lmu psikologi sudah mulai dilirik banyak orang sebagai jurusan yang akan dipilih kelak ketika kuliah. Pada dasarnya Psikologi berasal dari dua kata, psyche dan logos. Dalam Bahasa Yunani Psyche berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Selama dibangku kuliah kami belajar mengenai perilaku dan proses mental manusia. Namun, orang-orang ‘diluar’ psikologi, nampaknya belum terlalu paham mengenai hal tersebut sehingga tak jarang kami (para lulusan psikologi) mengalami kejadian-kejadian seperti berikut

 

1. Diminta baca kepribadian

Membaca Garis Tangan

Membaca Garis Tangan via http://www.psychoshare.com

“Lulusan apa dek?”

“Psikologi bu”

“oh pesihologi... berarti bisa baca kepribadian ibu ya? Coba baca ibu orangnya kayak apa?”

Padahal baru lima menit ketemu, tapi kami sudah disuruh untuk membaca kepribadian seseorang. Alhasil kami hanya bisa cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Sebenarnya proses membaca karakter seseorang bisa dilakukan dengan beberapa rangkaian tes psikologis, tidak bisa hanya dari tatap muka saja.

2. Dianggap sudah jadi psikolog

Clinical Psychologist

Clinical Psychologist via http://assets.howtobecome.com

“sudah lulus psikologi ya? Udah buka praktek belum? Aku mau konsultasi dong”

Mungkin pertanyaan tersebut hanya basa-basi dari beberapa teman, namun hal itu tetap saja membuat kami menjadi salah tingkah. Sebenarnya, setelah lulus S1 Psikologi, kami masih harus menempuh pendidikan profesi psikolog  selama dua tahun untuk bisa buka praktek. Jadi lulusan sarjana psikologi dan profesi psikolog tidak bisa disamakan ya. Dan kami hanya menerima jasa curhat, bukan konsultasi ;)

3. Dimintain kunci jawaban psikotes

Psikotes

Psikotes via http://psikotes.org

“lo lulusan psikologi kan? Bagi kunci jawaban buat psikotes dong?”

“kalo di tes yang gambar-gambar itu, bagusnya gimana sih ngerjainnya?”

Menginjak umur 20an, banyak dari teman-teman kami yang mulai mencari pekerjaan. Namun, beberapa teman mengeluhkan susahnya untuk lolos dalam seleksi pekerjaan. Rangkaian psikotes yang perlu dilewati calon karyawan menjadi salah satu bagian yang menurut mereka susah. Sehingga tak jarang mereka bertanya mengenai kunci jawaban ataupun tips-tips mengerjakan psikotes. Meskipun kami lulusan psikologi tapi kami tidak mungkin mengetahui ataupun menghafal seluruh kunci jawaban alat-alat tes psikologi. Seandainya pun kami tahu beberapa tipsnya, berdasarkan kode etik psikologi kami tidak bisa memberitahukannya secara luas.

4. Tidak boleh marah

“kamu kan anak psikologi, kok marah sih?”

“kok lo galau sih? Katanya anak psikologi”

Pertanyaan ini sesungguhnya membuat kami sedih sekaligus merasa lucu. Marah merupakan wujud emosi negatif yang dialami seluruh makhluk hidup, termasuk manusia. Jadi wajar jika kami merasakan emosi tersebut karena meski kuliah psikologi selama empat tahun, kami tetaplah seorang manusia biasa. Dengan belajar psikologi, tidak membuat kami kehilangan fitrah sebagai manusia untuk merasakan berbagai macam emosi, baik positif atau negatif. Hanya saja selama kuliah kami diajarkan untuk mengelola emosi yang kami miliki.  Kalaupun ada teman kalian yang lulusan psikologi tapi sering marah-marah, mungkin dia emang lagi banyak pikiran  ;)

5. Dikira Berobat Jalan

“ngapain kuliah psikologi? Berobat jalan ya?”

Umumnya, mahasiswa psikologi dianggap hanya mempelajari tentang orang gila ataupun orang dengan gangguan mental. Tak heran jika beberapa orang menganggap kami kuliah sambil berobat jalan. Pernyataan tersebut nampaknya kurang tepat. Lebih tepatnya, dapat dikatakan bahwa beberapa mahasiswa memilih jurusan Psikologi karena ada pertanyaan-pertanyaan dalam hidupnya yang perlu dicari jawabannya. Dan di jurusan Psikologilah kami pikir akan menemukan jawaban-jawaban tersebut