1. Mungkin aku seperti daun kering yang gugur dari rimbunnya daun di ranting pohonmu

Aku hanya bagai daun kering 🙁 via https://www.pexels.com

Kamu tahu daun-daun yang berguguran itu? Barangkali aku ingin mengibaratkan diri sendiri seperti itu. Kala hati dipaksa untuk menjauh dan melepaskan apa yang benar-benar ingin ku perjuangkan. Aku yang terjatuh dan terluka, tapi kamu sang ranting takkan pernah merasa terluka sepertiku. Wajar saja, karena aku hanya salah satu dari daun yang tumbuh di rantingmu.

2. Awalnya segala suasana selalu ku dramatisir, aku mengutuknya karena membalas segala perasaan tulus ini dengan dusta Belaka

Air susu dibalas dengan dusta via https://www.pexels.com

Ibarat pepatah, air susu dibalas dengan tuba. Begitulah aku menggambarkan hubungan di antara aku dan dia. Ketika mati-matian aku berjuang untuk mempertahankan, dia yang ku perjuangkan seolah enggan untuk diajak bertahan. Berat, hari-hariku patah begitu saja. Apalagi saat alasan yang sebenarnya terkuak, ketika aku ditinggalkan hanya karena pilihannya bersama sosok yang baru.

Aku butuh waktu untuk melupakanmu, sementara kamu butuh dia untuk melupakanku. Sial!

3. Sebuah usaha untuk melupakan, tolong ajari aku untuk merelakan tanpa menyisakan kebencian

Advertisement

Melupakan tanpa penyesalan dan kebencian via https://www.pexels.com

Kamu tahu, bagaimana caraku untuk memaksa mengeluarkanmu dari ingatanku? Aku mengingat segala peringai burukmu. Tak kubiarkan satupun kenangan baik menyusup di hari sepiku. Aku mengingatmu sebagai sosok pecundang lagi pengecut. Ya, seperti itulah pertama kali saat aku harus dipaksa untuk melupakanmu.

Sebelum akhirnya perlahan aku menyadari semua kekeliruanku. Waktu semakin mendewasakanku, perlahan aku mampu mengusir bayang-bayangmu tanpa harus mengingat keburukanmu. Perlahan aku sadar, betapa nurani tak bisa ku bodohi begitu saja. Hingga akhirnya aku memilih untuk menyibukkan diri semata-mata agar aku tak sempat merasakan hilangmu, semata-mata agar aku tak sempat memikirkanmu, baik atau burukmu. Hingga akhirnya aku bisa melupakanmu tanpa menyisakan sebuah kebencian.

4. Karena aku sadar, semakin aku larut dalam kesedihan, aku tampak seperti sosok yang menyedihkan

Segala yang berlarut itu tidak baik via http://www.pexels.com

Karena aku tak ingin menjadi pengemis cinta.

Bodoh jika aku masih berharap kamu kembali padaku. Bodoh jika aku masih ingin mengulang cinta dengan sosok yang pernah meninggalkanku di masa lalu. Aku hanya ingin bersikap sedikit realistis, menyadarkan bahwa dunia ini bukan hanya ada kamu. Masih ada sejuta makhluk lainnya yang akan memberikanku warna baru dan menyayangiku dengan lebih baik. Dan aku percaya akan hal itu.

5. Hingga akhirnya perkara melupakanmu memang sebuah keharusan

Sebuah usaha melupakan via https://www.pexels.com

Sampai pada tahap ini aku hanya ingin menegaskan, melupakanmu bukan sebuah pilihan. Melainkan sebuah keharusan yang harus ku lalui. Biar saja jika aku pernah sedih dan bodoh di masa lalu, yang penting kini aku sudah cukup pintar untuk melupakanmu.

6. Ijinkan dia melihat segala pencapaianku Tuhan, agar dia tahu aku bukan wanita yang pantas untuk disia-siakan

Aku bahagia! via http://www.pexels.com

Aku tak percaya karma, tapi aku percaya dengan janji Tuhan. Bahwa segala kebaikan akan dibalas kebaikan, pun sebaliknya.

Jika bukan hari ini aku sukses, aku hanya akan terus berlatih hingga semua impianku tercapai. Saat itu semua terjadi, aku hanya ingin meminta kepada Tuhan, agar Ia mengijinkanmu untuk melihat semua pencapaianku. Agar kamu tahu bahwa gadis ini bukan sosok yang pantas untuk kamu sia-siakan. Bahwa hidup gadis ini jauh lebih baik tanpa dirimu. Terima kasih untukmu, yang telah membuatku jatuh mencinta dan belajar sepenuhnya merelakan.