Akhir-akhir ini, mendaki gunung menjadi kegiatan yang digandrungi oleh sebagian anak muda, mereka berbondong-bondong merayakan tahun baru, menghabiskan liburan panjang dan merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia di puncak gunung-gunung tertinggi.

Manyaksikan matahari terbit dan terbenam, menikmati turunnya kabut lembut di lembah-lembah gunung dan sekedar menghela nafas di atas samudra awan menjadi alasan kenapa mendaki gunung adalah kegiatan favorit.

Sayangnya, banyak di antara anak muda yang mendaki tanpa tahu apapun, termasuk kode etik pencinta alam, sehingga mereka dengan seenak udel melakukan pendakian, mencoreti pepohonan dan bebatuan, membawa bunga Edelweis pulang atau menjadikan gunung sebagai tempat pembuangan sampah.

Padahal, mendaki gunung adalah olahraga yang berbahaya, kegiatan ekstrim yang mempertaruhkan nyawa. Namun mereka selalu saja mengabaikan semua resiko itu, demi mendapatkan foto-foto kece di puncak gunung, mereka mendaki gunung tanpa pengetahuan survival skill, persiapan yang matang, mendaki asal-asalan dan seringkali bertindak sembrono.

Contoh, meninggalnya saudari Shizuko Rizmadhani di gunung Gede dan saudara Endang Hidayat di gunung Semeru adalah bukti konkret bahwa mendaki gunung adalah olahraga ekstrim yang mempertaruhkan nyawa.

Maksud tulisan yang sederhana ini adalah mengingatkan kembali kepada para penggiat alam bebas, khususnya untuk para pendaki gunung bahwa mendaki gunung bukanlah main di mall yang hanya menggandeng tas belanjaan dan mudah sekali pulang ke rumah dengan keadaan selamat.

Berikut adalah 6 sebab kenapa banyak pendaki yang menjadi korban keganasan alam liar.

1. Sok Jagoan.

Jangan Sok Jago Ya. via http://google.com

Perasaan sok jago ini sudah sering sekali memakan korban, tidak hanya para pendaki, namun alam pun harus mengemban akibat karena sikap sok jagoan para si pendaki korban si Japran dan kawan-kawan.

Dengan merasa diri sudah sangat hebat dalam mendaki, banyak pendaki pemula yang nekad membuka jalur baru hanya untuk mendapatkan pujian dari pendaki-pendaki lain.

Parahnya, mereka melakukan kesalahan ini tanpa kemampuan navigasi sedikit pun, jangankan membawa GPS dan peta topografi, sekedar membawa kompas pun tidak, lalu, apa yang mau diandalkan?. kesotoyan?.

Advertisement

Sehingga petualangan sembrono mereka pun berakhir dengan tersesat, kelelahan di tengah hutan, digotong tim SAR atau meninggal kedinginan di atas gunung.

Padahal, membuka jalur baru adalah perbuatan yang merusak konservasi, mengganggu kehidupan alam liar dan merusak ekosistem alam. Pada dasarnya, para pendaki berpengalaman sesungguhnya tidak akan membuka jalur baru kecuali untuk kepentingan penelitian dan ilmu pengetahuan.

2. Buruknya Manajemen Logistik.

Perhatikan Persiapan Logistik via http://google.com

Biasanya para pendaki pemula mengira bahwa makanan paling tepat untuk mendaki adalah mie instan, kenapa?. Karena mudahnya membuat mie instan dan rasanya yang enak, banyak sekali variasi rasa yang disediakan oleh pabrikan mie instan.

Padahal, hal ini salah besar. Bayangkan, apabila seseorang membutuhkan kalori 2.000 kkal dalam aktifitas biasa. Maka dalam sebuah pendakian, seseorang itu membutuhkan kalori 2 kali lipat, yakni, 4.000 kkal. Mie instan yang sulit dicerna dan menyerap cairan tubuh mana mungkin akan memberikan asupan kalori sebanyak itu.

Alhasil para pendaki itu akan merasa kelelahan, tidak konsentrasi, lemas dan lapar yang bisa berakibat pada kecelakaan bahkan kematian dalam sebuah pendakian.

Sejatinya, kalori sebanyak itu akan didapat dari makanan yang mengandung banyak kalori, seperti daging-dagingan berlemak, coklat, madu atau oatmeal. Karena untuk membahas makanan ini butuh tulisan panjang, maka saya merekomendasikan kamu untuk membaca Stop Mie Instan, Inilah 9 Makanan Praktis Dan Sehat Yang Akan Menjaga Staminamu Saat Mendaki Gunung.

3. Buruknya Pengepakan Barang.

Pengepakan Barang Termasuk Hal Penting via http://google.com

Mengepak barang di dalam carrier adalah keahlian yang wajib dimiliki oleh para pendaki gunung. Karena medan yang sulit, maka semua barang harus berada di dalam carrier kecuali sebotol kecil air minum. Tangan harus bebas bergerak untuk memegang trackpole atau menggenggam akar jika diperlukan.

Oleh karena banyaknya pendaki pemula yang memasabodohkan kemampuan pengepakan barang bawaan, maka lihatlah para pendaki ini. Panci digantung di luar carrier, tangan menenteng sleeping bag, botol besar minuman membuat sibuk kedua tangan, carrier mereka tidak dilapisi cover bag, baju dan sleeping bag di dalam carrier tidak dilapisi dengan plastik.

Apabila turun hujan, habislah mereka, semua pakaian dan sleeping bag di dalam carrier akan basah semua. Padahal, menjaga pakaian ganti dan sleeping bag untuk tetap kering adalah hal yang sangat penting. Tidur dalam keadaan basah bisa mengakibatkan hipotermia. Hipotermia adalah momok paling ganas untuk para pendaki, momok yang paling sering memakan korban.

Jangan pernah mengabaikan pengetahuan tentang pengepakan barang, karena hal ini sangat berpengaruh pada keselamatanmu di dalam pendakian.

4. Pergi Dalam Rombongan Besar.

Jadinya Gunung Kaya Pasarkan via http://google.com

Banyak sekali orang-orang yang beranggapan bahwa dalam sebuah pendakian, lebih banyak orang maka akan lebih aman, orang tua pun lebih mudah memberikan izin.

Anggapan ini salah besar, kenapa?. Rombongan besar justru lebih banyak mengandung resiko, merepotkan sekali dan semakin sulit mengatur manajemen logistik.

Kita ambil saja contoh dari kasus meninggalnya saudari Shizuko Rizmadhani di gunung Gede. Dia pergi mendaki bersama teman-teman pecinta alam di sekolahnya, jumlahnya ada 27 orang, jumlah yang sangat banyak untuk melakukan pendakian.

Coba bayangkan, berapa jumlah kompor lapangan yang dibutuhkan untuk memasak makanan yang diperuntukan 27 orang?, berapa banyak perlengkapan p3k untuk 27 orang?, siapa yang menjadi ketua?, adakah orang yang cukup berwibawa yang benar-benar bisa mengatur 27 orang?. Kemudian kemana 26 orang lain saat Shizuko Rizmadhani mengalami hipotermia?.

Masalah yang sering muncul saat kita pergi mendaki dalam jumlah orang yang banyak adalah sering munculnya konflik internal, keinginan anggota yang beraneka ragam dan sikap intoleransi adalah salah satu pemicu kenapa mendaki dalam rombongan besar lebih membahayakan.

Pendakian yang ideal itu beranggotakan 4 sampai 6 orang. Memilih salah satu untuk dijadikan ketua, bukan karena dia yang paling tua, namun karena dia memiliki jiwa pemimpin, berwibawa dan bisa diandalkan.

5. Menganggap Hipotermia Adalah Kerasukan Setan.

Hipotermia via http://google.com

Semangat dan nekad bukanlah bekal yang baik untuk melakukan sebuah pendakian, jangan percaya kepada para senior yang mengatakan bahwa mendaki hanya butuh kobaran api semangat dan berbekal nekad. Mungkin saja keduanya bisa mengantarkanmu mencapai puncak gunung, namun belum tentu bisa membawamu pulang ke rumah dengan selamat.

Banyak sekali pendaki baru yang pergi mendaki hanya dengan berbekal semangat dan nekad, tanpa tahu pengetahuan tentang hipotermia, sehingga banyak terjadi kasus para pendaki yang salah kaprah pada korban hipotermia.

Pada umumnya, korban hipotermia akan mengalami halusinasi dan kehilangan kesadaran, sehingga korban akan berbicara ngelantur. Sebagaimana orang yang kerasukan, korban sulit sekali berkomunikasi dengan baik.

Maka pendaki yang tidak tahu-menahu soal hipotermia akan mengira bahwa temannya kerasukan setan dan membacakan do'a-do'a untuk mengusir setan yang dikira masuk dalam tubuh korban hipotermia. Sehingga korban hipotermia semakin parah karena tidak langsung mendapatkan pertolongan, dia kehilangan suhu panas pada tubuhnya dan meninggal dunia. Mungkin hal ini pula yang terjadi pada Shizuko Rizmadhani.

Seharusnya, segera lakukan pertolongan kepada korban dengan cara seperti ini.

6. Akulah Si Cepat.

Akulah Si Cepat. via http://google.com

Pendaki pemula, apalagi kalau masih muda, identik dengan gerak cepat, tergesa-gesa menuju puncak, mendaki dijadikan lomba, siapa tercepat dialah paling hebat dan malu apabila berada paling belakang karena takut dianggap paling lemah.

Jarak tempuh menuju puncak menjadi lebih sebentar. namun, masalah baru muncul saat menuruni puncak, ada yang kehabisan tenaga, cedera engkel, kecelakaan karena kelelahan, hingga kehilangan arah, alias tersesat.

Pendakian yang bagus itu ada yang bertugas menjadi sweeper dalam sebuah rombongan, tugas sweeper adalah menyapu rombongan, memastikan bahwa anggotanya tidak ada yang keteteran dan ketinggalan, biasanya yang bertugas menjadi sweeper adalah orang paling kuat dan bisa diandalkan.

Namun dalam rombongan pendaki pemula tidak ada yang mau menyandang tugas ini, itu tadi, takut berada paling belakang, merasa hina apabila mengemban tugas sweeper dan berada paling belakang. Karena akulah si cepat, paling cepat menuju puncak sehingga aku tidak sadar meninggalkan temanku yang kelelahan dan meninggal di gunung.

Salam Lestari.