Tidak sedikit kasus atau permasalahan yang bersangkutan dengan emosi. Mungkin itu tersinggung, sedih, marah, dendam, dan banyak lagi. Memang pada dasarnya, manusia didesain khusus agar menggunakan perasaan untuk berpikir dan bertindak. Tapi berikut adalah alasan lebih berguna mengapa kamu harus berpikir secara logis ketimbang berperasaan.

 

1. Emosi - Logika = 0, yaudah beres...

Hitman - Agent 47

Hitman - Agent 47 via https://www.imdb.com

Mungkin terkadang kamu pernah merasakan marah atau tersinggung. Mungkin pada saat bekerja, mengobrol bersama teman, atau hanya sekadar nongkrong di tempat-tempat favoritmu. Seringkali, ada saja yang membuat kamu jengkel dengan omongan bos misalnya, sindiran teman atau mungkin bertemu mantan ketika sedang nongkrong di tempat-tempat favoritmu.

Refleksi tubuh adalah emosi. Di sinilah peran logika yang harus dipertimbangkan atau pikirkan ketika emosi memuncak. Pikir lebih dalam lagi dan tanya kepada diri sendiri, "Mengapa bos bisa marah?" dan jawab oleh diri sendiri "Mungkin dia sedang tertekan". "Mengapa teman selalu membuat aku jengkel" dan jawab lagi oleh diri sendiri "Mungkin dia ingin bercanda". Atau "Mengapa aku harus ketemu mantan aku di sini?" Jawablah oleh diri sendiri "Mungkin ini cuma kebetulan".

Seperti ibaratnya 1-1= 0. Emosi dikurangi logika sama dengan "Yasudah masalah beres". Mungkin awalnya, kamu akan merasa tidak adil terhadap diri sendiri, tapi lambat laun akan terbiasa. Bisa melewati sifat emosional dan bisa lebih terfokus menikmati tujuan utamamu.

2. Masih mau mengingat momen itu?

Sherlock Holmes Season 4 - The Final Problem

Sherlock Holmes Season 4 - The Final Problem via http://www.imdb.com

Seringkali, banyak sekali momen-momen yang terekam di otak kamu. Besar kemungkinan karena kejadian yang terlibat dengan emosi sangat mudah terngiang di pikiran. Beruntung jika momen bahagia, bagaimana jika momen yang sangat mengganggu ketenangan? Seperti momen putus dengan pacar, ditolak gebetan, dipecat secara tidak hormat, atau mungkin terngiang pict mantan bareng pacar barunya di Instagram?

Ibarat harddisk pada PC, kehidupanmu harus membutuhkan ruang penyimpanan kosong yang cukup besar, mengingat kamu masih muda. Masih banyak hal yang harus diisi dengan hal-hal positif dan berguna untuk ke depannya. Semisalkan kalau menyimpan arsip berkas atau file yang tidak terpakai, apa yang kamu lakukan? Tentu pasti "delete saja kan?" dari "harddisk" kamu? Begitulah dengan hidupmu. Tidak perlu kamu ingat kembali momen-momen yang hanya mengganggu tujuan hidupmu, istirahat malammu, atau mungkin waktu santaimu.

3. Jangan melamun, ini adalah "gerbang ingatan"

Wolf On The Wall Street

Wolf On The Wall Street via http://www.imdb.com

Melamun adalah kondisi sesaat terputusnya pikiran seseorang dengan lingkungan sekitarnya, di mana kontak seseorang menjadi kabur dan sebagian digantikan oleh khayalan visual, khususnya tentang hal-hal yang menyenangkan, harapan atau ambisi, dan dialami dalam kondisi terjaga (Sumber : Wikipedia.org)

Sudah jelas inilah "gerbang mengingat kembali" ini dan itu. Walaupun melamun tidak selalu momen tentang kamu yang telah terjadi, namun sebagian besar kamu pasti melamun tentang "file-file" yang ada di otakmu. Cukuplah kalimat "melamun itu" kamu hapus dari kamus hidupmu dan ganti dengan kegiatan yang lebih berguna mengisi harimu.

4. Lihatlah sisi baiknya

Semua hal pasti ada sisi baik dan buruknya. Inilah sisi adilnya Sang Pencipta. Semua hal pasti memiliki sisi baik buruknya. Mungkin kamu terjatuh agar kamu harus lebih hati-hati, mungkin kamu putus karena dia bukan yang terbaik bagimu, mungkin kamu dipecat karena akan ada perusahaan besar menantimu, mungkin kamu merantau agar pengalamanmu bisa lebih dibanding teman-temanmu. Inilah sisi positif yang harus kamu sadari atas apa yang terjadi padamu. Jika kamu sudah selalu melihat sisi positifnya, selangkah lagi pikiranmu akan selalu jauh dari sifat emosional.

5. Berpikir selalu logis bukan berarti kamu tidak memiliki perasaan

Jelas selalu berpikir logis malah membuat sisi emosi kita terlupakan. Latihlah juga sisi emosi kita seperti berbagi dengan teman atau orang lain, atau mungkin rekreasi dengan keluarga atau sahabat, dan memberi hal romantis dengan pasangan. Hal-hal ini juga berperan penting agar kamu bisa menyeimbangkan kapan harus berpikir logis dan kapan harus bertindak dengan emosi.