Haters adalah Fans Terbaik, Teman adalah Petualangan, Sahabat adalah Tempat Istirahat. Namun, Keluarga (Ayah, Bunda, Kakak, Adik, Suami, Isteri, Anak) adalah Rumah Sesungguhnya.

 

1. Mengejek Jomblo

banyak pilihan

banyak pilihan via http://google.com

Entah kenapa, sampai saat ini, detik ini saya menulis. Jomblo itu terlihat menjijikan. Apa salahnya seseorang fokus akan kehidupannya? Mereka punya keluarga, punya sahabat, punya cita-cita, punya hobi, dsb. Mereka bahagia dengan keadaannya. Ngapain kamu tiba-tiba masuk dan mengusik kehidupan dia? Kamu pikir, kamu gak bakalan putus? Kamu pikir pacar kamu setia? Kamu pikir, kamu berharga buat pacar kamu? Kamu pikir, kamu bener-bener punya pacar?

Kamu pikir, pacar kamu beneran bahagia sama kamu?  Kamu pikir kamu bahagia?

2. Sering (Keseringan) Terlalu Sering Posting Kehidupan di Dunia Maya

jalan-jalan

jalan-jalan via http://google.com

Kalau kamu memang berniat menyebarkan kebahagiaan atas apa yang kamu capai. Ajak orang-orang di sekitar kamu. Sesekali pajang boleh, sering juga boleh, tapi usahakan ajak mereka dikehidupan nyata. Biar tahu betapa bahagia dan susah kamu sesungguhnya. Bukan cuma kamu ingin di-follow banyak orang tapi gak punya teman di dunia nyata.

Harusnya, kamu bisa kasih info supaya orang-orang bisa merasakan kebahagiaan yang kamu rasakan.

3. Pamer Kemesraan

Banyak persepsi atas mem-posting hal-hal bersama pasangan. Ada yang tujuannya membagikan atau menginfokan (mau menikah, lagi jalan-jalan bareng, atau apa), ada yang ingin meyakinkan kepasangannya kalau dia nggak punya seligkuhan di dunia maya, ada yang pamer pada mantan kalau punya pacar baru, ada yang sengaja cari perhatian supaya kelihatan “gue bahagia loh udah punya pacar”. Orang yang terakhir pantas mendapat komentar, “BODO AMAT, BAHLUL!”. Orang-orang bukan sirik malahan jijik. Tau kan, bukan melihat hal itu secara romantis malah kelihatan jijik. Hoekk!!

4. Sahabat Datang Jika Ada Perlunya Saja

menyindir

menyindir via http://was-was.com

Nah, entah akun-akun kamfret dari mana, sering banget ada kuote, “Katanya sahabat, tapi datang pas ada maunya doank”. Saya mau kasih tahu ke kamu.

“Semua orang itu punya kehidupan masing-masing!”

Sahabatmu itu punya keluarga, punya hobi, punya teman lain. Kalau dia gak ngabarin saat dia sedih, itu karena dia berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa merepotkan kamu. Kalau dia datang saat kusut, itu karena dia percaya sama kamu kalau kamu bisa kasih solusi/kamu bisa menenangkan dia. Kalau kamu lagi sedih, coba usahakan cari jalan keluar, silakan cerita ke sahabat karena itu hak, tapi jangan membebankan dia. Kamu yang buat masalah, kamu harus belajar tanggung jawab. Kecuali masalah ini kamu buat bareng.

Kalau dia senang-senang sama orang lain tapi gak ajak kamu. Itu karena dia tau, kamu (mungkin) gak akan nyaman kalau diposisi itu. Kalau memang dia akan melakukan hal yang sama-sama kalian suka. Dia juga pasti akan ajak kamu, kalaupun dia lupa, dia akan cari waktu lain untuk bisa ajak kamu.

Bukan salah sahabat kamu, itu salah kamu yang belum siap menjalani kehidupan. Masuk lagi saja ke rahim, jika hidup hanya ingin bergantung.

5. Membandingkan Kehidupan Orang Lain

Sudah banyak, banyak, banyak orang Indonesia yang cerdas. Mereka hanya fokus pada sifat dan sikap positif orang lain. Tapi, kenapa kamu masih bodoh? Buat apa kamu stalking orang lain hanya untuk menjatuhkan dia? Takut tersaingi? Yah mapun, kamu tuh memang sudah jauh di bawah dia. Tolong deh, setiap orang menjalankan kehidupannya dengan caranya sendiri. Mereka gak salah, lingkungan dan pola pikir yang membentuk mereka, dan itu juga bukan salah mereka. Mereka juga hanya menampilkan apa yang ingin mereka tampilkan. Bukan kehidupan mereka yang sesungguhnya. Jadi, biasa aja. Kepo ke orang? WAJIB! Asalkan hal itu positif, setidaknya memberikan inspirasi buat kamu.

Kalau cuma mau ribet, mendingan kamu terjun ke dasar laut. Toh gak ada yang peduli sama kamu.