Untuk kamu yang punya kebiasaan berbicara lugas, tanpa basa-basi, pasti sering mengalami kebiasaan seperti di bawah ini.

Maksud hatimu baik, ingin menyampaikan pendapatmu apa adanya, tanpa berbelit-belit. Tapi tidak demikian dengan opini orang, mereka justru kadang "melabeli" mu dengan label negatif.

 

 

1. Di mata orang, kamu cenderung dinilai galak. Padahal, memang gaya bicaramu saja yang tak pernah pakai basa-basi.

dapat label

dapat label "si-galak" sudah biasa untukmu via http://google.com

Teman : "Eh, kamu hebat banget! Rangkuman bisa segitu pendeknya. Gimana caranya."

Kamu : "Liat aja tuh..."

Temanmu lantas terdiam. Sebulan dua bulan ia tak menegurmu, hingga akhirnya kalian mengobrol dan sekarang ia menjadi sahabat karibmu.

Teman : "Aaaahhhh, dulu gue kira lo galak! Abis kalo ditanya jawabannya singkat-singkat begitu! Taunya anaknya asik!" katanya sambil memeluk-melukmu.

Kami? Udah bosan dikira galak, jutek, dan judes. Yaiyalah, ngejawab pertanyaan kan gak perlu berputar-putar. Kami menjawab dengan singkat, padat, dan cukup jelas kok. (Begitu pembelaan hati mereka yang tak bisa berbasa-basi).

 

2. Sering dikira sombong. Padahal, karena tak pandai berbasa-basi, kamu jadi enggan memulai percakapan duluan. Apalagi dengan orang yang tak akrab denganmu.

kadang dikira pendiam, kadang dikira sombong

kadang dikira pendiam, kadang dikira sombong via http://google.com

Sering berpapasan dengan mereka yang kamu kenal namun tak dekat? Lalu apa yang kamu lakukan? Diam? Pastinya! Bukan karena sombong atau pendiam. Kami memang tak pandai merangkai kata untuk berbasa-basi, makanya enggan.

Kami tak hanya tinggal diam kok. Kadang untuk menyiasati agar tak dibilang sombong, kami tersenyum dengan orang yang berpapasan dengan kami. Dan tak jarang, orang melengos tak sadar kami senyum ke arah mereka.

Suara sapaan basa-basi seringkali lebih dianggap ada daripada sekedar senyuman! (Sakit hati kami, hehehehe...)

3. Orang jadi agak berhati-hati kalau berbicara denganmu. Kalau salah kata, aissssshhhh...jawabanmu selalu dianggap menyakitkan hati.

lawan bicaramu kadang mikir seribu kali sebelum melanjutkan bicara denganmu

lawan bicaramu kadang mikir seribu kali sebelum melanjutkan bicara denganmu via http://google.com

Kamu : "Kamu bolos kuliah berapa kali?"

Adik : "Waktu itu pas awal MOS, terus diakhir MOS, sama pas awal kuliah tuh karna gak tau kelasnya dimana..."

Kamu : "Saya kan tanya berapa kali? Berarti ditotal berapa kali? Kamu kok kasih jawaban tapi bukan jawaban?"

Adik : "Emmm..satu...dua... eh apa tiga ya?" (sambil melirikmu, takut salah jawab lagi)

Yah begitu, kadang lawan bicaramu jadi harus berpikir dulu sebelum berbicara denganmu. Kalau salah kata, habis "dikorek" olehmu. Kadang orang juga kapok mendengar jawabanmu.

 

 

4. Kadang orang terdekatmu bercanda, menyuruhmu mempelajari ilmu jiwa.

hanya mereka yang dekat denganmu, yang tau apa maksudmu

hanya mereka yang dekat denganmu, yang tau apa maksudmu via http://google.com

"Kayanya kamu butuh belajar ilmu jiwa deh..." kata salah satu sahabat karibmu.

Kadang mereka melontarkan kata-kata itu sambil bercanda. Demi kebaikanmu juga. Mereka yang memang dekat denganmu, paham bahwa di balik kata-kata lugasmu yang kadang (dianggap) menyakiti orang, kamu tidak bermaksud sekejam itu. Kamu punya maksud baik di balik bahasamu. Hanya memang kamu tak pandai mecari bahasa lain yang lebih halus (dan mungkin dengan basa-basi).

5. Tapi jangan salah loh, punya kebiasaan berbicara lugas juga membawa banyak keuntungan!

ada banya keuntungannya juga loh!

ada banya keuntungannya juga loh! via http://google.com

Punya karakter kaya begini, bukan berarti tak ada keuntungannya. Justru bicara lugas, tak pernah basa-basi, membuat orang terkadang segan padamu.

Nih, kita cek yuk keuntungannya!

6. Gak ada tuh yang namanya sales-sales, bisa memburumu dengan ribuan pertanyaan dan rayuan.

mereka pandai merayu, kamu pandai menjawab

mereka pandai merayu, kamu pandai menjawab via http://google.com

Gak ada tuh yang namanya sales berhasil membujuk rayumu dengan ribuan kata-kata. (Kecuali memang, produknya bagus, baru hatimu luluh).

Gaya bicaramu yang lugas kadang membuat sales takut merayu. Apalagi jika kamu menjawab sambil menyipitkan mata, dan mengerucutkan bibir.

Yah, konsumen judes! Begitu pasti pikir para sales. Bebas kabur dari intaian mereka deh kamu!

7. Mereka yang punya salah denganmu juga pasti kesusahan untuk berkelit.

bicara denganmu kadang seperti membuka kesalahan sendiri

bicara denganmu kadang seperti membuka kesalahan sendiri via http://google.com

Kamu yang punya kebiasaan tak suka berbasa-basi kadang jadi lawan bicara yang dhindari oleh mereka yang punya salah padamu. Kalau lawan bicara berkelit, kamu tak berhenti mengorek.

Kalau ditanya A, ya harus jawab A. Ditanya B, ya harus jawab B. Harus sesuai topik yang ditanya. Gak bisa berkelit, apalagi berputar-putar untuk mengalihkan perhatian dan topik pembicaraan.

8. Kadang, kalau bahasamu yang lugas dapat pandangan negatif dari orang, lantas kamu sering berpikir: "Padahal kan maksud aku baiikkkkkkk....."

padahalkan maksudku baik!

padahalkan maksudku baik! via http://google.com

Padahal kan maksudku baik!

Pikiran itu yang sering muncul dalam benakmu kalau orang sudah tersinggung dengan gaya bicaramu. Kadang kamu dipikir jutek, judes, galak. Kadang dipikir gaya bicara mu nyakitin.

Terus, kamu merenung lagi: "padahal kan maksudku baik!"

9. Udah jangan sedih, mereka yang dekat denganmu tau kok karakter baikmu. Gaya bicaramu boleh lugas dan menusuk hati, tapi perilakunya tetap malaikan kan?

yang penting mereka yang di dekatmu tahu kalau kamu itu baik

yang penting mereka yang di dekatmu tahu kalau kamu itu baik via http://google.com

Udah deh jangan sedih! Yang penting kan mereka yang di dekatmu lebih tahu kamu itu seperti apa. Yang penting kan mereka tahu kalau kamu itu berhati malaikat.

Yah, memang karakternya seperti itu. Disyukuri saja. Kalau ada yang tersinggung, tak ada salahnya untuk konfirmasi, toh memang niatnya bukan untuk menyakiti.

Gak boleh sedih jadi orang lugas! Tetap tersenyum ya :)