Melanjutkan kuliah di luar negeri merupakan impian sebagian besar kalangan, baik mahasiswa, fresh graduate, maupun mereka yang sudah bekerja. Kesempatan untuk berkembang, pengalaman, ilmu dan jaringan internasional menjadi motivasi mengapa banyak orang mendambakan kesempatan ini, baik dengan jalan berburu beasiswa maupun biaya sendiri.

Namun, banyak diantara kita yang baru mempersiapkan segala sesuatunya setelah lulus kuliah S1. Akibatnya, persiapan kuliah S2 yang seharusnya bisa dilakukan dalam waktu singkat, akhirnya memakan waktu hingga satu atau dua tahun.

Persiapan kuliah postgraduate di luar negeri sebenarnya dapat dilakukan dalam waktu singkat, bahkan setelah lulus S1 pun sebenarnya kita tidak perlu berlama-lama untuk bisa meneruskan kuliah di luar negeri, kalau kita mau memperjuangkan dan mencicil persiapannya semenjak awal kuliah S1. Apa saja tips dan triknya? Berikut ulasannya.

1. 1. Prestasi akademik yang baik dan lulus tepat waktu. Jangan lupa, beberapa universitas TOP dunia mensyaratkan IPK yang tinggi.

IPK atau prestasi akademikmu harus baik via https://www.google.co.id

Untuk bisa berkuliah di universitas top dunia seperti MIT, Harvard, Oxford, Stanford University, selain kamu harus mempunyai kemampuan bahasa inggris yang mumpuni, prestasi akademikmu harus bagus. Sebagai contoh, untuk bisa melanjutkan kuliah di Oxford, IPK minimumnya adalah 3,7 dari skala 4. Perjuangan meraih IPK yang baik ini tentunya bukan setelah kita lulus S1, tetapi sejak awal kuliah kita harus konsisten mempertahankan prestasi akademik yang baik. Konsistensi ini juga harus diperoleh dengan cara yang baik, bukan dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan IP yang bagus, seperti berbuat curang, mencontek saat ujian, dan hal buruk lainnya. IPK menggambarkan penguasaan kita terhadap keseluruhan materi kuliah. Jadi ketika kita menghalalkan segala cara untuk memperoleh IPK yang bagus, maka kita akan rugi sendiri nantinya, karena tidak benar-benar menguasai materi. Ada baiknya juga kroscek universitas impian kita untuk tahu berapa IPK minimal untuk masuk ke universitas tersebut. Untuk amannya, beberapa beasiswa dalam negeri mensyaratkan IPK di atas 3. Namun akan lebih baik lagi jika IPK kita di atas 3,5 agar kesempatan untuk mendaftar di universitas-universitas yang berkualitas semakin luas. Kita juga harus mengusahakan lulus tepat waktu, karena semakin lama kita lulus S1, semakin lama pula start S2.

2. 2. Asah Kemampuan Leadership dengan Aktif Berorganisasi. Softskill juga harus diasah sejak dini.

Kemampuan organisasi dan leadership yang baik via https://www.google.co.id

Tidak hanya kemampuan akademik, softskill dan kemampuan organisasi serta potensi kepemimpinan harus dikembangkan untuk menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas. Tidak perlu banyak mengikuti organisasi tetapi mengesampingkan akademik, cukup ikuti organisasi yang sekiranya dapat mengasah softskill seperti public speaking, manajemen organisasi, kepemimpinan dan administrasi, lebih bagus lagi organisasi yang kita ikuti dapat mendukung keilmuan kita. Misal: bagi yang kuliah di jurusan pertanian dapat bergabung dengan IAAS, yang kuliah di jurusan ekonomi dapat bergabung dengan UKM Kewirausahaan, dan sebagainya. Track record organisasi juga mempengaruhi pencitraan diri dan skill yang kita kuasai. Konsistensi kita juga dinilai dari organisasi apa yang kita ikuti. Beberapa beasiswa untuk kuliah di luar negeri seperti LPDP sangat menganjurkan untuk memiliki track record kepemimpinan dan organisasi yang satu track dengan keilmuan kita.

3. 3. Aktif dalam komunitas sosial atau kegiatan volunteerism. Buktikan kepedulianmu pada lingkungan sekitar.

Advertisement

Menjadi insan yang peduli lingkungan sekitar via https://www.google.co.id

Kepedulian sosial juga merupakan parameter penilaian beberapa beasiswa ke luar negeri. Contoh: ketika ditanya oleh pewawancara, "apa yang sudah kamu lakukan untuk masyarakat atau lingkungan di sekitar kamu?" kira-kira kamu akan jawab apa kalau misalnya kita tidak punya pengalaman kegiatan sosial atau volunteerism. Malah akan lebih bagus kalau misalnya kamu yang menginisiasi kegiatan tersebut, misalnya: penggalangan dana atau bantuan untuk korban bencana, terlibat dalam penyalurannya, atau yang paling simpel kegiatan bakti sosial di panti asuhan atau ikut penghijauan atau penanaman pohon. Kegiatan sesimpel itu menunjukkan kalau kita tidak hanya sibuk dengan pengembangan diri kita sendiri, tetapi juga cermin bahwa kita berguna bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

4. 4. Punya keahlian khusus. Ini akan menjadi daya tarik yang bisa membuat diri kita unik, diingat dan bernilai lebih.

Punya keahlian khusus yang bisa dikembangkan dan menjadi ciri khas via https://www.google.co.id

Keunggulan kita tentunya menjadi daya tarik pemberi beasiswa keluar negeri untuk mempertimbangkan kita diantara kompetitor yang lain. Selain prestasi akademik dan softskill, keahlian kita seperti GIS, desain, programming, project management dan keunggulan lainnya bisa menjadi nilai plus. Apalagi dalam menyambut era sharing economy dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), kita sebagai lulusan perguruan tinggi dituntut untuk menjadi sumberdaya yang terampil agar bisa bersaing secara global. Sedikit gambaran, coding dan programming adalah kemampuan dasar bagi lulusan S1 di Amerika, sedangkan di Indonesia hanya sedikit yang menguasai atau bahkan hanya jurusan tertentu seperti Ilmu Komputer, Teknik Informatika dan jurusan sejenisnya. Kuasai satu keahlian, maka kita akan lebih dipertimbangkan.

5. 5. Mencicil pengalaman kerja dengan memanfaatkan kesempatang MAGANG saat liburan.

Mencicil pengalaman kerja via https://www.google.co.id

Beberapa beasiswa kuliah di luar negeri mensyaratkan pengalaman kerja minimal dua tahun untuk bisa menjadi awardee. Sebenarnya ini tidak saklek harus bekerja di instansi yang sama selama dua tahun, tetapi kita bisa mulai mencicil pengalaman kerja dengan mengajar di lembaga kursus atau magang di instansi saat liburan. Agar liburan kita bermanfaat dan mencicil pengalaman kerja. Selain itu, dengan melaksanakan magang, kita menjadi tahu, ilmu apa yang harus kita kuasai saat kuliah dan bagaimana persaingan dan kondisi di dunia kerja. Misal: pengalaman mengajar geografi di lembaga kursus A selama 1 tahun, kemudian pengalaman magang di 2 lembaga selama masing-masing 1 atau 2 bulan. Kita tinggal menambah pengalaman 6 bulan atau 1 tahun setelah lulus untuk memenuhi persyaratannya.

6. 6. Menjadi asisten dosen atau sering diskusi dengan dosen.

Menjadi asisten dosen banyak keuntungannya via https://www.google.co.id

Beberapa beasiswa kuliah di luar negeri mensyaratkan rekomendasi dari dosen atau atasan tempat bekerja. Dengan menjadi asisten dosen atau sering berdiskusi dengan dosen, maka ketika datang kesempatan untuk meminta rekomendasi, kita tidak perlu memperkenalkan diri kembali dan dosen pun tidak akan ragu untuk memberikan rekomendasi karena sudah mengenal kita dengan baik. Selain itu, sering berdiskusi dengan dosen akan semakin memperdalam ilmu dan memperluas jaringan, apalagi ketika kita mengenal dosen yang juga aktif di beberapa organisasi internasional. Perkembangan ilmu pengetahuan, kebaharuan jurnal dan level kompetisi serta prediksi prospek bidang ilmu kita di masa depan juga dapat diketahui gambarannya dengan berdiskusi dengan dosen-dosen kita. So, jangan ragu untuk mulai menjalin relasi dengan Bapak Ibu dosen. Selain itu, dengan menjadi asisten dosen, kita juga dapat mencicil pengalaman kerja. Misal: menjadi asisten mata kuliah A selama 1 semester dan mata kuliah B selama 1 semester, maka kita sudah memiliki pengalaman kerja selama 1 tahun.

7. 7. Aktif di komunitas internasional. Kembangkan pergaulanmu, tidak hanya pertemanan dalam lingkup kecil saja.

Membangun jaringan atau relasi internasional via https://www.google.co.id

Coba cek gruo watsap, skype, linked, dan background orang-orang yang comment atau berinteraksi denganmu di media sosial. Apakah hanya orang-orang dalam negeri saja? Ada pepatah yang bilang bahwa kualitas seseorang bisa dilihat dari lingkup pertemanan dan karakter rekan-rekannya. Apakah kita termasuk orang-orang yang cukup berpengaruh di lingkup pergaulan? Atau kita bergaul hanya dengan kalangan yang backgroundnya sama dengan kita? Bayangkan ketika kita menjadi orang besar nanti, ketika kita menjadi juru bicara atau negosiator internasional, maka kita harus pandai bergaul dengan kalangan internasional. Jika berkomunikasi dengan orang luar negeri saja tidak pernah dilatih dan tidak piawai, bagaimana kelak kita bisa menjadi SDM yang memiliki global level competence?

8. 8. Aktif dan berprestasi dalam lomba, conference, workshop dan seminar.

Aktif dan berprestasi dalam lomba dan conference via https://www.google.co.id

Berprestasi merupakan salah satu poin penilaian si pemberi beasiswa kuliah di luar negeri kepada kita. Orang yang berprestasi adalah gambaran pribadi yang pandai melihat peluang, kaya akan ide, mau belajar dan gigih dalam berjuang. Kualitas dan level kompetisi kita tergambar dari skala lomba yang kita ikuti, baik itu skala perguruan tinggi, skala regional, nasional maupun internasional. Sering mengikuti workshop atau conference sama halnya dengan mengikuti lomba, karena beberapa conference diselenggarakan dengan seleksi paper yang ketat dan beberapa diantaranya juga fully funded sehingga hanya paper-paper yang berkualitaslah yang diterima dan berhak untuk presentasi. Untuk update info lomba bisa dilihat di infolomba.com, sedangkan untuk update info conference bisa dilihat di conferencealert.com.

9. 9. Memiliki sosok idola atau panutan.

Sosok idola yang menjadi teladan dan panutan via https://www.google.co.id

Memiliki sosok idola bisa jadi akan membentuk karakter kita dan menjadikan kita manusia yang memiliki visi dan misi hidup yang jelas. Sepak terjang sosok idola dapat menginspirasi dan menyulut semangat kita untuk meraih prestasi dan mewujudkan mimi-mimpi kita. Sebagai contoh: mengidolakan ridwan kamil, walikota Bandung. Kemudian kita membaca biografi beliau, latar belakang pendidikannya, karya-karya yang dihasilkannya, jaringan internasional yang dimiliki dan sedang dijalinnya, maka kita akan terinspirasi untuk menjadi sehebat beliau. Kita secara alam bawah sadar akan terpengaruh sosok idola kita, baik secara keseharian, visi misi ke depan maupun pola pikirnya.

10. 10. Hidup mandiri dan berjiwa entrepreneurship

Mandiri dan berjiwa enterpreneur via https://www.google.co.id

Ketika kuliah S1, mulailah coba untuk mencari penghasilan sendiri dan tidak sepenuhnya mengandalkan support finansial dari orang tua. Kita bisa melakukannya dengan mengajar di bimbel, membuka usaha kecil atau investasi sejak dini. Kemampuan untuk mandiri ini akan teruji nanti ketika kita hidup jauh dari orang tua dan merantau ke negara lain, mau tidak mau kita harus bekerja jika kekurangan orang karena biaya hidup yang tidak sedikit. Selain itu, memupuk jiwa enterpreneurship sejak dini akan melahirkan mental seorang pemimpin dan membuktikan kemampuan survive untuk kondisi-kondisi kritis seperti krisis finansial, sehingga menjadikan kita manusia-manusia yang kreatif dan tangguh.

11. 11. Belajar TOEFL dan IELTS bukan setelah lulus kuliah S1. Ini yang paling fatal dan memakan waktu.

Memiliki skor TOEFL / IELTS yang mumpuni via https://www.google.co.id

Kita semua tahu bahwa untuk bisa kuliah di negara lain harus menguasai bahasa native di negara tersebut. Untuk menguasai suatu bahasa, dibutuhkan waktu yang tidak sedikit dan pengorbanan yang ekstra. Maka sedari awal, jangan remehkan bahasa inggris! Kemampuan bahasa inggris adalah modal fundamental untuk bisa bersaing di level global. Ini modal paling utama untuk bisa kuliah di luar negeri. Jangan sampai kita baru belajar TOEFL atau IELTS justru setelah kita kuliah. Banyak sekali situs untuk belajar TOEFL atau IELTS for free, belajarlah di waktu luang anda barang 1 atau 2 jam sehari. Bayangkan jika anda melakukannya selama 4 tahun kuliah S1, seharusnya kemampuan bahasa inggrisnya sudah mumpuni, bukan? Beberapa blog awardee beasiswa menyatakan bahwa mereka rata-rata belajar bahasa inggris selama kurang lebih 1-6 bulan untuk memperoleh skor TOEFL atau IELTS yang sesuai requirement beasiswa kuliah di luar negeri. Maka, mulai sekarang, mulailah mencicil belajar TOEFL atau IELTS dan syukur-syukur menabung dari sekarang untuk bisa mengikuti official testnya. Beberapa international conference juga mensyaratkan TOEFL, sehingga dengan memiliki skor TOEFL yang mumpuni, kesempatanmu untuk berkembang terbuka lebar.

12. 12. Kumpulkan Informasi Beasiswa, Kuliah dan Course yang satu track dengan keilmuan.

Menghimpun informasi beasiswa dan kuliah sejak dini itu penting via https://www.google.co.id

Mulailah menggali informasi dan update informasi mengenai beasiswa, universitas dan course atau riset terkini. Kita bisa mencarinya via search engine, dosen, jaringan alumni universitas, perhimpunan mahasiswa luar negeri (PPI), atau kedutaan besar negara-negara yang ingin kita tuju. Cari tau deadlinenya, persyaratannya, apa saja yang ditanggung oleh beasiswa tersebut, course yang ditawarkan serta kondisi terkini negaranya. Hal ini penting untuk menyusun langkah kita kedepan dan memperkirakan waktu pemerolehan beasiswa serta awal kuliah. Jangan sampai kita sudah diterima di universitas tapi justru belum punya sumber dana untuk berangkat kuliah.

13. 13. Terakhir, attitude dan manner itu penting. Kuliah di luar negeri harus tetap memiliki sopan santun budaya timur.

Sopan santun dan attitude adalah modal penting via https://www.google.co.id

Level persaingan boleh tinggi, kualitas akademik dan non akademik boleh baik, tapi jangan sampai melupakan attitude. Jangan sampai ketika wawancara beasiswa kita malah ngotot-ngototan dengan interviewer karena merasa kita yang paling benar. Ingat, di luar negeri akan banyak sekali hambatan dan cobaan, seperti direndahkan, dilecehkan, disepelekan, dicurangi dan hal buruk lainnya. Respon dan attitude yang buruk tentu akan mengurangi respek si pemberi beasiswa dan mempertimbangkan ulang untuk memberi kita beasiswa kuliah ke luar negeri. Percuma akademik baik, tapi tidak dibarengi dengan attitude yang baik. Pendidikan ada bukan untuk melahirkan orang-orang yang sombong dan tidak pandai menempatkan diri. Banyak orang yang IPKnya tinggi, kaya pengalaman, skor IELTSnya tinggi tetapi tidak diterima beasiswa hanya karena masalah manner. Bermimpilah yang besar, namun bersikaplah sederhana saja.

Selamat berjuang!!

Fikriyatul Falashifah

Awardee LPDP Batch 2 – 2016