Kamu mungkin tidak berasal dari keluarga yang mampu sehingga saat kamu lulus dari Sekolah Menengah Atas, kamu langsung dihadapkan pada kenyataan bahwa kamu tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi yaitu sebagai mahasiswa. Mungkin disitulah saatnya kamu mulai membuat kesepakatan untuk cita-citamu agar ia menunggu dahulu.

Saat teman-temanmu sibuk menjadi mahasiswa baru, kamu malah sibuk dengan Curiculum Vitae untuk diserahkan ke perusahaan satu dan perusahaan lainnya. Namun, ada keyakinan kuat yang terselip bahwa suatu saat nanti kamu pasti bisa menjadi seorang mahasiswa. Inilah suka-duka yang kamu rasakan sebagai pekerja yang juga menjadi mahasiswa.

1. Awalnya semangatmu menggebu-gebu dan keyakinanmu membara saat memilih melakoni kerja sambil kuliah.

Kamu bersemangat melakoni kerja sambil kuliah via http://www.sagennext.com

Kamu yang telah bekerja merasa bahwa ilmu yang kamu miliki masih kurang dari seharusnya, sehingga kamu pun mulai memilih untuk menimba ilmu lagi di sebuah Universitas yang kamu percaya. Karena kamu sadar kamu bukan dari golongan keluarga diatas rata-rata akhirnya dengan keyakinan penuh kamu memutuskan untuk tetap bekerja di siang hari dan kuliah di malam harinya.

2. Di tengah jalan rasa lelah mulai menggelayutimu, keyakinanmu sedikit demi sedikit mulai luntur.

kamu mulai lelah. via http://sjkconsultants.com

Perjalanan awal sebagai pekerja sekaligus mahasiswa terasa menyenangkan, rasa lelah itu masih belum terasa. Kegiatanmu semakin bertambah, daftar teman pun semakin banyak. Kamu bersyukur bahwa kamu yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja akhirnya bisa menjadi seorang mahasiswa.

Advertisement

Namun, ditengah jalan semuanya tak sesuai dengan prediksimu. Teman-teman seperjuangan banyak yang memilih gugur ditengah jalan karena tidak kuatnya diri menanggung rasa lelah yang berkepanjangan.

Ternyata aktivitas bekerja di pagi hari yang langsung disambut kuliah di malam harinya membuat pikiran dan tubuh semakin ringkih apalagi disertai dengan tugas-tugas kuliah yang menumpuk menjadi satu dengan tugas-tugas di kantor. Kamu pun mulai goyah akankah meneruskan perjuangan atau mengikuti jejak teman seperjuangan.

3. Di tengah rasa frustasi yang berkepanjangan, akhirnya kamu memilih untuk cuti kuliah.

rasa lelahmu mulai menyuruhmu memilih kuliah atau bekerja saja via http://blog.professionaladvantage.co.uk

Kamu yang semakin merasakan kelelahan sedikit demi sedikit mulai melupakan semangat awal yang menggebu-gebu. Di titik ini kamu mulai bertanya pada diri sendiri, apa yang paling kamu inginkan? Hanya saja jawaban yang kamu inginkan belum juga kamu dapatkan.

Kamu frustasi karena jika kamu memilih gugur dari perjuangan ini akan banyak orang yang kecewa terhadapmu termasuk orang tua yang akhir-akhir ini menaruh harapan di pundakmu agar kamu menjadi seorang Sarjana. Akhirnya cuti kuliah adalah solusi aman yang kamu ambil untuk meredakan rasa lelahmu.

4. Setelah perdebatan yang panjang selama cuti, akhirnya kamu memilih untuk terus melanjutkan perjuangan.

kamu memilih untuk terus melanjutkan perjuangan. via http://pasarpendaki.com

Selama meredakan rasa lelah itu kamu mulai bertanya-tanya lagi kepada diri sendiri. Orangtuamu juga mulai mempertanyakan kapan kamu akan kembali menimba ilmu di kampus. Kamu mulai mencari-cari semangatmu yang dulu pernah menggebu-gebu, saat ini kamu sudah mantap dengan pilihan yang akan kamu ambil.

Kamu pun mulai menyalakan keyakinanmu lagi yang beberapa waktu lalu sempat redup. Kamu memilih untuk terus melanjutkan perjuangan. Namun tujuanmu mulai berubah bukan demi gengsi atau demi keegoisanmu untuk mendapatkan ilmu yang lebih. Kamu melanjutkan kuliah demi kebahagiaan orangtuamu.

5. Saat akhirnya kamu melangkah lagi ke Kampus, tak akan ada lagi rasa lelah yang menggelayutimu.

Semangat yang dulu sempat padam mulai menyala lagi. via http://www2.warwick.ac.uk

Kerja di pagi hari lalu dilanjutkan dengan kuliah di malam hari kamu lakoni terus selama lima hari dalam seminggu. Hanya saja rasa lelah yang dulu sempat menggelayutimu kini sudah mulai terasa ringan.

Kamu mungkin memulai lagi dari nol, tapi keyakinanmu tak akan luntur lagi karena kamu tahu orangtuamu akan tersenyum disaat nanti mereka melihatmu memakai toga. Hal terindah mana lagi yang bisa menandingi senyuman orangtua.