Kamu yang kemarin akan mabuk hanya dengan segelas air mineral karena ditemani dia, yang kamu elu-elukan setiap pagi saat bangun tidur dan malam menjelang tidurmu. Padahal, hanya air mineral! Anggap saja pesonanya telah ikut menjadi ramuan yang kamu teguk, lalu mematikan hatimu. Ups, melenakan sepertinya lebih manis.

 

1. Selama lengkungan bibirmu berasal dari hati, ia pun akan sampai ke hati.

senyum dari hati

senyum dari hati via https://www.google.com

Sayangnya, setelah pesonanya memudar karena direnggut awan pekat atau tanah-tanah bumi telah memeluknya erat lebih dulu, air mineral itu kembali menjadi air pada umumnya. Hambar. Kamu pun akan segera bosan dengan kopi, teh, soft drink, atau bir sekalipun. Mereka ikut-ikut saja dengan keadaanmu yang hambar.

Semua hal manis mungkin akan ter-reset kembali, menjadi rasa normal yang persis ketika kamu belum mengenalnya. Atau rasa yang lebih menyebalkan dari hambar: masam dan pahit. Jangan salah kalau wajah yang dulu manis seketika cepat menua. Berhentilah memasang wajah masam, apalagi pahit. Manusia saja tak akan senang, apalagi dunia yang menjadi penonton abadimu.

Sekali-kali, meski ia telah tiada tetaplah menunjukkan ekspresi terhebat dan senyum termanismu. Ada beberapa orang yang akan menilai senyummu, apakah itu manis atau tidak. Itu tak apa dan tak jadi masalah. Selama lengkungan bibirmu berasal dari hati, ia pun akan sampai ke hati.

2. Sekonyong-konyong makhluk ilusi di kepalamu yang awalnya dirakit indah, berakhir horor.

berakhir horor.

berakhir horor. via http://magadanpravda.ru

Mungkin setelah kepergiannya, perasaan sepi menggerogoti hatimu. Kamu mulai senang membentuk wujud dirinya dalam kepalamu. Kalau wujud aslinya pemarah dan kasar, kamu akan merakitnya seramah dan selembut mungkin. Ini demi membahagiakan dirimu yang sedang kesepian. Tahu-tahu makhluk ilusi itu malah menasehatimu balik:

Hey, let me go! I’m not yours anymore.

Sekonyong-konyong makhluk ilusimu yang awalnya dirakit indah, berakhir horor. Kamu tak lagi mau mengingatnya dan ingin melupakan dengan cara terlicik: menanam mindset dan mengingat keburukannya. Ah, benar-benar horor! Sayang sekali, dulu kamu telah rela mati-matian menerima segala kekurangannya. Sekarang kamu manusia kesepian yang berkawan lawan. Lawan hatimu.

3. Kamu mulai senang mematut diri di depan cermin.

senang bercermin

senang bercermin via https://www.google.com

Setelah kesepian yang tak berkesudahan itu, kamu mulai ragu dengan dirimu sendiri. Kamu mulai senang mematut diri di depan cermin. Mencari-cari kerutan atau bekas jerawat yang mungkin masih senang bermukim di wajahmu. Kamu seolah-olah ingin menandingi nenek sihir di Rapunzel. Atau jika sepimu sudah akut, kadang menyalahkan Tuhan menjadi kegiatan rutin.

“Siapakah wanita tercantik di dunia ini?”

“Siapakah pria tertampan di dunia ini?”

“Mengapa pesonaku tak laku-laku di depan mereka?”

Pertanyaan-pertanyaan aneh pun kadang berdatangan dari mereka yang telah memiliki pasangan lebih dulu. Padahal bagimu, wajahnya tak lebih cantik dan gagah darimu. Jadi jangan heran ketika pertanyaan intimidatif ini muncul:

“Rasanya jones (jomblo ngenes) gimana bro? Masih betah juga lo ya?”

“Buruan deh sis! Kan asik kalo ke mall ada yang anterin. Minimal dibeliin make up lah ya.”

Suara cekikikan itu menyaingi tawa Mak Lampir. Bahkan kalau benar-benar sedang kesepian, suara itu akan naik dua oktaf di telingamu. Akan ada pementasan musik di mana kamu berada di tengah-tengah panggung dengan backsound Fur Elise milik Beethoven. Tuts-tuts piano itu akan semakin menikam hatimu. Lalu horor dan sepi menjadi teman yang paling kompak.

Bagimu, horor menjadi kata yang bermakna luas. Tiap kata yang berkaitan dengan cinta, kasih, pernikahan, terlebih-lebih lagi single atau jomblo akan menjadi lebih dari sekadar hantu. Sangat menakutkan!

4. Kamu kembali memulai obrolan baru atau mengidentifikasi teman-teman lama yang luput dari perhatian.

kamu mulai membuka diri

kamu mulai membuka diri via https://www.google.com

Untuk menghindari itu atau sekadar menabung jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan temanmu, kamu mulai membuka diri. Mengaktifkan kembali akun-akunmu di media sosial, mulai gemar membaca trik jitu mendapatkan jodoh dunia akhirat, atau sekadar memasang status dan mengumumkan bahwa kamu sedang kesepian dan butuh teman.

Kamu akan kembali memulai obrolan atau mengidentifikasi teman lamamu yang luput dari perhatian. Kalau sudah bosan mencari dan bayang-bayang ejekan teman-temanmu juga sudah menari, kamu akan menarik kesimpulan:

“Yang ini aja deh. Tampangnya lumayan. Gapapa daripada didesak terus!”  

“Ga secerdas anu sih, tapi cantiknya syalalala sekali.”

Standarmu yang dulunya di atas rata-rata, menuruni tangga, lalu stuck pada mindset baru yang kamu buat sendiri di tengah rasa sepi. Karena efek kesepian itu pula, kamu mulai menafikkan ketulusan mencintai hanya karena “kamu butuh teman” saat itu. Kamu juga mulai ga sabaran. Mulai rakus dengan semua yang ada di depanmu.

Ceritanya balas dendam, membalas kesepianmu dan olok-olokan temanmu dengan memamerkan bahwa kamu juga bisa. Kamu juga laku meski standarnya tak se-Internasional dulu.

5. Selagi mencari, kenapa mau setengah-setengah?

Padahal jika saja kamu berusaha lebih gigih, kamu hanya perlu merakit dirimu sekeren dulu untuk standar yang kamu mau. Selagi mencari, kenapa harus setengah-setengah? Ia yang kamu temukan adalah refleksi dirimu. Jadi, kamu juga tak boleh setengah-setengah. Jangan nanggung!

Hingga tulisan ini sampai pada matamu, aku pun masih juga meraba-raba quotes ini:

“Never lower your standards just because you are lonely.”


Semoga sampai juga pada hatimu ya.

***

Guys, do you love person when you’re ready or when you’re lonely?