Sungguh bersyukur bisa merasakan indahnya kehidupan di kampus saat sebagian anak muda lainnya justru harus berjuang untuk menyambung hidup. Kami yang bisa kuliah di universitas berkualitas punya kesempatan untuk memiliki penghidupan yang lebih baik di masa depan.

Sebagai anak kuliahan, biasanya anak kost selalu jadi simbol kesengsaraan yang melambangkan kerasnya hidup di bangku kuliah. Kehabisan uang bulanan hingga belum bayar uang kost dan tidak bisa makan dengan layak kerap kali ditonjolkan sebagai sisi tragis hidup anak kost.

Tapi tahukah kalau kami yang tidak jadi anak kost juga mengalami 7 hal yang tak kalah menyedihkan ini?

Rumah yang tidak terlalu jauh dari kawasan Jabodetabek atau alasan tidak betah di tempat kost akhirnya membawa kami untuk merasakan 7 hal ini :

 

1. Kemacetan Itu Bagai Sahabat.

Yang setia menemani kami di waktu pulang pergi

Yang setia menemani kami di waktu pulang pergi via http://Kompasiana.com

Kalau ditanya siapa sahabat setia bagi anak kuliahan yang tidak nge-kost, tentu saja kemacetan adalah jawabannya. Menghabiskan waktu selama 1 hingga 3 jam bersama kemacetan lalu lintas membuat kami merasa begitu penat dan lelah.

Penat dan lelah, tapi perjuangan di bangku kuliah harus tetap dilanjutkan !

Saking akrabnya dengan kemacetan, kami bisa bersandar di bahunya sambil asyik mendengarkan musik dari headset atau sekadar tidur demi lari sejenak dari rasa lelah yang menghimpit. Oh ibukota, semoga kemacetan yang setia mengikutimu akan segera pergi, ya.

2. Uang Jajan Harian Selalu Menguntungkan? Tidak Juga!

Risiko uang jajan tak cukup juga jadi rutinitas kami

Risiko uang jajan tak cukup juga jadi rutinitas kami via http://Citizen6.liputan6.com

Kalau anak kost membayangkan kehidupan kami yang sejahtera kala menerima uang jajan harian dengan raut muka sumringah, pada kenyataan hari-hari kami tidak seindah itu. Dari luar, kami tampak tidak pernah kehabisan uang jajan karena ayah ibu memberikannya setiap hari.

Tetapi ternyata kami tak kuasa untuk meminta uang jajan tambahan demi cetak print dan fotokopi tugas kuliah. Beban mereka di rumah sudah terlalu berat untuk ditambah lagi dengan uang tambahan bagi kami. Jadi, kecermatan kami untuk mengolah uang jajan harian adalah jawabannya. Tak jarang kami rela tidak bersantap siang, asalkan fotokopi untuk UAS di hari esok sudah tersimpan rapi di dalam tas.

3. Kala Dosen Berhalangan Hadir, Itu Jadi Pukulan Berat.

Sedihnya kalau bapak ibu dosen tak hadir di kelas

Sedihnya kalau bapak ibu dosen tak hadir di kelas via http://Randiaz.blogspot.com

Sudah menyiapkan waktu 1 hingga 2 jam untuk berangkat dari rumah kemudian bergaul akrab dengan kemacetan lalu lintas, tetapi setelah tiba di kelas ada berita kalau dosen mata kuliah berhalangan hadir.

Hei, itu jadi pukulan berat lho !

Waktu, tenaga dan uang jajan kami hari ini harus terbuang sia-sia hanya demi kabar terbaru kalau dosen berhalangan hadir di kelas.

Dear bapak, ibu, miss atau apapun sapaan yang ditujukan pada kalian, mohon agar di lain waktu kalian bisa memberitahukan ketidakhadiran kalian sedikitnya 1 hingga 2 jam sebelum mata kuliah dimulai. Agar kami yang belum bersiap-siap ke kampus bisa membatalkan perjalanan untuk kemudian belajar bersantai di rumah bersama keluarga.

4. Waktu 24 Jam yang Kami Miliki Seakan Tak Cukup untuk Kegiatan Kampus.

Bagi kami waktu berlalu begitu cepat

Bagi kami waktu berlalu begitu cepat via http://Thequotepedia.com

Ketika anak kost bisa meluangkan waktu senggangnya untuk menjalani kegiatan organisasi, kami hanya bisa menatap dengan rasa iri di dalam hati. Mereka mudah meluangkan waktu selama 2 hingga 3 jam setelah kuliah untuk bersosialisasi dengan kehidupan kampus yang tak melulu soal mata kuliah.

Sedangkan jika kami mengikuti kegiatan seperti yang mereka lakukan, mungkin kami akan sampai di rumah menjelang tengah malam. Tapi tidaklah mengapa karena itu sudah jadi pilihan hidup kami. Kami yang ingin menuntut ilmu sembari tetap meluangkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga.

5. Panas Terik Hujan Badai, Kami Lalui Bersama.

Semangat kami tak lekang oleh panas dan hujan

Semangat kami tak lekang oleh panas dan hujan via http://Photography.tutsplus.com

Global warming membuat kondisi cuaca akhir-akhir ini sangat labil. Ketika siang ini panas terik, tidak ada yang menyangka kalau setengah jam kemudian hujan badai bisa menerpa kawasan kampus.

Atas nama pendidikan yang sedang kami selesaikan, panas terik dan hujan badai tidak membuat kami gentar untuk berangkat kuliah. Disaat anak kost bisa berlindung nyaman dibalik selimut karena mata kuliah baru dimulai 2 jam lagi, kami sudah bersiap keluar dari rumah untuk melawan kejamnya cuaca yang tidak bersahabat.

Takdir Tuhan adalah hal lumrah yang membuat cuaca jadi berubah-ubah. Namun kami juga akan berjuang, mengukir nasib kami sendiri supaya bisa menamatkan kuliah dengan baik.

6. Kenyataan Pahit Tentang Nilai Jelek Di Akhir Semester.

Tak ingin rasanya nilai jelek jadi batu sandungan

Tak ingin rasanya nilai jelek jadi batu sandungan via http://Avttdm.com

Anak-anak kost masih bisa menyembunyikan nilainya yang jelek dengan cara mengurungkan niat untuk pulang ke rumah di waktu liburan. Sementara kami, setiap hari kami selalu dihadapkan dengan tatapan penuh harap dari orang tua. Harapan yang terpancar dari mereka menginginkan kami untuk cepat lulus dengan nilai yang memuaskan.

Mereka yang sudah merelakan sebagian hartanya untuk pendidikan kami sering bertanya tentang nilai-nilai yang kami dapatkan tiap semester. Jika hanya nilai jelek yang bisa kami berikan sebagai balasan atas kasih sayang mereka, kami harus siap-siap melihat raut senyum yang berubah jadi guratan kekecewaan di wajah mereka yang mulai menua.

7. Kami Masih Merelakan Waktu untuk Menunggumu, Pak, Bu!

Akan selalu ada pelangi setelah badai mereda

Akan selalu ada pelangi setelah badai mereda via http://Lukmanrmd.wordpress.com

Kelegaan mulai menyeruak di hati kala pendidikan di perguruan tinggi akan rampung sesaat lagi. Namun untuk menyelesaikan hal yang sudah kami mulai beberapa tahun yang lalu, masih ada waktu yang harus kami luangkan untuk menunggumu, bapak atau ibu dosen pembimbing.

Disaat anak kost bisa pulang terlebih dahulu untuk bersantai di kamar kost, kami masih setia menunggumu di sini agar bisa langsung bertatap muka demi skripsi.

Tidak masalah bagi kami jika harus meluangkan waktu dari pukul 8 pagi hinga 5 sore hanya untuk berbicara selama 5 menit denganmu. Namun satu hal yang jadi harapan kami, izinkan kami membayar semua pengorbanan waktu, materi dan tenaga selama 4 tahun ini dengan hasil skripsi yang gemilang. Supaya tidak ada lagi penyesalan di hati kami setelah meninggalkan kampus ini.

 

Setiap orang bebas menjalani hidup sesuai dengan pilihannya masing-masing. Ini sudah tentu jadi takdir hidup kami yang tidak memilih nge-kost di sekitar lokasi kuliah. Harapan kami tidak pernah muluk-muluk. Karena kami hanya ingin meraih keberhasilan setelah merelakan sebagian waktu dan tenaga kami.

Untuk kamu yang bukan anak kost, mari semangat menyelesaikan kuliah dan meraih cita-cita yang selama ini kamu impikan. Sedangkan kamu yang nge-kost, kamu juga harus semangat meraih cita-cita dan jangan mau kalah dengan mereka yang tidak nge-kost, ya !