“Kapan mau nikahin aku, Mas?”

Sebuah kalimat yang cukup mengerikan bagi kaum lelaki. Girls, kebanyakan lelaki mengaku tidak begitu nyaman bila mendengar kalimat itu terucap dari mulut pasangannya. Bukan karena lelaki tidak ingin mengarungi bahtera rumah tangga denganmu, tetapi banyak alasan di balik ketakutan mereka mendengar kalimat "Kapan mau nikahin aku, Mas?", mengingat umurmu telah memasuki masa 'saatnya menikah'.

Menikah bukanlah perkara membalikkan telapak tangan. Menikah itu persoalan dua pihak yang sejalan.

Girls, bagi para lelaki, melangsungkan pernikahan itu tidak semudah mengucapkannya. Menikah bukanlah perkara membalikkan telapak tangan. Menikah itu persoalan dua pihak yang sejalan. Kaum lelaki jelas mengerti hal ini. Hanya dengan modal cinta dan niat, para lelaki tidak akan langsung mengangguk untuk ajakan menikah. Beberapa alasan berikut akan menjelaskan bagaimana kalian para perempuan untuk menyikapi ketakutan pasangan kalian.

 

1. Kehilangan Kebebasan Karena Komitmen Pernikahan

Masih ingin bebas menikmati hidup

Masih ingin bebas menikmati hidup via http://www.perfectogift.com

Umm…tunggu saja, tiga atau empat tahun lagi, ya!

Girls, tidak semua lelaki takut untuk berkomitmen, kok. Hanya sebagian mereka yang takut akan kehilangan kebebasan mereka ketika sudah berkomitmen. Sebenarnya mereka hanya belum terbiasa dengan komitmen, apalagi dalam berumah tangga. Ini hanya masalah waktu. Ajaklah mereka berkomitmen secara perlahan dalam berbagai hal yang kelak akan kalian temui pada hubungan rumah tangga, misalnya menabung. Satu yang perlu kalian lakukan adalah bersabar. Tapi ingat, jangan buang-buang kesabaranmu untuk lelaki yang phobia dengan komitmen, ya!

2. Belum Siap Mental dan Finansial untuk Menikahimu

Dia mau menikahimu, tapi belum saatnya

Dia mau menikahimu, tapi belum saatnya via http://www.dieplease.net

Aku belum cukup mental dan finansial untuk segera melamarmu, Sayang.

Cobalah memahami pasanganmu dengan memeriksa kesiapan mental dan finansial mereka, Girls. Kesiapan mental bisa dilatih, sementara kesiapan finansial bisa dicari. Kalian tentu berpikir hal ini, bukan? Namun para lelaki tidak bisa secara instan menerima pendapat ini. Mereka memandang serius untuk masalah ini. Bagi mereka, pernikahan bukan hanya masalah komitmen.

Kesiapan mental dan finansial memang bisa dilatih dan dicari. Tapi ketika kedua hal ini belum cukup matang, para lelaki akan menunda waktu untuk meminang kita, Girls. Masalah mental, kita bisa melatihnya dalam keseharian kalian berdua. Untuk masalah finansial, kalian bisa mulai menabung jauh sebelum kalian merencanakan sebuah pernikahan. Bukankah usaha yang dibina berdua akan membuahkan hasil yang memuaskan, terlebih dengan dia yang kelak akan menjadi pendamping hidup kita?

3. Terlalu Ambisius dengan Materi

Masih ingin menabung demi masa depan

Masih ingin menabung demi masa depan via http://www.masala.com

Aku bekerja juga untuk kamu, Sayang!

Memang, kebanyakan lelaki bekerja juga demi pasangannya, selain demi orang tuanya. Kepada siapa lagi mereka berkorban, selain untuk orang yang mereka cintai?

Menabung memang penting untuk kehidupan mendatang, tapi semua yang berlebihan tentu tidak dibenarkan oleh kepercayaan manapun, bukan? Kalau memang dia bermaksud untuk menabung demi ketentraman kehidupan pernikahan kalian di masa mendatang, tentu tidak salah. Tapi ingat, mau sampai kapan dia menabung? Mulailah dengan mencoba bertanya padanya soal masa depan, soal rencana dia satu atau dua tahun ke depan; apa yang ingin dia lakukan terhadap semua materi yang dia punya dengan hubungan kalian. Bagi kalian yang sudah tergolong dalam kategori “siap menikah”, tidak ada jalan lain selain meninggalkan lelaki seperti ini yang terlalu ambisius dengan materi!

4. Trauma dengan Masa Lalu Keluarga

Trauma dengan masa lalu keluarganya

Trauma dengan masa lalu keluarganya via http://www.healthcomu.com

Untuk apa sebuah pernikahan, bila perceraian ditawarkan?

Trauma selalu ditandai dengan kegelisahan batin yang tidak menentu. Trauma biasanya diperoleh seseorang dari masa lalunya yang kelam nan buruk. Menurut ahli Psiklogi, Franz Ruppert, trauma yang seperti ini biasanya berasal dari trauma yang dialami orang tua, lebih tepatnya Ibu. Menghilangkan trauma akan pernikahan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Trauma yang didapat dari keluarga tentu merupakan masalah besar. Jika lelakimu mengaku bahwa dia tidak siap menikahimu dengan alasan ini, kamu perlu memahaminya

Ajaklah dia berkhayal mengenai hal-hal indah yang akan didapat dari sebuah pernikahan. Misalnya, menimang anak-anak yang lucu dan menggemaskan, mendapat pelukan dan kecupan sebelum dan sepulang kerja, tamasya bersama istri dan anak-anak, serta hal-hal lain yang bisa meningkatkan kepercayaan dirinya.

Cara lain yang bisa kamu lakukan adalah mengajaknya jalan-jalan. Refreshing akan membuatnya sedikit tenang. Namun, refreshing tidak memberikan dampak jangka panjang. Usahakanlah tetap membuatnya sibuk dengan berbagai kegiatan, agar dia tidak memikirkan masa lalunya yang membuatnya trauma.

Girls, menghilangkan trauma memang tidak mudah dan singkat. Butuh proses yang cukup intens dan lama. So, kamu harus tetap menghitung waktu, ya, jangan sampai kamu ditelan kesibukanmu membuat dia 'pulih' dan lupa atas ibadah menikahmu! 

5. Dia Tidak Menginginkanmu Sebagai Pendamping Hidupnya Kelak

Dia benar-benar ingin mencari yang terbaik

Dia benar-benar ingin mencari yang terbaik via http://www.dannyst.com

Aku mencintaimu, tapi...

Nah, ini yang harus kalian cari tahu lebih dalam sebelum keinginan dan keyakinan untuk menikah bersamanya bulat dan matang. Pastikan dulu, Girls, apakah dia menginginkan hal yang sama denganmu. Tidak menutup kemungkinan jika hanya kamu yang ingin menikah dengannya, tapi tidak dengan pasanganmu.

Jadi, kenalilah dirinya, pahami apa yang dia inginkan darimu, dan cari tahu seperti apa wanita yang diinginkan untuk menjadi pendamping hidupnya kelak. Kalau memang bukan kamu orangnya, tinggalkanlah dia segera. Masih banyak lelaki lain yang cinta dan siap menjadi pendamping hidupmu!

 

Meski begitu, jangan takut untuk menikah, ya! Kapan pun waktunya, menikah akan tetap menjadi bagian dari ibadah. Bersikaplah dewasa untuk menjadi seorang Ibu dalam keluarga yang bahagia!