Jadi mahasiswa itu susah-susah gampang, iya nggak sih? Apalagi bagi kamu yang ingin punya penghasilan sendiri. Atau paling nggak, bisa nambah uang saku. Salah satu pekerjaan yang sering dipilih, dengan alasan tidak memakan banyak waktu adalah jadi tentor atau pengajar di lembaga pendidikan. Memang sih, kebanyakan yang pilih pekerjaan ini adalah anak-anak fakultas pendidikan. Tapi buat kamu yang bukan anak pendidikan, boleh aja kok mencoba pekerjaan ini.

Tapi sebelum terjun langsung, kamu juga harus tahu dulu, apa aja suka dukanya jadi tentor. Karena tentu nggak melulu soal senang aja kan?

 

1. Tes tertulis dan Tes Mengajar yang Bikin Keki

calon tentor

calon tentor via http://www.linkedin.com

Sebelum diterima bekerja, biasanya kamu akan mengikuti tes tertulis. Kalau yang ini sih biasanya santai dan mudah ditaklukkan ya. Kamu tentu sudah nggak kaget mengerjakan soal-soal SMP atau SMA.

Tapi yang sering bikin keki itu adalah tes selanjutnya, tes mengajar. Kamu akan diminta menjelaskan suatu materi di depan para pengajar senior, pewawancara dan HRD. Dan sepertinya, kemampuan orasi di depan teman-teman waktu demo nggak banyak membantu deh. Kamu akan merasakan tangan dan kaki yang mendadak dingin atau keringat sebesar biji jagung yang mengalir di wajah. Dan yang paling parah, perut pun ikut andil dengan nyeri yang sangat.

Sebenarnya, nggak usah takut juga sih. Kamu bisa praktek mengajar seperti biasa kamu lakukan di kampus atau di depan teman-teman kamu. Ini bukan ujian skripsi, hoi! Tapi kalau dianggap jadi latihan ujian skripsi juga boleh kok.

2. Pertama Mengajar itu Rasanya Sesuatu

Selamat, akhirnya kamu diterima untuk jadi tentor di lembaga bimbingan belajar yang kamu tuju. Nah sekarang saatnya praktek beneran di kelas.

Buat anak pendidikan, pasti pernah dong latihan praktek mengajar di kampus, di depan teman-teman? Biasanya sih udah janjian dulu ya, jadi proses belajar mengajar lancar jaya.

Lah, sekarang ada di depan kelas beneran. Pertama masuk kelas, kamu pasti jadi pusat perhatian. Rasanya menjadi pusat perhatian mendadak itu, nggak banget deh. Grogi? Jelas lah. Keringat dingin? Bisa jadi. Gemetar? Biasanya sih iya.

Jadi, sebelum kamu jadi bulan-bulanan siswa-siswa barumu, pastikan penampilanmu sempurna ya. Jangan sampai meninggalkan kesan konyol di depan kelas. Pertama kali yang harus kamu lakukan adalah perkenalan. Setelahnya, kamu bisa memanfaatkan dengan mengenal satu per satu nama siswamu. Ini bisa jadi cara agar suasana lebih cair dan kamu lebih santai serta bisa menghilangkan sedikit grogi.  

3. Digodain Siswa-siswa, Bahkan Ada yang Pedekate

Ini nih yang biasa terjadi pada kamu, tentor muda. Biasanya siswa-siswamu nggak akan sungkan menggoda-mu. Dari urusan gebetan bahkan hingga menawarkan jadi pacar. Terutama kamu yang cantik dan ganteng. Jangan heran, kalau dalam waktu singkat ada aja siswa yang akan pedekate padamu. Dari minta akun twitter, pin BB, Line sampai berniat ngajak kamu jalan-jalan.

Inget ya, anak jaman sekarang berbeda dengan anak jaman kamu dulu, yang masih malu-malu. Teknologi membuat mereka dewasa lebih cepat dari usianya.

Eits, tapi kalau kamu memang niat cari gebetan, tempat les bisa jadi pilihan lho. Kamu bisa punya gebetan jauh lebih muda, yang belum banyak tuntutan seperti gebetan seumuran. Tapi ada kalanya mereka lebih berisik, karena terus saja mengirimi pesan-pesan.

4. Dianggap Keren dan Pinter, Bahkan Bijak

tampak keren, pinter dan bijak

tampak keren, pinter dan bijak via http://www.gen20.xyz

Bagi kamu, mahasiswa yang sudah bekerja, biasanya kamu akan dianggap lebih keren bagi temen-teman kamu di kampus. Kamu juga akan tampak lebih pintar, karena sebelum mengajar kamu tentu harus belajar dulu kan? Kebiasaan bicara di depan kelas juga banyak membantu saat presentasi di kampus lho.

Nah, beda cerita jika kamu sedang berada di lembaga. Ada aja siswa yang juga banyak bertanya dan ngobrol denganmu. Dari sana, kamu bisa melihat sudut pandang berbeda. Beda masa sekolahmu dulu dengan masa sekolah sekarang. Bahkan kadang kamu jadi tempat curhat siswa-siswamu di tempat les lho. Ini salah satu ciri kamu dianggap bijak oleh mereka.

5. Harus Siap Setiap Saat Jika jadwal Berubah

jadwal berubah

jadwal berubah via http://www.inc.com

Pertama kali melamar pekerjaan menjadi tentor, kamu tentu berpikir ini pekerjaan santai yang bisa kamu lakukan di waktu luang. Jadi, kamu masih tetap bisa kuliah, mengerjakan tugas dan main seperti biasa.

Tapi jangan salah, ternyata ini nggak sepenuhnya benar. Sebenarnya, jadwal kelas dan tentor pengisi sudah dibuat jauh-jauh hari. Kamu sebagai tentor pun sudah mendapatkannya. Tapi nggak semua berjalan sesuai jadwal. Ada kalanya jadwal mendadak berubah. Kamu harus siap kalau tiba-tiba mbak-mbak admin telepon dan minta kamu untuk datang mengajar. Atau kalau tentor lain berhalangan hadir, kadang kamu juga ditelepon untuk datang menggantikan tentor itu.

Enaknya, jika jam mengajar bertambah, otomatis honor bertambah. Tapi nggak enaknya, kamu jadi nggak bisa seenaknya saja main kalau jam-jam mengajar, takut mbak-mbak admin telepon.

6. Jam Kerja yang Tinggi

jam kerja yang tinggi

jam kerja yang tinggi via http://www.kaskus.co.id

Kamu tentor baru? Jangan heran kalau jam mengajarmu lumayan banyak. Karena biasanya jam mengajar yang tentornya kosong atau berhalangan akan diberikan pada tentor baru. Atau tentor baru biasanya diberi kelas baru yang masih percobaan.

Asyik sih, jam mengajar kamu tambah banyak. Ini tentu berpengaruh terhadap nominal yang akan kamu dapat nantinya. Tapi kamu juga harus mempertimbangkannya dengan jadwal kegiatan kamu yang lain. Jangan sampai tugas kuliah terbengkalai karena asyik mengejar jam mengajar. Jika memang waktumu luang, tidak masalah kamu mengiyakan permintaan mengajar. Tapi, jika memang ada hal lain yang lebih penting untuk kamu kerjakan terlebih dahulu, kamu harus berani bilang ‘tidak’. Jangan sampai kamu malah melakukan pekerjaan dengan setengah hati.

7. Hujan dan Sakit Bukan Alasan untuk Izin

hujan dan sakit bukan alasan izin

hujan dan sakit bukan alasan izin via http://www.whatlovelybooks.com

Jadi tentor di lembaga itu susah izinnya lho. Kalau bukan alasan yang dianggap penting banget, misal sakit, kamu akan kesulitan izin tidak masuk. Atau kalau pun terpaksa izin, kamu harus mencarikan tentor pengganti terlebih dahulu. Bahkan hujan sekalipun, selama tidak ada pemberitahuan libur, maka kamu harus tetap berangkat.

Motivasi kamu untuk tetap berangkat tentunya adalah jam mengajar. Kalau kamu absen, jam mengajar berkurang, honor juga berkurang dong. Jadi biar hujan, tetap masuk. Padahal hujan biasanya turun di sore hari, pada waktu kamu harusnya mengajar. Jadi, siap dengan konsekuensi satu ini?

8. Tuntutan yang Besar dari Lembaga maupun Orang Tua Siswa

tuntutan kerja tinggi

tuntutan kerja tinggi via http://www.huffingtonpost.com

Pernahkah di antara kamu ikut les di lembaga bimbingan belajar? Bagaimana cara tentor yang mengajar? Biasanya asyik, rame, lucu dan sering memberikan tips dan trik mudah mengerjakan kan?

Nah, mereka inilah para tentor yang memiliki tanggung jawab berupa target dan tuntutan pekerjaan yang lebih besar dibanding guru di sekolah. Jika guru bisa saja marah pada siswanya, maka kamu sebagai tentor dituntut untuk lebih sabar menghadapi siswa-siswa kamu. Apalagi mereka biasanya les pada jam-jam lelah.

Setelah sekolah yang melelahkan, ditambah les, maka kamu sebagai tentor harus pintar-pintar membuat pembelajaran semenarik mungkin. Tidak jarang kamu harus membuat joke di depan kelas, agar siswa-siswamu lebih santai. Kamu juga perlu mencari cara dan trik termudah untuk mengerjakan soal bagi siswa kamu.

Mereka yang ikut les biasanya agar nilai di sekolah lebih baik. Karena itu, tentor punya tuntutan besar agar siswa nilainya bisa naik. Artinya kamu sebagai tentor, harus lebih keras lagi berusaha mewujudkan hal ini.

9. Diprotes Orang Tua Siswa

orang tua siswa

orang tua siswa via http://www.systown.co.uk

Ini nih yang ribet. Lembaga sudah memberikan tuntutan kerja buat kamu, eh masih ditambah protes dari orang tua siswa juga. Alasan protes dari orang tua siswa bermacam-macam. Tapi banyak di antaranya terkait nilai siswa. Orang tua memiliki harapan tinggi, anaknya yang ikut les, nilainya pasti naik. Nah, tugas kamu sebagai tentor untuk mewujudkan hal ini.

Kalau ada orang tua siswa yang protes, jangan ikut emosi ya. Tetap tanggapi dengan kepala dingin. Ajak orang tua untuk komunikasi, libatkan siswa kamu juga. Jadi, beban mendapat nilai terbaik bukan hanya pada kamu saja, karena tetap harus melibatkan orang tua siswa juga.

10. Siswa Libur, Kran Pendapatan Juga Ikut Kering

libur = tidak ada pendapatan

libur = tidak ada pendapatan via http://www.snapcarcash.com

Ini bedanya kamu kerja kantoran dengan jadi tentor freelance atau partime. Karena kamu dibayar sesuai jam mengajar, jadi kalau siswa libur dan tidak ada jam mengajar, kamu tidak akan dibayar. Padahal ini biasanya waktu liburan ya. Pas lagi butuh-butuhnya uang.

Memang sih, ada sebagian lembaga yang tetap membuka kelas khusus di waktu libur, supaya tentor tetap dibayar. Tapi jumlah kelas yang sedikit tentu akan beda dengan kelas reguler saat tidak libur.

Jadi, untuk mengantisipasi hal ini, kamu harus bisa menyisihkan pendapatan selama mengajar. So, meski libur kamu tetap punya uang.

11. Suara Mbak Admin Mendadak Merdu Saat Gajian Tiba

saatnya gajian

saatnya gajian via http://www.cbsnews.com

Bukan hanya tentor aja sih, pekerja di manapun tentu akan menantikan yang satu ini, saat gajian tiba. Ada lembaga yang memberikan gaji tentor mereka di awal bulan, dan ada juga di akhir bulan.

Biasanya gaji disesuaikan dengan jumlah jam mengajar kamu selama satu bulan. Kalau jam mengajar kamu cukup banyak, ya jumlah nominal rupiah yang kamu dapat juga akan banyak.

Oh ya, untuk hal ini, perhatikan benar ya surat perjanjian kerja saat awal kamu diterima. Tentang berapa lama kontrak kerja dan berapa jumlah uang yang akan kamu terima nantinya. Kalau ini tidak sesuai dengan kontrak, jangan ragu untuk menanyakannya pada pihak terkait.

 

Nah itu beberapa hal yang perlu kamu tahu sebagai tentor dan calon tentor. Jadi, sudah siap menuju dunia tentor?