Seberapa sering kita merasa kecewa? Kecewa karena ditinggalkan orang yang kita sayang, kecewa karena tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, kecewa karena merasa diri sendiri tidak cukup baik, dan kecewa-kecewa lainnya. Karena semua orang, pasti pernah mengalami rasa ini kan?

Beberapa orang begitu sulit menghadapi rasa kecewa. Sampai rasanya dunia ini mau kiamat saja. Padahal, kalau kita bisa dengan baik menghadapinya, semuanya bisa jadi lebih baik, kok.

 

1. Keluarkan rasa kecewamu. Biarkan ia menunjukkan dirinya dengan jujur.

Yes, the first step is honesty. via http://www.mywordwizard.com

Izinkan dirimu untuk merasakan rasa kecewa itu. Jangan menyembunyikannya dengan mengurung diri dalam kamar. Berharap semua rasa itu bisa secepat kilat sembuh atau hilang. Jangan. Ambil waktu untuk duduk santai dengan semua emosi yang ada, pahami diri sendiri, tanpa merasa perlu mengubahnya dengan cepat. Sadari fakta bahwa sesakit apapun rasa yang sedang kamu alami, perasaan-perasaan itu akan menjadi sebuah keindahan tersendiri dalam hidup. Jangan melarikan diri atau menyembunyikannya.

Hal terbaik dari melakukan hal tersebut adalah bahwa kamu akan memberikan waktu yang cukup; untuk peduli dan memberi izin pada diri sendiri untuk merasakan apa yang sedang terjadi.

Kemudian, kamu akan lebih mudah untuk masuk ke langkah ke dua.

2. Ubah cara pandang.

Advertisement

Lihat dari sisi yang berbeda. via http://www.thesagegroup.com

Seringkali rasa kecewa muncul dari harapan kita yang tidak kita kendalikan. Sehingga, apa yang sebenarnya bisa kita hadapi dengan baik, menjadi buruk dan sulit.

Pernah enggak terbayang di benakmu bahwa orang yang membuatmu kecewa, bisa saja, sebenarnya tidak sadar telah mengecewakan kita? Pernah enggak terpikir olehmu bahwa dia yang membuat kamu kecewa sebenarnya juga sedang menghadapi masa yang sulit dalam hidupnya, sehingga apa yang dia lakukan jauh dari kriteria perilaku baik? Pernahkah?

Memberi jeda atau waktu pada diri sendiri seperti yang saya sebutkan di point satu, akan banyak membantu kita untuk berpikir dan tentu pada akhirnya juga membantu kita mendapatkan cara pandang yang lain, yang mampu membuat kita menjadi manusia pemaaf. Dan itu bukan untuk kebaikan siapapun, melainkan untuk kebaikan diri sendiri.

3. Ketahui isi hati (dan) diri sendiri.

Kenali untuk kemudian hadapi. via http://4.bp.blogspot.com

Rasa kecewa yang seseorang alami bisa mempengaruhi sampai ke dasar pribadinya. Oleh karena itu, bila kamu tidak tahu seperti apa isi hatimu, seperti apa dirimu sendiri, akan sangat sulit untuk menghadapinya (dan tentu mendukungnya) saat ia (dirimu sendiri) mengalami perasaan-perasaan negatif.

Pentingnya mengetahui diri sendiri dan juga isi hati adalah bahwa pada satu titik di mana kamu menghadapi hal-hal kurang menyenangkan, kamu selalu memiliki kebebasan untuk memilih apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, juga apa yang akan kamu lakukan ketika menghadapi hal kurang menyenangkan tersebut.

Kecewa boleh, sedih pun boleh. Tapi, jangan biarkan itu membuatmu menjadi orang lain, sosok yang jauh lebih buruk.

4. Belajar untuk menerima.

Penerimaan bisa mendatangkan kedamaian. via https://www.theodysseyonline.com

Adalah sebuah kewajaran bahwa ketika kita sadar sesuatu telah terjadi, kita justru tetap saja berusaha menolak bahwa hal tersebut sudah terjadi. Manusia.

Menghadapi rasa kecewa tak akan pernah bisa lepas dari rasa menerima. Terima fakta bahwa hal-hal seperti ini; kecewa, adalah salah satu bagian dalam hidup, yang mau tidak mau, pasti akan bisa terjadi lagi dan lagi, bukan hanya satu kali. Terima fakta bahwa kamu akan kecewa, orang-orang akan mengecewakanmu, dan mereka juga pasti akan kecewa.

Namun satu yang juga tidak boleh kamu lupa, rasa kecewa itu akan berlalu, seiring dengan diri yang mulai belajar untuk menerima. Karena manusia, seelok apapun rupanya, tidak akan pernah menjadi sosok yang sempurna.

5. Hiduplah seperti air. Mengalir dan tidak memaksa.

Air; mengalir dan tidak memaksa. via https://detikriau.org

Pernah dengar ada orang yang tidak pernah merasa cukup dan akhirnya selalu merasa tidak bahagia? Begitulah hidup.

Apa yang tidak ditakdirkan untuk kita, tidak akan sampai pada kita. Dan meskipun pernah sampai, ia hanya sekadar singgah, tak lama.

Setelah mengalami kekecewaan, sebaiknya hiduplah lebih baik dari sebelumnya. Berhenti memiliki keinginan yang jauh dari potensi yang dimiliki diri sendiri. Hiduplah seperti air, mengalir apa adanya, tidak memaksa. Karena memaksa adalah awal dari buah kecewa atas energi yang sia-sia.