itu, cita-cita, canda, dan cinta.

Aku akan menemanimu.

Aku akan mengatakan, “Udah waktunya shalat!!?” setiap hari.

Aku akan mengatakan, “Hati-hati?!” tiap kali kau pergi.

Dan aku akan mengatakan, “Aku mencintaimu”.

Sebelum kau mencapai cita-citamu, sebelum kau bersama wanita itu.

Karena, mencapai bahagia itu butuh proses, dan proses mencapai kebahagiaan itu kebanyakan menyakitkan. Jadi, aku akan ada untukmu selama masa menyakitkan itu.

Aku akan tetap mengkhawatirkanmu walaupun kamu tidak pernah menghubungiku.

Aku akan tetap menunggumu walaupun kamu tidak pernah mengerti perasaanku.

Aku akan tetap mencintaimu walaupun kamu tidak pernah mencintaiku.

Aku ingin menjadi penyebab bahagiamu, walaupun kau tidak menghendaki hal itu.

Meskipun itu sakit, dan membuatku sulit untuk tersenyum akhir-akhir ini.

Nyatanya, kamu tidak sepertiku yang berharap bahwa ini adalah kisah cinta yang terakhir untuk selamanya.

5. “Kamu”; kebaikanku akan menjadi penyebab bagi kebahagiaan orang lain

Maafkan aku baru saja menyadari hal ini. Allah menciptakanku karena alasan “kebahagiaan”. Allah mengenalkanku pada orang lain dengan alasan bahwa aku akan berbuat baik di dunia ini. dengan alasan bahwa kebaikanku akan menjadi penyebab bagi kebahagiaan orang lain.

Bukankah Allah membuat aturan main bahwa kebaikan memang diciptakan untuk kebahagiaan?

Itulah mengapa hidupku akan berharga jika aku baik dan membantu orang lain bahagia. Toh jika seseorang mati, aku telah melakukan hal yang membuat hidupku berharga. Aku baik, dan berusaha menjadikan orang lain bahagia dengan baik.

Bahkan jika aku mati, hidupku akan berharga karena sudah membantumu bahagia, bahkan jika hanya melalui do’a, bahkan jika kamu membencinya.

Iya. Aku tahu kenapa Allah mempertemukanku denganmu dan membuatku jatuh cinta padamu.

Karena, Allah ingin kamu bahagia.

Jadi, aku akan baik agar kamu bahagia.

Aku tahu tak layak bagiku untuk menghubungimu lagi. Kamu pun tidak pernah memberiku kabar lagi. Sampai, aku tidak tahu harus tersenyum ataukah harus menangis ketika bertemu denganmu.

Tak masalah jika kamu ingin berpisah denganku. Menjauhlah jika itu membuatmu tertawa bahagia. Tapi, aku akan selalu ada untukmu jika kamu membutuhkanku dan Dia menghendakinya.

Aku akan melakukannya, jika kamu menginginkanku pergi saja.

Jika kamu bertanya siapa aku, aku akan menjawab,

“Aku adalah salah satu dari mereka yang menginginkan akhir bahagia dalam hidupmu”.

Untuk Emha…