Kita tak saling mengenal dalam waktu yang singkat. Kita juga bukan pasangan dengan usaha mengerti satu sama lain dari hari kemarin. Kita juga bukan aku dan kamu, yang hanya mengenal siapa nama dan kapan kita dilahirkan. Kini seolah kamu tak mengenal itu semua. Kamu pergi dengan kata maaf yang membuatku hancur, bagai keramik yang jatuh dari atas meja.

Selama dan sejauh ini kita berjalan bersama dan menempa hati untuk jadi pribadi yang saling menguatkan. Kita saling memberi semangat dan cinta. Perhatian tak pernah ketinggalan, sekalipun hanya untuk urusan memakai jas hujan saat rintik mulai turun. Kita tahu satu hal yang membuat kita rentan mengalami goncangan. Tapi kamu berkali-kali meyakinkan jika aku dan kamu bisa melaluinya.

Kini semuanya berbeda. Kamu menyerah dan pergi begitu saja. Kejujuranmu yang menyakitkan memang kuhargai. Tapi aku belum mampu menerimanya dengan segenap hati. Maafkan aku. Hati ini sangat senang mendengarmu tiba. Namun seketika hancur saat kau bersua tentang kita yang tak lagi bisa bersama.

1. Sikapmu yang Seketika Berubah, Membuatku Berfikir Seribu Kemungkinan yang Berbeda

Genggamanmu yang terakhir via http://diybusinessassociation.com

Maafkan aku yang belum menerima alasanmu pergi. Kamu datang dan memberikan senyum ceria untukku. Tanpa disadari, aku melalui hari-hari dengan sangat bahagia. Menantimu selalu jadi aktivitas yang membuatku ingin selalu tersenyum. Bahkan pesanmu saja membuatku ingin memutar waktu dengan sangat cepat.

Kau yang datang dengan tiba-tiba, membuatku berfikir banyak tentang datangnya pesan bahwa kamu menungguku di terminal. Kamu menyapaku tapi tak seperti biasanya. Tidak ada sapaan hangat dan cium punggung tangan lagi. Kamu seolah ingin segera berbicara denganku. Menyelesaikan urusan yang membuatmu rela terbang dan tinggal hanya semalam, bukan sehari.

Penasaran, kamu membuatku mati kutu saat menatapku sangat tajam. Kamu memegang kedua tanganku dengan erat. Lalu mulai berbicara kata cinta dan sayang. Sejurus kemudian, berakhir dengan ucapan yang membuatku tersentak dan enggan menatap matamu lagi.

Advertisement

Entah karena apa kamu membuatku diam tanpa satu kata sama sekali. Wajahku enggan kuletakkan di hadapanmu. Malu rasanya saat kamu tahu bahwa aku ingin sekali membawamu pergi dan mengajakmu untuk berbicara hal lain.

Tapi lagi-lagi kamu menahanku dan meyakinkan semua yang kamu katakan. Dan saat itulah, aku mulai merasa sakit yang teramat dalam.

2. Pertama Kalinya Kamu Membuatku Menangis dan Aku Enggan Meminta Perlindungan Darimu

Pertama kali kumenangis dan enggan kamu rangkul via http://wikia.nocookie.net

Kamu menyakitiku untuk yang pertama kalinya. Tak pernah aku merasa semarah dan sesedih ini sebelumnya. Kamu yang membuatku mampu beralih dari amarah menjadi tawa, kini malah membuatku semakin enggan menatap kedua matamu. Dia yang kamu jadikan alasan. Dia yang kamu bilang sudah mengisi hatimu jauh lebih lama daripada aku. Dia pula yang membuatku tidak mendapatkan cintamu seutuhnya.

Siapa dia? Aku tak mengenalnya. Aku hanya pernah mengetahuinya dan membuatku cemburu karena kamu menghubunginya. Kini kamu datang menyempatkan waktu dan membuang waktu kuliahmu untuk mengatakan ini kepadaku.

Kamu mengatakan bahwa kamu masih menyukainya melebihi rasa sayangmu untukku selama ini. Haruskah aku percaya? Sampai sekarang pun, aku tidak percaya itu adalah alasanmu rela dan tega meninggalkanku. Aku bukan anak kecil yang mudah kamu bodohi. Hingga masalah hatimu yang berpaling, aku saja tak tahu. Firasatku untuk hari itu memang sudah lama ada. Tapi tentang alasanmu, aku tak pernah berfikir itu. Firasat pun aku tak punya.

Kamu lelah? Kamu bosan? Kamu enggan bersamaku lagi?

Mungkin itu jawaban yang benar. Tapi kenapa dia yang kamu jadikan alasan? Sampai kamu rela menghubunginya di depanku, sesuai dengan permintaanku. Aku memberimu kesempatan berpikir sekali lagi, bahkan kamu menolaknya. Kamu seperti ingin segera melepasku dan mengejarnya.

3. Haruskah aku seegois dirimu? Enggan melepas dan terus berjuang lagi bersamamu?

Kamu pergi dengan keegoisanmu via https://secure.static.tumblr.com

Haruskah aku percaya dan melepasmu begitu saja? Terlebih setelah sekian lama aku mengenalmu, memulai rasa ini dari dasar, dan mencintaimu sampai sedalam ini. Aku bahkan sudah berjuang sangat jauh dan sangat keras. Kamu pun mengiyakan dan memberiku semangat. Kini haruskah kamu menyerah begitu saja? Melepaskanku dan memenuhi egomu mengejar cinta yang belum tentu menjadi milikmu?

Haruskah aku menjadi seegois dirimu? Enggan melepas dan terus berjuang lagi bersamamu?

Bahkan ini pun kamu tolak. Seolah tidak ada lagi alasan bagimu untuk tidak mengejarnya dan melepasku. Lalu aku bagaimana? Aku yang berjuang sekeras ini, harus menyerah? Tidak! Itu bukan sikapku. Aku memang tak lebih dari siapapun. Aku jauh dari keindahan yang bisa dia berikan untukmu. Aku bukan orang yang bisa selalu membuatmu tersenyum tanpa rasa jengah. Tapi satu yang aku punya. Aku pantang menyerah. Sulit untukku menyerah di saat aku sudah berjalan sejauh ini.

Mudah bagimu menyuruhku untuk berhenti dan mencari penggantimu yang lebih baik. Jika itu mudah bagiku, sudah kudapatkan sejak perasaan ini belum sepenuhnya untukmu. Lalu sekarang? Aku sudah meyakini perasaanku untukmu, untuk bertahan dan berjuang bersamamu. Sama seperti mimpi dan harapan kita di masa lalu.

4. Aku Memang Tak Lebih dari Siapapun. Tapi Kau Sudah Membuatku Jadi Pribadi yang Pantang Menyerah

Kau membuatku jadi pribadi yang kuat dan pantang menyerah via http://linzhouweb.com

Aku masih ingin memperjuangkan KITA. Aku masih ingin menjadi orang kuat dan tegar ,seperti yang selama ini kamu bentuk di dalam jiwaku. Aku bukan orang yang lebih dalam banyak hal. Tapi satu yang membuatku kuat sampai saat ini: tekadku untuk bertahan dan memperjuangkan apa yang kuinginkan jauh lebih kuat.

Kamu kini pergi menyisakan rasa penasaran dan tanda tanya besar. Aku terus bertanya dan tidak hentinya berdoa. Jujur aku belum mengikhlaskanmu dengan wanita yang akan menggantikanku. Bahkan jika alasanmu bukan itu, aku mungkin jauh lebih merelakanmu pergi.

5. Aku Tahu Kini Aku Telah Sendiri. Tapi Ijinkan Aku Berjuang untuk KITA Nantinya

Ijinkan aku berjuang untuk KITA kelak via http://wallpaperanimaltop.blogspot.com

Kini aku akan terus berjuang meskipun sendiri. Tanpa kamu, tanpa cintamu lagi. Semangat yang kamu berikan, menempaku menjadi pribadi yang kuat bertahan dalam jalan yang sulit untuk dilalui sendiri. Tapi aku yakin, aku bisa!

Entah sampai kapan, aku ingin menunggumu kembali melihatku. Sambil itu, aku akan terus mendoakan kesehatan, keselamatan, dan hatimu yang kini masih dibolak-balikkan Sang Maha Pencipta.

Ijinkan aku menunggumu sampai entah kapan. Bahkan sampai kamu melihatku berbeda dari saat ini. Tapi cukup kamu tahu, aku bukan orang yang mudah menyerah. Terlebih saat sudah berjuang cukup jauh dan merasakan sakit yang sangat dalam.