Ketika dunia berhenti untuk mempercayai, bukankah masih ada pengharapan bagaimana tangan Tuhanlah yang berkehendak? Bukankah di sini akan ada pembuktian, sejauh mana kita mempercayai Sang Pencipta, tak perlu menyalahkan orang lain untuk sebuah pembenaran, tak perlu pula melakukan pembodohan diri dengan ketakutan yang belum tentu menakutkan.

Boleh saja orang lain membuatmu marah dan terluka, tapi apabila itu tanpa seizinmu wahai hati dan logika, mereka takkan mampu melakukannya. Ingat sekali lagi, bukan mereka yang membuatmu hancur, jikalau kau hancur itu karena kaulah yang mengizinkannya untuk hancur.

Apa yang kau takutkan wahai hati dan logika? Bukankah masa lalu sudah berakhir dan masa depan belum tentu pula kau temui?

Hei itu hanya bayangan hitam dan kau tak mampu meninggalkannya ataupun berdiri sejajar di hadapannya, yang bisa kau lakukan hanya membiarkan dia sebagai bayanganmu dan menerima dengan semua pengharapan yang lebih baik, semua hanya soal waktu bukan??

1. Aku Sempat Berfikir Kaulah Pria Terbaik

Begitu angkuh aku di hadapanmu, bahwa hati ini tak akan pernah bisa kau rapuhkan dengan cinta, bahkan aku berkali-kali terbukti mampu membuat sebuah tembok pelindung. Tapi ternyata aku hanya manusia biasa sayang, aku tak setangguh itu. Aku terpesona dengan sosokmu yang begitu berkarakter yang terlihat berbeda dari pria lain, kau bahkan dengan mudahnya membuatku berdecak kagum dengan berbagai kelebihanmu. Aku kalah telak, prinsip hidup yang selama ini kubangun bahkan kulupakan begitu saja. Nasihat dari siapapun dengan mudahnya kuabaikan, aku pikir dunia ini hanya tentang dirimu. Bahkan kau tahu, aku rela berbohong agar kau tetap baik di mata keluargaku, tapi sayangnya selama itu aku tak paham kalau kau ini sedang mempermainkan hatiku.

2. Aku Rapuh Serapuhnya

Dari awal seharusnya aku paham, semua akan berubah termasuk sifatmu. Aku mulai melakukan sesuatu yang tak masuk di akal, aku berkali kali memaklumi kesalahanmu dan menganggap semua itu wajar. Bahkan sebenarnya saat itu logikaku tahu, hati ini sedang sakit, sedang rapuh, tapi kenapa tak berhenti saja? Iya, saat itu aku takut kehilanganmu, aku lakukan apapun yang kau ingini, tak masalah jika kau tak lagi memperhatikanku asal hubungan kita tak pernah ada kata "putus".

Advertisement

Bahkan kau tak pernah tahu kan, berapa kali kau buat aku meneteskan air mata karena sikapmu? Kau tak pernah sadar, sayang, karena kau tak pernah ada untukku. Mati-matian aku memperjuangkan hubungan kita, tapi bagaimana dengan dirimu? Bahkan sampai titik di mana rapuhnya aku, kau masih saja tak peduli.

3. Hatiku Mulai Paham Kapan Waktunya Pergi

Semakin lama komitmen ini kujalani, semakin dalam rasaku padamu, semakin rusaklah hatiku ini bak komponen yang hangus terbakar saat tenaga dan pikiranku sudah terkuras untukmu. Aku benar-benar tak memiliki daya, bahkan hanya untuk mengangkat diri sendiri.

Tapi sayang, kau tahu kan sebelum aku mengenal kau, wanita seperti apa aku ini? Kau tentunya sudah paham kan, aku bukanlah wanita yang mudah kau hancurkan begitu saja. Aku bukan wanita yang bisa kau bentuk semau otakmu. Meskipun aku tak memiliki daya, aku masih memiliki logika, sayang. Meskipun hatiku sudah rusak olehmu tapi logikaku ini masih normal, sayang. Aku masih mampu menata hatiku hingga akhirnya keputusanku tepat untuk pergi meninggalkanmu.

4. Ternyata Semudah Ini Melupakanmu

Kau paham kan sekarang, setiap manusia memiliki titik jenuhnya. Kau tahu juga kan setenang tenangnya air, jika ombaknya sudah menghantam, kau akan tamat juga. Aku tak akan membencimu, tidak, buat apa? Toh ini justru pelajaran berharga untukku, apapun yang terjadi kau sedang menguntungkanku, sayang. Meskipun dengan cara menghantamku berkali kali hingga pada akhirnya akulah yang tangguh.

Kau membuatku sadar bagaimana cara menghargai diriku sendiri, yang dulu pernah kau perlakukan semena mena. Kau membuatku mampu mengambil sikap meskipun harus ada harga yang dibayarkan. Kau pula yang mengajariku untuk tidak menggantungkan kebahagiaan di tangan orang lain.

Aku tak menyangka ternyata mudah saja melupakanmu, tak seperti bayanganku sebelumnya.Mungkin benar kata orang tua kita dahulu, sesungguhnya ketakutan terbesar kita adalah imajinasi/pemikiran kita sendiri. Kini kehidupanku kembali normal dan berkat kau juga, aku menemukan seseorang yang benar-benar menyayangiku yang tak pernah kusadari keberadaannya, semenjak bersama dirimu.

Sayang, tahukah kau, pria ini ternyata sudah sejak lama menyayangiku. Aku bahkan mengabaikannya dan lebih memilih dengan orang sepertimu. Mungkin ini kesalahan fatalku, tapi Allah selalu berbaik hati pada hamba-Nya. Aku dibiarkan masuk di kehidupanmu agar aku tahu bagaimana caranya menghargai seseorang yang menyayangi kita. Mungkin kalau saja aku tak pernah bertemu dirimu, aku tak akan pernah tau caranya menghargai pria yang begitu mencintaiku ini. Mungkin saja aku masih sama angkuhnya seperti dulu.

Aku yakin janji Allah selalu pasti, tanpa ada tawar menawar.

5. Impianku Semakin Nyata

Menjemput impian via http://caramendapatkancinta.com

Kini aku sudah mulai bisa berdamai dengan masa laluku, sayang. Mimpi-mimpiku yang sempat terporak-porandakan hanya karena masalah hati kini bisa kutata ulang. Karierku semakin cemerlang, seseorang yang benar-benar baik yang dulu sempat kusia-siakan kini masih tetap bersamaku.

Kau tetaplah sakit yang harus kupeluk dan kubiarkan waktu menjadi pengobatnya. Toh Tuhan tak pernah tidur dan tak akan membiarkan hamba-Nya menerima sikap yang tak adil terlalu lama, bukan?

Lalu jika kau pikir saat ini aku sedang terpuruk olehmu, kau salah besar karena ternyata kau tak sehebat itu meremukkan hatiku, sayang.