Kepada sebuah nama. Ketika kamu membaca tulisan ini, aku rasa jantungku akan lebih kuat berdetak. Mungkin kamu pun akan setengah berdecak. Atau mungkin, kedekatan kita akan mulai berjarak.

Aku masih mengingat jelas saat percakapan awal kita untuk pertama kalinya terjadi. Percakapan awal yang akhirnya berlanjut hangat, hingga kita tak sadar telah begitu lekat. 

Sesungguhnya aku tidak mengerti, rencana apa yang kiranya tengah dirancang oleh Tuhan ketika Ia mempertemukanku denganmu. Yang aku tahu, sejak mata ini menangkap sosokmu, hati ini seolah ingin menjelaskan sebuah rasa. Sebuah rasa yang sementara kuartikan hanya kekaguman semata.

1. Sejak awal pertemuan, kamu sudah pandai menarik perhatian. Tanpa sadar, aku mulai ingin mengenalmu lebih dalam.

Aku mulai ingin mengenalmu lebih dalam via http://google.com

Aku tidak sedang bergurau, diam-diam semua gerak-gerik konyolmu selalu aku rekam dalam ingatan.
Setiap hal kecil tentang dirimu tak ada yang ingin aku lewatkan.

Bahkan, aku seolah ingin meloncat girang ketika tahu bahwa kamu sangat menyukai frappuccino dan sangat membenci aroma bawang. Ingin rasanya aku menertawakan kebodohanku sendiri yang ingin terlihat istimewa di matamu hanya karena mengetahui hal ini. Itu bukanlah sesuatu yang bisa kau jadikan alasan untuk menganggapku lebih dari sekadar teman, kan?

2. Sang waktu memainkan perannya, perlahan tapi pasti kau dan aku kian dekat tapi entah sebagai apa.

Kehangatan itu hadir tanpa basa-basi. via http://zongszone.blogspot.com

Advertisement

Kegiatan perkuliahan memegang andil akan kedekatan kita. Aku bukan lagi penganggum rahasia yang tak memiliki nyali untuk sekadar menyapa. Dekat dengan sosokmu bukan lagi sesuatu yang langka. Berbalas pesan singkat sudah kita lakoni tiap saat.

Kini, segala hal tentang keseharianmu tak pernah ada yang kualphakan. Kamu pun mulai tak canggung lagi untuk berbagi cerita hingga aku nyaris hafal. Banyak yang mengira kamu dan aku telah menjadi kita. Namun, kamu selalu berlindung dibalik kedok sahabat jika ada yang bertanya mengenai rasa.

3. Sebentuk perhatianmu membuatku berani menerka bahwa kamu sebenarnya memiliki rasa yang serupa.

Apakah kau memiliki rasa yang sama? via http://sryulfavirgo.blogspot.com

Bertubi-tubi kamu menghujaniku dengan perhatian yang tak wajar. Mulai dari menawari ajakan pulang, memberikanku jaket, rela kedinginan ketika kita terjebak hujan, sampai memaksa membelikanku panganan ketika tahu bahwa aku belum sempat makan. Kamu pun tak segan menggandeng tanganku saat kita sedang berjalan.

Kamu membuatku bertanya-tanya, seperti inikah sesungguhnya sebuah persahabatan? Mengapa aku merasa semua ini berlebihan? Bisakah kau jelaskan, apakah semua sahabatmu memang kau perlakukan demikian?

4. Aku bahkan tidak mengerti, mengapa nafasku terasa sesak ketika indera penglihatanku tak mampu mendapatimu.

Ada rasa kehilangan yang tiba-tiba datang via https://www.pinterest.com

Ada kecemasan yang tidak ku mengerti saat aku tak menemukan sosokmu seharian di antara padatnya rutinitas perkuliahan. Ada kecemburuan yang tidak ku pahami saat melihatmu asik bercengkrama dengan wanita lain yang tidak ku kenal.

Berkali-kali hati ini seolah muak dan ingin mati rasa. Tapi, apalah daya…

Sedekat apapun jarak tak membuatku memiliki hak pembelaan atas sakit hati yang kau guratkan, atau air mata yang kau sebabkan. Tak sadarkah kamu sedang menyiksaku secara perlahan?

Bagaimana bisa aku begitu takut kehilangan seseorang yang bahkan aku tidak tahu pasti kepada siapa hatinya ia tambatkan. Perasaan kagumku seolah menjelma menjadi cinta dengan lancangnya. Lalu, salahkah?

5. Aku hanya manusia biasa, tak bisa memilih harus dengan siapa aku jatuh cinta. Rasa ini pun semakin membuatku serba salah.

Aku berharap kamu mengerti. via http://asianwiki.com

Kita sudah terlalu dekat untuk dikatakan sahabat, disebut kekasihpun kurasa belum pantas. Kamu memang pernah mengakui adanya rasa antara kita, namun tak pernah sekalipun dirimu berkoar menyatakan cinta.

Semua hal yang kita lakukan bersama membuat rasa itu tumbuh semakin liar, dan aku takut tak mampu mengendalikan. Entah apa yang membuatmu begitu tega membiarkanku menerka sendirian tanpa ikut turun tangan untuk menjabarkan. Ketahuilah aku tak ingin salah dalam menafsirkannya.

Kepada sebuah nama,
Kumohon buatlah semua menjadi lebih sederhana.
Jangan menumbuhkan cinta jika memang tidak ada cinta.

Dariku,
Yang (masih) menjadi pengagummu