Harapan, sebuah impian yang kunyatakan dengan kesepakatan hatiku. Aku memulainya dengan hal yang sederhana dan menggapainya  atas jerih payah yang kukorbankan. Kutuliskan impian kecil dari diriku sendiri untuk aku dan anak-anak di pinggir kali lima tahun mendatang.  Aku ingin kita yang pernah terkena keruhnya air sungai  sama-sama mencicipi kebahagiaan. Karena aku semua harus tahu bahwa keadaan bukanlah alasan untuk meyerah.

 

 

1. Semoga rekeningku bertambah atas jerih usahaku demi membanggakan keluarga dan anak-anak di pinggir kali.

Pixabay.com

Pixabay.com via http://pixabay.com

Harapanku semoga berbuah atas keluh kesah dan kerja keras yang aku korbankan. Mulai dari waktu, materi, dan tenaga. Bukan untuk sombong, bukan untuk membangun balok-balok bata. Hanya ingin membantu orang yang senasib denganku mersakan kebahagiaan.  Aku mulai merasakan bahwa betapa bangganya hati dan jiwa ketika melihat rekening bertambah jumlahnya. Ini saatnya aku melist apa saja yang akan kulakukan membahagiakan diriku dan orang yang aku cintai. Tunggu dulu, jangan lupa memberikan pada sedekah terlebih dahulu. 

2. Aku semakin fasih berbahasa inggris untuk mengajar sekelilingku yang belum tahu indahnya komunikasi

pixabay.com

pixabay.com via http://pixabay.com

Ketika aku dapat berkata-kata inggris dengan fasih. Tak usah harus berbahasa sebanyak mungkin hingga menguasai lima bahasa sekaligus. Aku hanya ingin menguasai bahasa inggris. Sebab, banyak orang berkata kamu cukup menguasai bahasa inggris untuk bisa membuka jendela dunia. Indahnya bahasa sebagai alat komunikasi ketika banyak orang melafalkannya. Semua itu akan kubagi pada anak-anak di sekelilingku yang juga sama, tergiur akan indahnya semangat berbahasa inggris. Mereka nantinya tak hanya tahu “what’s your name” atau "thank you" saja

3. 3.Sebuah angkot untuk mengantarkan anak-anak menimba ilmu

pixabay.com

pixabay.com via http://pixabay.com

Anak-anak itu terlalu lelah berjalan 1 sampai 2 km untuk menimba ilmu menabung masa depannya. Mereka tak banyak waktu untuk bermain. Pikiran mereka terlalu berat. Anak-anak yang lugu akan pikulan yang teramat tidak biasa. Tak usah kelelahan, mereka sebaiknya naik kendaraan angkot yang gratis untuk mereka tumpangi. Sebuah hasil jerih payahku untuk anak-anak yang dulu sepertiku. 

4. Angkot itu akan mengantarkan mereka ke tempat yang mereka impikan, Restoran cepat saji

pixabay.com

pixabay.com via http://pixabay.com

Suatu saat anak-anak itu tidak hanya mengenal ayam berbalut tepung yang gurih yang sering mereka lihat di televisi. Seperti dulu yang aku impikan. Restoran cepat saji mulai dari ice cream, kentang yang banyak akan mereka makan. Dan kemudian memakan ayam sepuasnya sampai belepotan sambal. Tak peduli apa kata orang walaupun disebut kampungan tetapi kesehajaan tetap menjadi yang utama.

5. Semoga dengan kesuksesanku anak-anak pinggir kali bisa bermain di Waterblaster

pixabay.com

pixabay.com via http://pixabay.com

Tak apa kalau hanya sebuah angkot. Tapi bisa menumpang anak-anak yang lebih banyak. Ketika dulu aku merasakan perihnya bermain di antara keruhnya sungai dan baunya sampah. Mereka juga harus menikmati bermain di waterblaster dan menikmati kebersamaan seperti apa yang mereka idamkan di televisi. Mereka pasti keasyikan dengan seluncuran yang sangat panjang. Mereka juga akan tercengang mandi dengan air yang sangat jernih yang tidak membuat air mata mereka keruh.